Di Indonesia pemanfaatan media sosial juga bukan hanya sebagai media untuk bersosialisasi, melainkan sebagai penyebar hoax, menjatuhkan rezim/kepentingan politik, menyalurkan paham terorisme, kriminal, dll.
Media sosial mempercepat masuknya paham radikalisasi. Potensi masyarakat terpapar radikalisme besar karena 143,2 juta pengguna internet di Indonesia. Dengan bantuan mesin, ditemukan kurang lebih 90 ribu akun yang memuat pesan radikal dan ekstremisme dalam waktu sebulan. Dari temuan itu, peneliti memisahkan akun berdasarkan jenis media sosial yaitu Twitter, Youtube, Facebook,Telegram.

Di Twitter ada 20 akun Twitter paling sering mencuit dan mengicau-balik (retweet) pesan-pesan radikal atau ekstremis. Ada dua kata yang sering jadi konten kicauan. Kata kunci terbanyak pertama ialah “kafir” dengan 5.173 kicauan, dan terbanyak kedua “komunis” sebanyak 995 kicauan dalam sebulan. Sementara pada platform pesan Telegram, riset itu menemukan channel @hizbuttahiririd (jumlah anggota 4.300), @salamdakwah (13.600), @salafyways (4.200), @jalananlurus (586), dan @forumkajianislamcikampek (115) yang kerap menyampaikan pesan-pesan radikal atau ekstremis. Pada Facebook, riset itu menjumpai 884 unggahan memuat kata kunci yang tergolong radikal dan ekstremis. Dari 884 itu, terdapat 171 unggahan yang memuat kata kunci ekstremis sesuai indikator ICCT.

Di samping itu, di Instagram ada pembingkaian yang memberikan arahan solusi seperti: menolak pemimpin kafir; memerangi kaum kafir; penista agama harus dihukum; perintah mengenakan jilbab syari (jilbab yang menutup seluruh tubuh).

Di YouTube, ada yang berbeda. Berdasarkan temuan INFID, pembingkaian pesan pada periode penelitian Agusus-Oktober ditemukan lebih banyak membicarakan LGBT. Video-video yang diamati itu mengandung pesan bahwa LGBT ialah “penyakit masyarakat”, “perilaku menyimpang”, “buah demokrasi liberal”, “penyakit yang dapat menular”, dan “lahir dari rezim yang tidak mementingkan rakyat”. Ada pula video-video yang mengandung pesan seperti “demokrasi adalah sumber kekacauan” dan seruan “umat Islam terancam oleh adanya aliran sesat”, “dipimpin kafir adalah kezaliman”, dan “komunisme adalah paham berbahaya”.

Pada Agustus 2017 Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim (Dittipidsiber Bareskrim) Mabes Polri menangkap tiga orang anggota grup Facebook “Saracen”. Kelompok Saracen menyebarkan ujaran kebencian melalui media sosial, seperti Facebook, Twitter, dan situs saracennews.com.

Selanjutnya, Divisi Pidana Siber Polri menangkap 14 orang yang tergabung dalam grup WhatsApp ‘The Family MCA’. Anggota ‘The Family MCA’ diduga menyebarkan siar kebencian di media sosial. Rilis dari Mabes Polri menyebut portal-islami.id adalah salah satu situs yang dikelola Muslim Cyber Army.

Sebelumnya, 2016 ada hampir 800 ribu akun, baik di media sosial maupun media online, yang telah diblokir oleh pemerintah karena menampilkan kabar bohong maupun ujaran kebencian. Pada Januari hingga Oktober 2017, jumlah akun sejenis yang telah diblokir sudah lebih dari 600 ribu. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada 7-9 Februari 2017 terhadap 1.116 responden di Indonesia, sebanyak 44,30 persen masyarakat menyatakan menerima berita hoaks setiap hari. Bahkan, 17,20 persen menyatakan menerima berita palsu ini lebih dari sekali sehari.

Jenis berita hoaks yang paling sering diterima oleh masyarakat terkait dengan isu sosial-politik, seperti pemerintah, terlihat dari 91,80 persen masyarakat yang menyatakan hal ini. Selain isu tersebut, 88,6 persen masyarakat juga menyatakan paling sering menerima berita tidak tepat tentang SARA. Selain itu, 41,20 persen masyarakat juga menyatakan isu kesehatan sebagai jenis hoaks yang paling sering mereka terima.

Menjelang Pilpres Indonesia dihebohkan dengan #2019GantiPresiden. Hashtag ganti presiden ini pernah dipakai di Suriah sejak 2011 yang membuat negara itu menggantikan sistem pemerintahan dengan khilafah . Pada tahun 2011, Suriah kacau karena hash tag tersebut. Rumah-rumah hancur, gedung-gedung rusak. Ekonomi kolaps karena peperangan yang tak kunjung padam. Di Indonesia Menjelang pilpres banyak bertebaran Hastag #2019GantiPresiden yang diketahui dibuat oleh pihak dari PKS atau Gerindra . Hastag lainnya yang bersifat politis yaitu #2019PrabowoPresiden. Dan #2019TetapJokowi #Dia SibukKerja yang dibuat oleh masing partai dan pendukungnya. kelompok pendukung Jokowi dan Prabowo masih terus aktif berkampanye di medsos. Keaktifan itu berdampak pada sering munculnya tagar-tagar unik di tengah masyarakat.

