Begini Kronologis Dugaan Penganiayaan Staf oleh Camat PBL

Begini Kronologis Dugaan Penganiayaan Staf oleh Camat PBL

0
39

Kalabahi, Semarak.News | Camat Pantar Barat Laut (PBL) – Alor, John Erens Sau Sabu, S Pi ditetapkan tersangka oleh penyidik Serse Polres Alor. Dia diduga melakukan tindakan penganiayaan terhadap Rafael Ahaloni, staf kecamatan PBL. Berikut kronologis lengkap.

Saat itu, tepat di hari Selasa, 13 Agustus 2019, Rafael hendak ke kota Kalabahi dengan menggunakan transportasi laut dari pelabuhan Marica. Tujuannya ingin menjenguk keluarganya. Keberangkatan Rafael tanpa memberitahukan Camat Erens Sau Sabu selaku pimpinan. Ketika itu Camat Erens juga mengantar istrinya ke pelabuhan selanjutnya berangkat menuju kota Kalabahi.

“Saya sempat bertemu dia (Rafael) di pelabuhan tapi tidak beritahu saya alasan apa ke Kalabahi. Hanya ada kalimat mama sudah diatas perahu motor? Dan saya menjawab ya. Lalu saya bergegas kembali rumah jabatan untuk persiapan ke kantor, karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 Wita. Saya harus masuk ke kantor,” cerita Camat Erens Sau Sabu saat jumpa pers bersama wartawan di Kalabahi, (29/11).

Setibanya di kantor, lanjut Erens, dirinya bertanya keberadaan Rafael kepada staf lainnya bernama Abner Alokawati. Saat itu Abner yang sedang mengecat tembok menjawab tidak tahu. “Abner bilang tidak tahu. Lalu saya tanya lagi, Rafael buat apa di pelabuhan. Abner jawab mungkin dia (Rafael) mau ke Kalabahi, tadi malam istrinya telpon,” ujar Erens.

Saat itu, Camat menampar bagi pet topi di kepala satu kali dan bagian pipi kiri lagi satu kali. “Saya pukul Abner di kepala, tapi karena dia pakai topi jadi tangan kena pet topi. Kedua kali saya pukul di pipi kiri. Ya saya pukul dia karena dia bohongi saya selaku pimpinannya, padahal mereka dua tinggal di satu kamar,” cerita Camat Erens.

Ia menceritakan, saat itu nomor hp Rafael yang dihubungi juga tidak aktif. Dirinya perintahkan seorang staf Aldy Koliham ke pelabuhan Marica dengan maksud membatalkan keberangkatan Rafael. “Saya batalkan dia berangkat ke Kalabahi karena pertama, dia baru kembali dari Kalabahi 3-4 hari lalu. Kedua, ada banyak pekerjaan yang harus kami kerjakan menyongsong HUT RI ke 74 yang tinggal empat hari lagi,” jelasnya.

Rafael tidak mengindahkan perintah Camat. Dia tetap melanjutkan keberangkatannya tujuan Kalabahi. Ia kemudian meminta bantuan body jolor (perahu motor kecil) milik warga untuk jemput Rafael diatas perahu motor. “Jadi pada waktu jaraknya sekitar 10 meter dari bibir pantai dengan kedalaman kira-kira 1,5 meter, saya beri isyarat kepada Rafael untuk berenang. Dia pun melakukan apa yang saya perintahkan,” kata Camat Erens dalam jumpa pers yang didampingi seorang staf Rony Kaminukan.

Karena saking emosi dengan perbuatan Rafael yang sudah berulangkali tidak mengindahkan perintah pimpinan, Camat Erens menampar pipi Rafael sebanyak 3 kali. “Saya terpaksa pukul dia dengan maksud pembinaan dan bukan bermaksud penganiayaan. Apalagi perbuatan dia saat itu saya terpaksa tidak masuk kantor,” jelas Erens.

Setiba di depan rumah jabatan kepala desa Beongonong, lanjut Erens, dirinya menyuruh Rafael lari. “Saya suruh dia lari tapi dia tidak lari jadi kami dua jalan kaki sampai di Pasar Beongonong yang jaraknya sekitar 30-40 meter dari rumah jabatan kepala desa. Disitu saya minta Aldy Koliham pinjam sepeda motor desa untuk antar Rafael ke Marica,” jelasnya.

