Jakarta, Must Changes!

Pedestarian in Jakarta [Sumber : Nytimes.com]

Didasarkan opini publik “Jakarta, the City Where Nobody Wants to Walk”

Apa yang akan Anda fikrkan jika ada jurnal bertajuk seperti yang diatas? Tajuk tersebut sudah dipublish di salah satu media terbesar amerika, new york times tanggal 20 agustus 2017. Jakarta sudah mendapat cap bahwa dimana kota tersebut tidak nyaman untuk digunakan pejalan kaki.

Menurut data lokal tata kota tersebut hanya 7% area yang digunakan untuk trotoar dari 4500 mil area perkotaan.

Didukung dengan adanya fakta lapangan tersebut, masalah trotoar yang dkota-kota besar tepatnya di ibukota Jakarta masih membuat tata kota menjadi kacau. Salah satu contoh kasus dimana trotoar bukan hanya digunakan untuk pejalan kaki tetapi juga pengguna motor untuk menghindari kemacetan di jalan raya.

Tidak hanya itu masalah kabel rusak atau selokan yang dibiarkan terbuka akan membahayakan pengguna jalan. Jika kalian melihat keadaan perkotaan pada tahun 1990 di novel Dilan, keadaan tersebut sangat lah berbeda 180 derajat dengan keadaan yang sekarang. Itu juga diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor yaitu adanya urbanisasi dan pembangunan yang sangat pesat.

Seiring perkembangan teknologi masa kini dimana orang menggunakan lift dan eskalator maka orang-orang tersebut sangat memanfaatkannya. Ini didasarkan pada sifat malas seorang manusia. Banyak manusia metropolitan yang beralasan sudah ada teknologi kok tidak memanfaatkannya. Memang teknologi masa kini sudah mempermudah pekerjaan bagi manusia tapi apakah dengan berjalan kaki atau menaiki tangga bisa membuat sakit, pusing, pegel? Tidak selalu begitu. Yang saya tahu 10.000 langkah setiap hari itu dapat mengurangi potensi osteoporosis. Pembangunan trotoar dan kesediaan akses jalan di Jakarta sangat perlu diperhatikan dan dibenahi oleh pemerintah.

Apa yang dikerjakan selama ini oleh aparat tata perkotaan untuk membangun kota tersebut? Apakah cukup 7% area dari 4500 mil area yang tersedia digunakan untuk pedestarian? Oh maaf bukan hanya pedestarian saja tetapi para driver yang menghindari padatnya kemacetan di Jakarta. Mungkin pangkalan ojek online dan taxi pun ikut meramaikan area tersebut bersamaan dengan pejalan kaki. Jangan salahkan publik mengapa kemacetan Jakarta semakin ruwet dan ribet.

Banyak pihak yang sudah gregetan dengan keadaan kota seperti ini.

Menurut saya walaupun pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah jika tidak diikuti oleh kesadaran dan dukungan dari masyarakat hasilnya akan nol besar. Maka dari itu pemerintah harus segera membenahi kota kembali sebagai mana tugas aparat pemerintahan dengan memberikan pelayanan bagi masyarakatnya.

“Perjuangan Soekarno telah dilanjutkan oleh cucu-cucu nya dengan lahir nya Kang Emil, Ibu Tri Rismaharani, saya harap cicit nya pun akan lahir dengan perubahan yang signifikan dan dapat memajukan Indonesia untuk membangun bangsa ini.”

Agis Rahmat,

Mahasiswa Planologi

TINGGALKAN BALASAN