7 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Penghapusan Masa Jabatan Bagi Xi Jinping

Xi Jinping, Presiden RRC. Ia kemungkinan besar akan menjadi Presiden kembali pada 2023 mendatang. [cnn.com]

Saat pertemuan tahunan yang akan dimulai 5 Maret mendatang, Kongres Nasional Rakyat Cina nampaknya siap untuk mengadopsi rekomendasi dari Partai Komunis bahwa batas dua masa jabatan bagi Presiden dan wakil Presiden dihilangkan. Perubahan ini tentu saja bukan sebuah ekspresi dari sebuah norma tata kelola yang disukai untuk masa yang lebih panjang, namun lebih kepada perubahan dramatis yang didesain untuk mengizinkan Presiden Xi Jinping tetap berkuasa setelah masa pemerintahannya selesai pada 2023.

Hal ini nampaknya menjadi awal dari perubahan norma Partai Komunis yang tidak memperbolehkan seorang memimpin menjabat saat usianya diatas 68 tahun. Xi, yang lahir pada 1953 akan berusia 69 tahun saat masa jabatannya sebagai Sekertaris Jenderal Partai berakhir pada 2022. Mengingat praktik tersebut telah ada sejak masa Jiang Zemin untuk memastikan bahwa Presiden dan Sekjen adalah satu dan sama, nampaknya Xi berniat untuk menjalani masa jabatan ke-3 sebagai Presiden, dia akan tetap menjadi Sekjen partai diatas batas usia yang ditetapkan.

Pada poin ini, ada lebih banyak pertanyaan daripada jawaban tentang apa dampaknya bagi Cina dan negara lain. Berikut adalah beberapa pertanyaan besar dan dugaan terbaik baik pertanyaan tersebut.

  1. Kenapa Cina Memiliki Batasan Masa Jabatan dan Usia Bagi Pemimpinnya?

Deng Xiaoping menempatkan batasan tersebut pada 1980-an sebagai bagian dari usahanya untuk memastikan Cina tidak pernah lagi menjadi subjek bagi diktator seperti Mao Zedong. Sistem Komunis Cina tidak menerapkan gagasan barat tentang checks and balances yang formal. Deng membangun sebuah sistem dengan karakteristik Cina yang didesain untuk mencegah kembalinya kediktatoran atau kultus keperibadian.

  1. Apakah Perubahan Ini Terbatas Hanya pada Presiden dan Wakil Presiden?

Akan menjadi tantangan besar bagi seorang pemimpin untuk membatasi masa jabatan bagi pejabat lain. Deng dan suksesornya telah memaksa pimpinan Partai yang kuat untuk pensiun saat mereka mencapai batasan usia, namun hal itu dapat dilakukan karena mereka (Deng dan suksesornya) sendiri menaati norma batasan usia tersebut. Veteran Partai di masa depan akan mereferensi pada ketidaktaatan Xi terhadap batasan usia dan menegaskan hak mereka untuk terus berkuasa. Sistem Deng untuk memastikan rotasi pejabat di posisi kepemimpinan akan rusak.

  1. Apakah Perubahan Ini Adalah Tanda Kekuatan Xi?

Ya dan Tidak.

Ya karena tidak ada pemimpin setelah Deng yang bisa memaksakan perubahan sistem. Xi berhasil menggunakan masa jabatan pertamanya untuk memonopoli berbagai posisi kepemimpinan, menempatkan dirinya di inti kepemimpinan, dan mengeliminasi kantong-kantong kekuasaan lain melalui kampanye anti korupsi (secara fair, memang menargetkan banyak pejabat korup).

Tidak, karena ada alasan bahwa keputusan memperbolehkan Xi terus berkuasa merefleksikan ketakutan yang mendalam terhadap instablitas. Restrukturasi dan reformasi ekonomi yang dijanjikan saat Xi mengambil alih kepemimpinan partai pada 2012 tidak terlaksana. Hutang yang menggunung pada level regional, di bank dan pada swasta dan Badan Usaha Milik Negara telah menyebabkan institusi kredit internasional memberi lampu kuning pada Cina. Generasi muda tidak senang dengan tangan besi Partai secara umum dan Xi khususnya, sebagaimana dibuktikan oleh sensor kritik di sosial media. Investigasi telah menurunkan banyak pemimpin senior, beberapa diantaranya dari Bo Xilai dan Zhou Yongkang ke mantan wakil pimpinan Komisi Militer pusat dan Direktur Kantor Umum. Dengan banyaknya pejabat yang telah gigit jari, maka terlihat bahwa pejabat yang masih berkuasa merasa tidak tenang dan tidak pasti terkait loyalitas ke atas.

  1. Apa Artinya Hal Ini Bagi Pemerintahan dan Pengambilan Keputusan Cina?

Artinya adalah sentralisasi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan dan keterlambatan dalam menyelesaikan urusan yang penting. Pejabat dengan pangkat lebih rendah, akan ragu dalam memutuskan urusan konsekuensial dan urusan yang tidak penting, karena mengetahui bahwa pejabat di atasnya akan lebih sangat perhatian dari sebelumnya. Pejabat akan menunggu petunjuk daripada memberi saran, dan pembangkangan internal Partai akan berubah menjadi unjuk kesetiaan yang menjilat.

