99% Ekspor NTB di Dominasi Konsentrat Tembaga, BPS: Ini Iklim yang Tidak Sehat!

Pers Release BPS 1 Maret 2018 (Sumber: hariannusa.com)

Mataram, Semarak.news – Tercatat dalam database BPS selama Januari 2018, perolehan dari ekspor konsentrat tembaga adalah senilai US$ 68.785.020 (99,34%). Sementara 0,66% sisanya didapatkan dari komoditas pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, dan kerajinan tangan. Ketimpangan ini menjadi sorotan pihak BPS yang menilai iklim ekspor di NTB tidak sehat.

“Ini tidak sehat. Coba lihat yang dari konsentrat tembaga sampai 99% sendiri.” terang Staf Humas BPS Provinsi NTB, Yudis (2/3/2018).

Pihaknya menjelaskan jika melihat fakta tersebut, penerimaan ekspor justru hanya dinikmati segelintir orang saja, dalam hal ini perusahaan tambang. Berbeda jika ekspor non tambang yang tinggi, banyak pengusaha lokal yang akan berkembang.

Dikonfirmasi dari pihak Dinas Perdagangan Provinsi NTB, dominasi konsentrat tenbaga masih sukar dikejar komoditas non tambang.

 

Kepala Seksi Ekspor, Rachmat Wira Putra, ST., M.Ec. Dev

“PR kita masih banyak, seperti sektor perikanan kelautan kita. Potensinya sangat besar se-kali, tapi transportasi pengirimannya masih kurang.” ujar Kepala Seksie Ekspor Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Rachmat Wira Putra, ST., M.Ec. Dev (2/3/2018).

Selain permasalahan fasilitas transportasi, pihaknya juga mengeluhkan karena kreatifitas dari para pengrajin di NTB masih belum bisa bersaing di pasar global. Padahal variasi kerajinan tangan NTB sudah banyak diekspor ke luar negeri, seperti kerajinan bambu yang sudah merambah ke Israel; kerajinan rotan ke Malaysia dan Afrika Selatan; kerajinan buah kering ke USA, Jerman, dan Belanda; kerajinan tenun ke Malaysia; gerabah ke Kanada, Italia, USA, Perancis, Australia, dan Taiwan; kerajin-an perhiasan emas dan mutiara ke Thailand, Malaysia, dan Aljazair; Nut Cookies ke Hong-kong.

“Namun kita juga harus tetap mengapresiasi pemda. Ekspor kita masih surplus. Alhamdulil-lah masih bisa mencukupi kebutuhan daerah.” tandas Pak Wira.

Capaian ekspor ini juga diimbangi dengan rendahnya impor yang dilakukan Provinsi NTB.

Kepala Seksie Impor, Suhaeni, S. Adm.

“Kalau di sini, Pak Gubernurnya memang tegas ga boleh impor. Makanya alhamdulilah kita impornya sedikit. Kalau pun ada impor, itu juga datang dari Surabaya, seperti buah-buahan. Sementara untuk bahan makanan pokok, alhamdulillah kita masih kecukupan.” kata Kepala Seksie Impor, Ibu Suhaeni, S. Adm. (2/3/2018).

Tak mau tinggal diam, pihak Dinas Perdagangan terus menggiatkan upaya pembinaan dan pelatihan para pengrajin di NTB agar senantiasa meng-upgrade produk kerajinan tangan agar tidak kalah bersaing di pasar global. Apalagi dengan potensi alam yang sangat melimpah di NTB, besar harapan dari Dinas Perdagangan agar eksportir di sektor non tambang semakin meningkat.

Dalam kesempatan wawancara dengan tim semarak silam, Bu Eni (sapaan akrab Kasie Im-por) juga sempat memberikan katalog “West Nusa Tenggara’s Potential Export Products” sebagai ajang promosi produk-produk ekspor Provinsi NTB.

TINGGALKAN BALASAN