Penggunaan Hastag di media sosial ini merupakan suatu bentuk kampanye sebelum waktunya.
Selain itu, Kasus 212 media sosial seperti Twitter, Facebook, instagram dan lain-lain telah menjadi sarana perjuangan yang sangat efektif untuk menyampaikan seruan dan mendapatkan dukungan massa Islam. Pengaruh dan kemampuan Habib Riziq (Ketua FPI) menggalang massa, sehingga bisa menghadirkan jutaan umat di Monas, telah menyebabkan HRS mengasingkan diri dan keluarga di Makkah Arab Saudi karena dianggap berbahaya.

Fenomena Aksi 411 dan 212 juga menemukan fakta, umat Islam yang telah didzalimi media massa (baik koran dan televisi) akhirnya lebih memilih sumber informasi langsung melalui jejaring sosial. Facebook, twitter, dan whatsapp menjadi rujukan utama dan tercepat mencari dan menemukan informasi.”

Kasus Ahok yang menjadi tema perdebatan di facebook sejak pidato Ahok di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016. Atas dasar tersebut, penelitian ini memanfaatkan media sosial facebook sebagai objek penelitian dalam menilai pembentukan rasa solidaritas di antara kaum Muslim di Indonesia. Akun facebook milik Habib Rizieq Shihab pun kini telah diblokir oleh pihak Facebook. Tetapi masih ada akun lain seperti Bachtiar Nasir, Arifin Ilham, AA Gym, dan GNPF MUI yang aktif menyebarkan propaganda.

Media sosial, terutama facebook kurang efektif dalam membentuk solidaritas partisipan pada Aksi Bela Islam 411 dan 212. Hal ini disebabkan karena beberapa kelemahan facebook, antara lain terkait masalah privacy, keamanan, dan jangka waktu partisipan lain dalam menerima konten yang dibagikan. Partisipan Aksi Bela Islam 411 dan 212 lebih memilih menggunakan media chating terutama WhatsApp Group sebagai pengganti media sosial. Sebab, sifat WhatsApp Group yang lebih private mampu menjadikan partisipan leluasa dalam berbagi konten yang mampu membakar semangat bela Islam anggotanya. Selain itu, keanggotaan dalam WhatsApp Group juga dapat dikendalikan dengan membatasi para anggota yang diundang (invited) berdasarkan kesamaan nilai dan sudut pandang.

Di Libya dan Mesir, hingga Irak dan Suriah. Semua negara perang dalam konflik akibat media sosial yang dipicu sebuah viral di media sosial yang bermula dari Tunisia. Berbagai rezim jatuh dan hampir jatuh. Hanya Turki yang bisa bertahan dan itu pun dilakukan dengan salah satu caranya sempat melakukan ‘moratorium sementara’ untuk menata dunia medsosnya. Bahkan China lebih dahulu mengkontrol media sosialnya sebelum negara itu terpecah pada konflik.
Tapi bedanya, Indonesia bebas merdeka. Belakangan memang ada pengaturan media sosial, tapi malah menjadi alat untuk perebutan kekuasaan karena dilakukan menjelang Pilkada dan Pilpres 2019. Yang terahir kini berkembang pertanyaan apakah Indonesia bisa seperti negara itu? Apakah agama Islam yang dianut negara itu menjadi biang penyebabnya.
Afghanistan (juga Timur Tengah, Afrika Utara, Pakistan dan India) misalnya, sejak awal abad ke-XX telah menjadi wilayah yang diperebutkan dan karena itu menjadi medan konflik antar Timur dan Barat guna menguasai kekayaan alamnya. Sedangkan Libia dan Irak, adalah korban dari keserakahan barat yg ingin menguasai kekayaan alamnya – lalu untuk membuka jalan masuk (intervensi) di desain rekayasa informasi – dan dengan modal rekayasa informasi tersebut lahir stigma yg menyalahkan pemimpin di kedua negara tersebut. Apakah nanti konflik akan berpindah ke Indonesia ketika bahan bakar fosil telah habis digantikan energi terbarukan, misalnya dari minyak sawit yang sebagian besar lahannya hanya ada di Indonesia.

Selain itu sekarang seluruh tokoh politikus pun kini butuh sosok selebritis dunia maya yang punya kemampuan untuk menyetir pengaruh di sosial media. Tak heran banyak tokoh hingga kekuatan politik yang membentuk cyber army (tentara siber). Tentara ini punya fungsi untuk bertarung informasi di dunia maya, termasuk sosial media. Termasuk Pilpres saat ini baik Tim Cyber Jokowi dan Tim Cyber Prabowo. Sebab bukan rahasia lagi jikalau cara untuk menghancurkan lawan politik begitu mudah di dunia maya. Bisa dengan meretas dokumen, menghabisi karakter, atau rekayasa gerakan sosial. Karenanya, penting bagi kekuatan politik untuk merekrut orang terbaiknya demi jadi tentara di dunia maya.
Tentara siber itu tak mesti harus berbentuk institusi khusus. Bisa saja si tentara siber itu adalah artis, musisi, atau aktivis. Yang terpenting tentara siber itu bisa menjadi ‘selebritis’ yang didengar oleh pengguna sosial media. Di Indonesia, fenomena ini kasat mata. Tidak hanya Ahok, tapi seluruh kekuatan dan tokoh politik kini memiliki tentara sosial media atau selebritisnya sendiri.

Tak pelak, kini sulit untuk memisahkan mana gerakan politik yang benar-benar murni untuk kepentingan rakyat. Seperti di Arab, hingga kini semua masih berdebat tentang apa yang sebenarnya yang terjadi di Suriah dan Libya. Apakah semua ini demi kepentingan masyarakat atau barat?. Pun halnya ini berlaku di Indonesia. Sejatinya, siapakah yang paling mendapat manfaat atas kesuksesan gerakan politik menjelang Pilpres ini. Pengusaha atau rakyat?

LEAVE A REPLY