ESDM : PLTP Baturraden Aman, Tidak Berdampak Buruk

Sungai Krukut yang berwarna coklat keruh dituding karena efek pembangunan PLTP [Sumber: liputan6.com]

Jakarta, Semarak.news –  Masyarakat Baturraden atau di sekitar wilayah Purwokerto, Jateng, akhir-akhir ini ramai membicarakan penolakan terhadap pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden. Bahkan, pada aksi demonstrasi Senin (9/10) lalu di halaman kantor Bupati Banyumas, Jl. Kabupaten, yang dilakukan oleh Aliansi Selamatkan Slamet berakhir ricuh.

Seperti dilansir merdeka.com, situasi sudah mulai memanas pukul 18.00 WIB, nampak Satpol PP dan Polisi berbaris di hadapan massa aksi. Berlanjut pukul 21.50 WIB, saat Polisi mengingatkan massa aksi untuk membubarkan diri karena batas tenggang waktu ijin aksi demo hanya sampai pukul 22.00 WIB.

Suasana Demo di depan Kantor Bupati Banyumas (9/10) [Sumber: purwokertokita.com]
Dalam sela tersebut Catur Sasongko (Korlap Aksi) sempat meminta mediasi dengan Polisi atau Satpol PP. Namun tepat pukul 22.00 WIB, setelah Polisi kembali mengingatkan massa agar membubarkan diri, Polisi bersama Satpol PP kemudian menertibkan serta membubarkan massa aksi yang tengah berada di tenda posko perjuangan.

Menanggapi gejolak tersebut, Direktur Panas Bumi Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Yunus Saefulhak saat dikonformasi oleh semarak.news di Jakarta (16/10), menjelaskan bahwa pembangunan PLTP Baturrade tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.

“Seharusnya masyarakat tetap tenang tidak terprovokasi oleh isu-isu negatif tentang dampak lingkungan dari pembangunan PLTP”, tegas Yunus. “Saya sudah melihat PLTP di berbagai dunia dan tidak ada yang menimbulkan bencana, semuanya berjalan baik bahkan tidak ada yang seperti lumpur lapindo”, tambahnya.

Menurutnya, karakteristik energi panas bumi sangat berbeda dengan energi dari minyak dan gas bumi (migas). Migas berada dilapisan lemah dan memiliki tekanan yang tinggi, sementara untuk panas bumi berada di lapisan beku dan bertekanan kecil.

Suasana Gn. Slamet di kawasan Baturraden [Sumber: MI/mediaindonesia]
“Kalau migas tekanan yang dihasilkan bisa mencapai 120 bar, sedangkan panas bumi hanya 20 bar, perbandingannya sangat jauh dan ilmuwan pasti paham hal itu”, imbuhnya. “Penolakan masyarakat adalah hal wajar, namun yang patut disayangkan adalah yang menolak salah satunya elemen mahasiswa, seharusnya mahasiswa yang notabene memiliki ilmu gagasan yang tinggi justru dapat menjelaskan kepada masyarakat, bukan menolak”, tambahnya.

Emisi yang dihasilkan panas bumi hanya sekitar 1,5 persen dibandingkan dengan emisi CO2  yang dihasilkan batubara, dan apabila dibandingkan dengan emisi gas hanya sekitar 2,7 persen. Selain menghasilkan emisi kecil, tenaga panas bumi cenderung membutuhkan lahan atau ruang eksplorasi yang cukup sempit.

“Untuk 110 MW saja hanya membutuhkan sekitar 40 hektar. Dapat dibayangkan dengan tekanan rendah, emisi rendah, bahkan ruang yang tidak terlalu besar, manfaat yang dapat diperoleh masyarakat nantinya justru sangat besar dibandingkan pembangkit lainnya, bahkan berskala nasional”, tegas Yunus. “Kok ya masih saja ada penolakan, ya itu sih biasa”, tutupnya. (ATU)

TINGGALKAN BALASAN