Camat Erens menyatakan, isi postingan media sosial Facebook atas nama Lomboan Djahamau tidak sesuai dengan kronologis kejadian sebenarnya. “Kalau dipostingan itu berlebihan. Tidak sesuai dengan fakta sebenarnya,” tandasnya.

Ia menyebut, segala upaya damai sudah dilakukan pihaknya bersama keluarga tetapi korban Rafael Ahaloni tetap bersikeras melakukan proses hukum. “Saya tetap menghormati proses hukum yang sudah jalan. Apapun hasilnya akhirnya nanti saya terima,” kata Camat Erens.

Dia kembali menyebut tindakan yang dilakukan sebagai bentuk pembinaan terhadap staf yang tidak disiplin baik dalam kerja juga terkait kehadiran. “Saya kasihan dia. Menurut saya mungkin saya pukul dia jauh lebih baik daripada dia harus kehilangan nasi satu piring. Saya sayang dia makanya saya pukul dia. Dia jarang masuk kantor juga. Nah karena itu saya juga sudah menyerahkan daftar hadir ke BKD untuk dilakukan proses menindakkan sesuai ketentuan,” tegasnya.

“Coba bayangkan. Saat itu, kami semua pegawai kecamatan yang berjumlah 20 lebih orang, tapi yang hadir hanya 7 orang, siapapun pimpinan pasti timbul amarah. Bagaimana kami harus persiapan menyongsong HUT RI,” tandasnya.

Camat Erens menyampaikan permohonan maaf atas tindakan yang ia lakukan. “Secara pribadi saya sampaikan permohonan maaf dan sekali lagi apa yang saya lakukan adalah pembinaan saya terhadap staf. Memang saya juga tidak berpikir bahwa tindakan yang saya lakukan akan berujung pada pidana,” ungkapnya.

Seperti dilansir Tribuanapos.net Polisi tetapkan Camat PBL John Erens Sau Sabu sebagai tersangka. Camat Erens diduga menganiaya stafnya Rafael Ahaloni dan Abner Alokawati.

“Camat Pantar Barat Laut kita sudah tetapkan tersangka,” kata Kasat Reskrim Polres Alor Iptu Yohanis Wila Mira, S.Sos, saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (25/11/2019).

Menurutnya, penetapan tersangka tersebut kaitannya dengan kasus dugaan penganiayaan terhadap stafnya bernama Rafael Ahaloni dan Abner Alokawati. Kejadian tersebut terjadi sekitar bulan Agustus 2019 di Pantar Barat Laut. “Itu dalam kasus penganiayaan dua bawahannya, stafnya,” lanjut Kasat yang baru bertugas di Alor itu.

Yohanis mengatakan, berkas tersangka Camat John Erens saat ini sedang dirampungkan penyidik kepolisian Polsek Pantar Barat. Dia memastikan, bulan Desember 2019 berkas Camat Erens akan diserahkan ke Kejaksaan, selanjutnya di proses untuk disidangkan di PN Kalabahi.

“Untuk penyerahan berkasnya (ke kejaksaan) mungkin nanti bulan Desember (2019). Ini kan penanganannya di Polsek Pantar Barat. Jadi kita tunggu rekan-rekan di Polsek untuk menyelesaikan sampai tuntas,” ujarnya.

Kasat Yohanis memastikan, untuk kasus ini tidak akan ada intervensi politik dari siapapun. Ia tegaskan, kasus tersebut murni masalah hukum dan akan diproses hingga disidangkan di Pengadilan Negeri Kalabahi.

“Dalam penegakan hukum semua sama antara pejabat dan masyarakat. Kami pastikan tidak ada intervensi dari siapapun. Berkas tetap kita kirim bulan Desember ini. Kita akan tetap proses tuntas,” pungkasnya.

Tersangka terancam Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang Penganiayaan, dengan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Untuk diketahui, Camat John Erens Sau Sabu diduga memukul atau menganiayai stafnya, Rafael Ahaloni dan Abner Alokawati. Penyebabnya, kedua stafnya itu dianggap mangkir dari tugas.

Sekda Alor Hopni Bukang, SH sempat turun tangan fasilitasi perdamaian di kantornya, namun korban dan keluarganya tetap ngotot proses hukum. *(Joka,DM)

Keterangan Foto: Camat Pantar Barat Laut John Erens Sau Sabu, S.Pi melakukan jumpa pers bersama wartawan di Kalabahi

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY