Politisasi Agama

Tulisan ini adalah tanggapan terhadap artikel drg. Syukri Wahid di salah satu media nasional beberapa waktu lalu. Sebenarnya, pernyataan Presiden RI Joko Widodo tentang agama harus dipisahkan dari politik telah dijelaskan oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang juga Ketua Umum MUI Pusat KH. Ma’ruf Amin sebagaimana dimuat tribunnews.com dan media lainnya.
Beliau menjelaskan, pemahaman agama yang radikal ketika disatukan dengan politik akan menimbulkan masalah kebangsaan. Pemahaman agama yang radikal akan menjadi destruktif ketika bercampur dengan politisasi dan akan menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Demikian pernyataan cucu dari seorang ulama tersohor di nusantara, Syech Nawawi Banten.
Benar, politisasi agama sudah merebak di seantaro negeri. politisasi agama akan mengancam disintegrasi bangsa yang dirajut indah oleh para pendiri bangsa ini termasuk para tokoh agama nusantara. Kelompok-kelompok radikal memanfaatkan ruang publik agama untuk meningkatkan gesekan ideologi sehingga keadaan menjadi gerah dan panas seakan mau perang dimana semestinya ruang-ruang religius sejuk dan damai.
Dimulai dari politisasi ayat, hadis dipotong seenaknya untuk mengobarkan permusuhan, sampai pelecahan kepada sesama anak bangsa dan sampai penghinaan terhadap orang yang berbeda pendapat termasuk ahli agama yang mumpuni. Inilah gerakan politisasi agama, bukan spontanistas belaka. Ini gerakan massif, sistematis dan terorganisir yang hendak mengacaukan Indonesia.
Ingat, beberapa waktu lalu begitu massif isu sunni-syiah yang gagal total dimana mereka dengungkan di perbagai media; ceramah hingga lewat selebaran di mall-mall. Dan sekarang masuk melalui isu pribumi dan non pribumi. Dan kita selaku sesama umat beragama agar jangan mau dibenturkan atas nama agama.
Bahayanya, mereka terus memainkan isu sekterian sambil bicara tentang ayat-ayat Tuhan yang mulia untuk niat busuknya. Banyak yang silau dan terpesona dengan lantunan ayat demi ayat. Bahkan para pemangku kekuasaan banyak yang tertarik dan ikut dalam isu sektarian seakan inilah jalan Tuhan yang sesungguhnya. Begitulah politisasi agama. Tidak ada program kongkrit yang ditawarkan di atas mimbar selain ngompol (ngomong politik) dan menebar kebencian.
Ayat-ayat suci tereduksi dengan tafsir mereka. Asal gathuk (red cocok). Artinya, kajian tafsir ayatnya bukan melalui kajian yang sesuai dengan manhaj dan kaedah yang benar tapi hanya dicocok-cocokkan asal sesuai dengan hasrat politik mereka. Prilaku seperti ini hanya akan merendahkan kitab suci yang mulia. Pada saat yang sama, para aktivis garis keras mengklaim secara implisit bahwa mereka sepenuhnya memahami maksud kitab suci, dan karena itu mereka berhak menjadi Wakil Tuhan dan menguasai dunia ini untuk memaksa siapapun mengikuti pemahaman ‘sempurna’ mereka.
Kita harus sadar bahwa apabila agama telah dipolitisir sedemikian rupa maka akan muncul pemahaman agama yang sempit karena dibingkai dengan batasan-batasan platform politik. Pemahaman apapun yang berbeda, apalagi bertentangan dengan pemahaman mereka, dengan mudah akan dituduh munafik atau kafir (laisa minna).
Politisasi agama inilah yang telah mereduksi, mengamputasi dan mengkebiri pesan-pesan luhur dari semua agama yang penuh kasih sayang menjadi seperangkat ideologi kaku dan sempit lagi dipenuhi dengan kebencian.
Sementara itu, ekstemis demi memuaskan agenda hawa nafsu mereka memperdaya para tokoh agama mengkampanyekan jargon-jargon keagamaan sehingga menarik para pengikut untuk bergabung dan mendukung mereka karena terpesona dengan symbol-simbol keagamaan. Karena terbatasnya kemampuan para tokoh agama ini membaca tipu muslihat para politisi busuk mereka sehingga dengan mudah tokoh agama mengeluarkan fatwa sesat kepada individu atau kelompok yang lain yang berbeda.
Bencana akan terjadi bila pemuka agama dan pengikutnya kehilangan daya nalar sehingga menghakimi semua orang yang tidak sepaham dengan aliran mereka. Sudah banyak contoh bagaimana nyawa tak lagi berharga akibat penghakiman segolongan orang terhadap pihak lain. Sekali lagi, ini hanya ketika kaum radikal telah mencampurkan agama dan politik.
Akhirnya, kita harus mengajak dan mengilhami masyarakat untuk tetap terus belajar dan bersikap terbuka agar bisa memahami spritualitas dan esensi memeluk agama agar meredam sikap keagamaan yang radikal yang bercampur dengan politik. Lebih dari itu, sebagai bangsa kita harus sadar para kaum radikal, sebagaimana KH. Ma’ruf Amin sampaikan, mengancam pancasila dan UUD 1945, dan bisa menghancurkan NKRI. Kebencian yang disebarkan melalui medsos, pembunuhan karakter dan isu sectarian yang massif adalah usaha mereka memecah persatuan dan kesatuan bangsa. (*)

Ebin Marwi 
Koordinator Gusdurian Balikpapan
ebinmarwi@yahoo.co.id

TINGGALKAN BALASAN