Benih itu dipilih oleh para Auliya’ melalui istikhoroh, riyadloh dan mujahadah demi mendapat ridho Allah SWT.
Benih pilihan itu kemudian ditanam oleh Kekasih Allah dengan hati yang penuh harap, semoga kelak benih itu tumbuh, subur, besar dan bermanfaat.

Bi idznillah, benih itu benar-benar tumbuh meninggi, mengeluarkan dahan ranting dan dedaunan rimbun, membentuk pohon yang bernama NU.
Akarnya menancap kuat di hati para jamaahnya dan cabang rantingnya mengayomi Nusantara.
Siapapun yang bernaung ikhlas dibawahnya, akan merasakan kedamaian dan melihat wajah Islam Rahmatan lil ‘alamin yang indah.
Mata air toleransi dan persaudaraan mengalir jernih di bawahnya. Siapapun yang meminumnya, akan terbebas dari dahaga kejumudan (kekerasan) nalarnya dan menyadari tugasnya di bumi sebagai kholifah.

Pohon itu bernama NU.
Pada ranting dan cabangnya penuh bunga ilmu dan buah amaliyah, karena akarnya menghisap sumber ajaran luhur Al Qur’an wal Hadits dan terpupuk sempurna oleh Ijma’ Qiyas para ‘Ulama.
Siapapun yang memetik bunga ilmunya, akan merasakan harumnya ubudiyah. Dan yang memakan buah amalnya akan merasakan lezatnya pemahaman uluhiyah.

Pohon itu bernama NU
Yang memanjat dengan tekad kuat, akan mendapati ujungnya menjulang tinggi memecah awan pembodohan. Klorofil daunnya menghasilkan oksigen pemahaman, yang membersihkan hati dari polusi kebencian dan kesewenang-wenangan.
Sudah lupakah kalian, bahwa di bawah pohon NU inilah salah satu episode sejarah negeri ini dibangun, sehingga hari ini kita bisa mengenal hari pahlawan dan merasakan rindangnya kemerdekaan?
Mungkin kalian lupa atau karena sengaja dilupakan.
Ya, dari negeri beku berselimut salju dan negeri gersang bercuaca garang, banyak abdi Dajjal yang marah dan berusaha untuk memagari bahkan menumbangkan pohon ini, agar anak cucu kita lupa bahkan buta. Lupa akan cerita, buta pada sejarah.

Mereka marah membuncah.
Di dataran salju mereka berhasil menanam pohon Liberalis, Kapitalis dan Komunis. Dan di sebagian wilayah gurun, mereka sukses mencangkok dahan Takfiri dari pohon Islam yang mereka nilai paling suci, kemudian mereka tanam dalam bungkus pot Jihadis yang akhirnya berbuah ekstrimis.
Ingin tahu nama buah pohon hasil tanaman mereka? Ya benar, buah pohon itu salah satunya bernama ISIS yang rasanya…..sadis.
Pohon itu akan mereka tanam di negeri ini. Berulang kali gagal dan gagal lagi. Mulai varietas NII hingga varietas HTI, semuanya tidak tumbuh kembang di negeri ini.
Mengapa mereka gagal menanam pohon beracun itu di taman NKRI?
Sebenarnya sudah lama mereka tahu jawabnya, bahwa ini disebabkan oleh akar-akar tradisi NU yang terlalu kuat mengikat, di celah-celah hati muslim Nusantara..
Bahkan mereka mencoba menanam jenis pohon yang sama dengan varietas baru yang berbeda. Hasilnya? Sangat minimal padahal biayanya maksimal. Lagi-lagi GAGAL.

Cara tercepat mencapai tujuan adalah dengan menumbangkan pohon penghalang. Mereka merongrong akar NU dengan tuduhan sesat, bid’ah takfiri dan menciptakan badai hoax fitnah di cakrawala medsos untuk mematahkan ranting dahannya.
Akar, cabang dan ranting banom pohon NU meliuk hebat di tengah terpaan. Apakah tumbang?
Hehehe.
Ini bukan pertama kalinya pohon NU mengalami guncangan. Pohon ini sudah lolos uji klinis samawi, bahkan sejak ia berbentuk benih. Pertumbuhannya indah seimbang, karena ikhlasnya perawatan. Diatas itu semua, ALLAH SWT Yang Maha Penyayang TENTU MENJAGA dan MELINDUNGI pohon tanaman para kekasihNYA, selama akar-akar pohon NU tetap menancap di hati para generasinya.
Ini keyakinan kami.

Kini, di usiamu yang mencapai 93 tahun ini, kami berdoa untuk kekokohanmu wahai Pohon NU-ku. Tetaplah rindang menaungi dan sejuk mengayomi. Meskipun daun-daunmu ada yang berguguran tapi lihatlah, tunas-tunas mudamu semakin banyak bermunculan.
Tetaplah menjadi salah satu pohon terindah di negeri ini.
Saat pohon lain menolak bahkan menghalau Garuda untuk sekedar hinggap, kamu telah merelakan dahan-dahanmu untuk bertengger Garuda sejak awal pertumbuhanmu. Hingga Garuda tetap aman menjaga keberagaman telurnya, dalam bingkai sarang merah putih.

Selamat Ulang Tahun ke 93, NU-ku.
Dengan cinta kami menjagamu.

TTD
Moh. Agei Hidayat
Mantan Presiden BEM SIUS 2016-2017
Alumni Santri Nurul Hidayah Demangan, Barat Bangakalan Madura.

LEAVE A REPLY