Kediktatoran dapat membuat keputusan lebih mudah daripada sistem demokratik atau konsensus. Cina telah menjadi negara dictator sejak 1949, sehingga pengambilan keputusan kekuatan dan kelemahan dari sistem akan lebih degree than kind.

  1. Bagaimana Hal Ini Mempengaruhi Transisi Kekuasaan Ke Kepemimpinan Selanjutnya, Kapanpun Mungkin Terjadinya?

Sejak 1989, transisi kepemimpinan di Cina selalu berjalan lancar dan tanpa kekacauan yang terlihat. Selalu ada regularitas dan prediktebilitas dalam prosesnya. Perbedaan selalu diselesaikan dibelakang layar antara pejabat partai. Setidaknya beberapa tahun sebelumnya, selalu ada dugaan siapa yang menjadi pengganti, siapa yang akan naik berkuasa jika saatnya tiba.

Jika Xi memilih tetap berkuasa, ini akan memberi sinyal kepada pemimpin ambisius lain bahwa norma dan konsensus tidak penting. Kemungkinan dari transisi kepemimpinan menjadi sebuah perang akan menjadi nyata. Kekacauan dan represi di Cina seperti yang terjadi pada tahun 1989 terhadap unjukrasa pro demokrasi dimungkinkan oleh perpecahan mendalam di kepemimpinan terhadap masalah kebijakan dan suksesi. Sejak saat itu, dalam rangka stabilitas, Partai tidak memperbolehkan adanya perpecahan publik. Menjaga persatuan macam itu dalam Partai yang mengabaikan norma Deng akan semakin lebih sulit, dengan konsekuensi stabilitas yang masyarakat Cina sangat hargai.

  1. Apakah Ini Sepenuhnya Tentang Ambisi Imperial Luar Negeri Xi atau Keprihatinan Dalam Negeri?

Hampir dapat dipastikan karena kombinasi kegelisahan atas instabilitas domestik dan ambisi pribadi, bukan masalah kebijakan luar negeri. Xi telah memiliki kekuasaan yang ia perlukan untuk memproyeksikan kepentingan China yang diperluas dan meluaskannya ke luar negeri. Memiliki masa jabatan yang lebih panjang tidak akan mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan hal tersebut.

Ada keprihatinan yang memuncak di Cina terkait arah hubungan AS-Cina, terutama dalam urusan ekonomi saat pemerintahan Trump mengambil langkah memerangi kegiatan perdagangan Cina yang dinilai tidak fair. Namun tidak ada alasan mengapa keprihatinan tersebut harus mempengaruhi transisi kekuasaan empat atau lima tahun mendatang. Saat ada kekhawatiran di Cina terkait kebijakan AS dan moodnya kepada Cina, ini bukanlah kode merah yang menghadirkan tantangan bahwa institusi dan norma Cina perlu ditansformasi.

  1. Apakah Ada Kabar Baik Bagi Cina dan Pihak Luar yang Mencari Keputusan yang Tepat dalam Perubahan Ini?

Sangat sulit untuk menemukan sisi positif, namun ada beberapa.

Untuk berbagai kekurangan dari peraturan Xi dalam reformasi ekonomi, meningkatnya represi domestik, dan tantangan keamanan kepada negara tetangga Cina, Xi tidaklah impulsif, berkepala panas, atau pemimpin irasional. Perbandingan kepada Mao Zedong sangatlah salah, seperti yang disampaikan orang Cina yang mengalami the Great Leap Forward dan Revolusi Budaya. Pemimpin asing cenderung menghargai rasionalitas dan prediktabilitas, dan Xi nampaknya dapat menyediakan hal tersebut. Meskipun ia dapat menjadi keras kepala, kreatif, dan tegas dalam beberapa hal seperti reklamasi LCS, inisiatif Belt and Road, dan pendirian Bank Investasi Infrastruktur Asia. Kita tidak bisa mengasumsikan jika lebih lama dia berkuasa, dapat mencegah beberapa pemimpin yang lebih baik atau bersemangat untuk muncul.

Mereka yang tampaknya menjadi penasehat utama Xi setelah kudeta yang lembut ini mencakup dua pejabat China yang kapabel dan berpandangan ke luar: Wang Qishan dan Liu He. Isu Wang menjadi wakil Presiden -dengan tanggungjawab spesial untuk hubungan dengan AS- semakin kredibel dari waktu ke waktu. Wang, yang juga menjadi counterpart Hank Paulson dan Tim Gethner saat krisis ekonomi 2008-09 punya sejarah melayani Mr. Fixit dalam menangani masalah paling besar Cina. Dia juga membawa prespektif global dan market oriented ke Cina. Liu He, yang saat ini menjadi Wakil Ketua Komisi Reformasi dan Pertumbuhan Nasional dan direktur dari Leading Group for Financial and Economic Affairs nampaknya akan dipromosikan menjadi wakil perdana menteri saat Kongres Rakyat Nasional. Dia merupakan penasihat ekonomi yang paling dipercaya oleh Xi dan merupakan pejabat dengan pemahaman terkait reformasi yang dibutuhkan Cina jika negara tersebut ingin tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan tidak tenggelam dalam middle income trap.

Tulisan ini merupakan karya Jeffrey A. Bader yang dimuat dalam brookings.edu pada 27 Februari 2018, diterjemahkan oleh Noviandy Putra Nugraha

TINGGALKAN BALASAN