Indonesia bingung. Serangan difteri di Nusantara melebar hingga 28 provinsi, 38 syahid dalam perang melawan lara, dan 600 orang tengah berasa sembuh dari bakteri Corynebacterium diphtheria. Bakteri yang dikenal oleh dunia pada 1884 merupakan sumbangsih dari dua orang bangsa Aria, Edwin Klebs dan Fridrich Löffler bisa menular melalui kontak langsung dengan benda yang mengandung bakteri serta melalui udara saat berdekatan dengan penderita yang bersin atau batuk.

Permasalahnnya Indonesia saat ini menjadi negara dengan penderita difteri terbanyak di dunia . Yaman yang juga tengah berduka akibat difteri, pada akhir November 2017 hanya 20 orang tersenyum menghadap ilahi dan 189 lainnya sedang kritis berjuang untuk hidup.

Pada 2008, Dr. Lely Lubna Alaydrus dalam presentasinya, Patterns of Disease in Malaysia and Worldwide, menyatakan bahwa Indonesia berada di ranking dua dengan 219 kasus difteri atau 3,08 % dari total 7.088 kasus secara global; Malaysia berada pada peringkat 20 dengan 4 kasus. Pada 2016, WHO mencatat terdapat 342 kasus difteri di Indonesia. Tahun 2017, penderita difteri meningkat hampir dua kali lipat.

Penyebab

Serangan ini terjadi karena beberapa hal. Pertama, tidak lengkapnya imunisasi DPT (Diphtheria, Pertussis, dan Tetanus). Vaksin ini bisa diberikan kepada anak dengan rentang usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 15-18 bulan, dan 4-6 tahun. Mengingat umur vaksin yang hanya bertahan hingga 10 tahun, maka perlu dilakukan imunisasi ulang pada umur sekitar 12 tahun atau kelipatan 10 tahun dari tanggal terakhir imunisasi dilakukan.

Kedua, khusus bagi warga beragam Islam, mereka masih meragukan kehalalan dari produk vaksin. Alhasil mereka lebih memilih sabar dalam menghadapi sakit yang dipersepsikan sebagai ujian keimanan.

Ketiga, masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai difteri baik gejala, penanganan, dan tindakan lebih lanjut. Banyak masyarakat belum bisa membedakan antara simtom difteri dengan demam umum; simtom seperti demam pada umumnya.

Perlu diketahui, katalis dalam pembuatan vaksi menggunakan lemak babi. Namun Jawa Pos mengegaskan pernyataan Prof. Dr. dr. Ismoedijanto, SpA(K) dan dr. Dominicus Husada SpA(K) bahwa vaksin difteri di Indonesia diproduksi oleh Bio Farma serta tidak ada unsur babi di dalamnya.

Pencegahan

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah difteri. Pertama, segera lakukan vaksin DPT bagi yang belum lengkap atau memperbarui bagi yang sudah mendekati kelipatan 10 tahun vaksin.

Kedua, apabila sudah terinfeksi bakteri, segera bawa penderita ke fasyankes terdekat. Kemungkinan tindak lanjut dari dokter adalah penderita dengan antitoxin, namun perlu diperhatikan apakah pasien alergi terhadap antitoxin tersebut atau tidak. Alternatif lainnya bisa diberikan antibiotik eritromisin baik suntik maupun tetes (40 mg/kg/hari; maks, 2 mg/hari) selama 14 hari atau penisilin g prokain.

Ketiga, masyarakat juga perlu memperdalam pengetahuan mengenai difteri. Peran pemerintah juga diperlukan untuk mensosialisasikan prosedur mendapatkan vaksi, hingga penanganan difteri. Keempat, biasakan pola hidup sehat, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan menggunakan masker di tempat umum.

Bio-teror?

Terlalu dini untuk menyatakan KLB difteri sebagai bio teror. Kendati demikian, menurut Lane dan Fauci dalam Microbial Bioterrorism dua dari sepuluh unsur keberhasialan bio-terorisme telah terpenuhi.

Pertama, kurangnya kapasitas surveilllance penyakit menular di Indonesia. Kedua, tingkat kepedulian masyarakat terhadap difteri masih rendah. Lalu dampaknya nyata, masyarakat panik. Setiap gejala yang demam hampir selalu dikaitkan dengan gejala difteri.

Bila dikomparasi, kasus difteri di Indonesia masih lebih ringan ketimabang India. Pada 2016, setidaknya 3.380 kasus difteri tercatat, angka ini tidak termasuk penderita yang tak tertangani. Data ini bisa dilihat pada laman WHO.

November 2017, tersebar berita hoax tentang peta persebaran difteri di Indonesia. Mengutip Tirto.id, Direktur Surveilans dan Karantina Kemenkes RI, Elizabeth Jane Soepardi, menyatakan bahwa data pada peta dengan fakta lapangan berbeda. Namun terkesan ada pembiaran, bila berita ini paslu mengapa tidak dihapus?

Alangkah lebih baik bila pemerintah, para dokter, dan media bersinergi untuk meredam kepanikan atas kejadian luar biasa (KLB) ini. Bukan malah menyatakan bahwa kejadian ini memecahkan rekor dan cadangan vaksin sudah habis.

Investigasi juga perlu dilakukan, apakah KLB ini adalah bentuk dari aksi bio-teror atau bukan mengingat Indonesia akan melaksanakan hajat besar: ASIAN Games 2018.

TINGGALKAN BALASAN