Pancasila Is Me!

Memaknai Pancasila (sumber: http://pkppwasbang.upi.edu)

Gelaran Pilkada Gubernur DKI Jakarta rupanya tidak hanya menghebohkan kancah regional, namun hingga ke ranah nasional. Berbagai permasalahan yang muncul membuat “geger” seluruh daerah tanpa ada yang mampu meredam. Permasalahan yang dipicu akibat adanya kasus penistaan oleh salah satu calon gubernur membuat munculnya beragam respon, ada yang pro dan adapula yang kontra. Semua saling berekeyakinan dirinya yang paling benar dengan beragam dalih, dari yang menggunakan dasar-dasar agama, ada yang menggunakan atas nama ras, hingga dengan paham-paham “cocoklogi” yang kini menjadi salah satu fenomena umum yang terjadi di masyarakat.

Timeline twitter, instagram, facebook semuanya ramai akan isu-isu sensitif. Menjadi tempat perlombaan meraih atensi dan dukungan. Media sosial, media jalanan, semuanya dimanfaatkan demi meraih kepentingan. Setiap celah dimanfaatkan, setiap kejanggalan digunakan untuk menjatuhkan lawan, parahnya terkadang hal-hal tersebut dilebih-lebihkan hingga dimanipulasi.

Di antara beberapa fenomena, rasanya fenomena penggunaan isu SARA menjadi salah satu yang mengkhawatirkan. Dimulai dari beberapa aksi bersakala masif, munculnya larangan menyolatkan jenazah pendukung salah satu calon atas dasar aturan suatu agama, hingga akhirnya kembali lagi terjadi aksi-aksi yang diduga mengarah ke perbuatan makar, yang ingin menggulingkan pemerintahan yang sah.

Rasa-rasanya masyarakat kini sangat gampang disulut dengan suatu permasalahan. Terlalu banyak yang hanya “ikut-ikutan” arus tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kaum ini seperti gelap mata, apa yang menyerang yang dirasa menjadi bagiannya harus diberantas dan dimusnahkan dari negeri ini. Mereka mengatasnamakan dirinya sebagai perwakilan sikap nasional. Sikap individu atau kelompoknya bisa dijadikan dasar sebagai bentuk sikap nasional seluruh umat. Bahkan elit-elit negeri ini pun turut berada di belakang kaum-kaum ini, yang seharusnya meredam justru turut menyulut, yang seharusnya berpandangan bijak justru mengeluarkan sikap radikal.

Semua membenarkan atas dirinya sendiri, menonjolkan dan mengagung-agungkan keyakinannya masing-masing seakan negeri ini tidak memiliki dasar negara. Nilai-nilai Pancasila sepertinya telah jauh dari masyarakat. Betapa sedihnya para founding fathers yang berupaya melahirkan landasan filosofis yang merangkul seluruh elemen bangsa dan negara ini.

Negeri ini adalah negeri yang majemuk. Terdiri dari beragam agama, ras, suku dan budaya, dari penjuru barat hingga pelosok timur. Dengan kemajemukan tersebut para pendiri bangsa memahami bagaimana seharusnya dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Perumusan dasar negara ini tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, berbagai pertimbangan dipikirkan para pendiri bangsa guna merumuskan rumusan yang paling ideal dengan keberagaman yang ada.

Pancasila adalah rumusan sederhana yang sesungguhnya mampun menjawab seluruh permasalahan bangsa ini. Sejak dirumuskan, ditetapkan, hingga kini dan nanti Pancasila akan tetap patut untuk dijadikan pedoman. Segala fenomena yang terjadi, yang dengan mudah kita temukan di sekitar kita kini adalah bukti nyata bahwa nilai-nilai Pancasila berangsur-angsur turun dan hilang di masyarakat Indonesia.

Isu-isu SARA yang terus dihembuskan salah satu pihak tidak akan mampu memengaruhi masyarakat jika setiap individu memegang teguh dasar negara ini. Kepercayaan memeluk agama adalah hak dan kewajiban bagi seluruh rakyat Indonesia. Sesuai sila Ketuhanan yang Maha Esa, negara ini tidak memaksakan salah satu agama atau kepercayaan bagi rakyatnya. Semuanya bebas memeluk dan menjalankan ajaran agama yang diimaninya. Namun kebebasan itu tidak mutlak, semua wajib menjunjung toleransi antar umat beragama. Nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan seluruh agama seharusnya menjadi pedoman dalam hidup dalam keberagaman.

Sangat memprihatinkan kondisi negeri ini saat ini. Dimana terdapat pihak atau kelompok yang berupaya untuk menggeser dasar negeri ini sesuai kehendak mereka sendiri.

Pancasila sila kedua pun telah mengajarkan bahwa seluruh warga negara Indonesia memiliki kedudukan yang sama tanpa memandang ras, suku atau agama yang diyakininya. Sangat menyedihkan bahwa di zaman sekarang ini masih saja terus terjadi permasalahan-permasalahan sensitif yang justru memecah belah persatuan. Nilai-nilai kemanusiaan sudah menjadi nilai universal wajib ditanamkan seluruh umat manusia. Nilai-nilai ini tidak perlu memandang ras, suku atau agama seseorang, tapi berlaku kepada seluruh umat manusia.

Negara ini pun merupakan negara hukum, sudah termaktub jelas pada Undang-undang Dasar 1945. Namun apa yang terjadi kini justru menunjukkan bagaimana adanya ketidakpercayaan terhadap proses hukum. Memang tidak bisa dipungkiri masih terjadi kecacatan pada sistem hukum yang berjalan, namun tidak membuat adanya pihak yang dapat mengatur atau menyetir hukum ini sesuai keinginan dan kepentingan pihak tersebut.

Kegaduhan-kegaduhan yang terjadi kini membuat pemerintah berwacana untuk membentuk Dewan Kerukunan Nasional. Langkah ini patut diapresiasi mengingat bagaimana urgensinya masalah-masalah yang terjadi di negeri ini. Melihat bagaiamana sekarang segala permasalahan yang seharusnya dapat diselesai kan melalui jalan musyawarah justru dibesar-besarkan sehingga mengganggu stabilitas negara.

Langkah pemerintah tersebut tentunya tidak akan berpengaruh besar apabila tidak didukung oleh kesadaran warga negaranya sendiri. Beruntung tidak sedikit masyarakat yang masih sadar dan berpedoman teguh dengan Pancasila. Kemudian apa yang seharusnya dilakukan adalah mengajak masyarakat lain yang mungkin sudah lupa atau belum memahami nilai-nilai Pancasila. Kalau dengan pergerakan rakyat pun sudah tidak bisa mengubah keadaan, lalu mau jadi apa negeri ini. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Slogan itu pun rasanya menjdai bias karena kini tidak terlihat siapa yang benar berjiwa Pancasilais atau hanya memanfaatkan Pancasila sebagai dasar peraih kepentingan semata. [DDK]

TINGGALKAN BALASAN