Ketika Nasionalisme Menjadi Pertanyaan Terhadap Generasi Muda

Ketua HMI Jakarta, Riduan Syah (kiri) dan Sekretaris Umum HMI Depok, Deny Giovanno Hasdanil (kanan) (Sumber: google.com)

Negara Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang terdiri dari beragam suku bangsa dan bahasa membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar. Keberadaan dari Bangsa Indonesia itu sendiri merupakan buah perjuangan para pahlawan yang telah memerdekaan Indonesia dari belenggu penjajah. Namun, perjuangan untuk mempertahankan kedaulatan dan keanekaragaman Indonesia tidak hanya sampai disitu, melainkan terus berlanjut.

Sebagai tonggak yang menunjang berdirinya suatu bangsa para pemuda Indonesia, khususnya mahasiswa saat ini, dinilai telah menjadi generasi yang apatis terhadap situasi dan kondisi lingkungan. Walaupun sebenarnya masih ada  mahasiswa di Indonesia yang bergerak untuk membantu pembangunan Negara Indonesia. Hingga ini, terdapat kelompok-kelompok mahasiswa yang masih peduli dengan Nasionalisme Indonesia.

Ketua Umum HMI Cabang Jakarta, Riduan Syah, mengatakan, nasionalisme dari sisi pandang mahasiswa adalah sikap seseorang dalam mengisi kekosongan setelah kemerdekaan. Selain itu, nasionalisme meryupakan suatu cara bagaimana memperlihatkan cinta seseorang terhadap negaranya.

“Makna nasionalisme jika dilihat dari kacamata mahasiswa adalah sikap seseorang dalam mengisi kekosongan setelah kemerdekaan dan bagaimana cinta seseorang terhadap negaranya. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengisi kekosongan tersebut, tergantung dengan bidangnya masing-masing,” ujar Riduan, dalam wawancara yang dilakukan, Senin (16/10/2017).

Sekarang bangsa ini sedang dilanda banyak permasalahan di segala lini sosial. Beberapa diantaranya adalah kasus intoleransi, KKN, krisis kemanusiaan, separatisme, narkoba, dan masih banyak kasus lainnya. Mahasiswa sebagai generasi yang akan memberikan perubahan, seharusnya mengurangi sikap tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Ketidakpedulian tersebut muncul ketika munculnya tekanan pada diri mahasiswa karena harus membagi waktu antara kegiatan akademik dan kemahasiswaan.

“Sekarang ini masih banyak mahasiswa yang merasa bingung dalam membagi fokus pada kegiatan akademik dan kemahasiswaan, dimana akademik merupakan hal yang penting untuk lulus dalam perkuliahan. Hal tersebut menyebabkan munculnya tekanan pada diri mahasiswa, sehingga mengurangi dorongan untuk melakukan kegiatan non-akademik. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, terkadang muncul sikap apatisme mahasiswa terhadap lingkungannya,” tambah Riduan.

Untuk mengurangi sikap tidak peduli para generasi muda, maka sekiranya para mahasiswa dan generasi muda dibekali dengan tiga hal yaitu habitus spiritual, habitus intelektual, dan habitus sosial serta dibekali dengan pemahaman lima sila Pancasila sebagai dasar negara.

Ditempat berbeda, Sekretaris Umum HMI Cabang Depok, Deni Giovanno Hasdanil, mengatakan bahwa nasionalisme di Indonesia itu seharusnya didasari oleh rasa kemanusiaan dan akan menjadi sebuah kebohongan apabila orang hanya beranggapan kalau NKRI harga mati itu sudah cukup sebagai sebuah rasa nasionalisme.

“Mengutip dari perkataannya Bung Karno, nasionalisme Indonesia itu adalah kemanusiaan, omong kosong kalo hanya bilang NKRI harga mati. Nasionalisme itu bisa berbagi ruang hidup bersama, tanpa ada penggeseran di masyarakat, nah itu namanya Nasionalisme,” ujar dirinya.

Mahasiswa sebagai generasi muda itu harus bisa berbaur dengan masyarakat. Semua harus peduli dengan masyarakat sebagai salah satu cara untuk menunjukkan rasa nasionalisme itu sendiri.

Dia mengatakan juga bahwa untuk memulai rasa nasionalisme bukan hanya dididik pendidikan bela negara saja, justru untuk menimbulkan rasa nasionalisme semua orang harus bisa turun dan melihat kesulitan masyarakat, sehingga nantinya hal tersebut dapat memperlihatkan pluralisme yang ada di Indonesia.

“Mahasiswa itu harus sering diajak turun langsung ke masyarakat, peduli dengan masyarakat sekitar dan melihat kehidupan masyarakat dibawah. Memulai nasionalisme itu bukan hanya dididik bela negara, hal tersebut cuman menimbulkan sesuatu yang pasif, justru untuk mengasah sensitifitas rasa nasionalisme ya kita harus turun melihat kesuliatan masyarakat,” tambah dirinya.

Untuk menyelesaikan permasalahan nasionalisme memang diperlukan peran serta dari segala elemen masyarakat untuk bersinergi dan menyelesaikan masalah-masalah yang ada sesuai dengan batas kemampuannya.

Generasi muda harus dapat memilah konten-konten yang bersifat hoax dan dapat dipercaya, karena banyaknya sumber informasi yang sudah tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, untuk mencapai pemerintahan yang ideal diperlukan keharmonisan dalam tubuh pemangku kebijakan itu sendiri. Akan tetapi, seperti yang dapat kita lihat sekarang di Negeri ini sedang terjadi konfrontasi antar elit yang menyebabkan hubungan antar pemangku kebijakan menjadi tidak harmonis. (GS)

TINGGALKAN BALASAN