Penemuan Aliran Dana Teroris Indonesia Dari Jaringan Teroris Australia

Aliran dana teroris Indonesia dari jaringan Teroris Australia

JAKARTA, Semarak.news – Penemuan aliran dana jaringan terorisme di Indonesia oleh Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Aliran dana disinyalir berasal dari negara tetangga Australia. Agus menuturkan ada aliran dana dalam jumlah besar dari jaringan teroris di Australia ke jaringan teroris yang ada di Indonesia.

“Uang dalam jumlah yang banyak. Sekitar ratusan ribu dollar,” Ungkap Agus Santoso. Rabu (25/3/2017) malam

Ditemukannya aliran dana tersebut yang dituturkan Agus. Berawal dari kerja sama antara PPATK dengan institusi yang sama di Australia pada awal tahun 2014. Tujuan kerja sama kedua institusi itu adalah meminimalisir semua kegiatan jaringan teroris melalui deteksi dini pola aliran dana.

Menurut Agus , kerja sama antara kedua negara tersebut merupakan bagian kerja sama antara PPATK dengan Polri, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus 88 Antiteror sebelumnya. Hal tersebut dilakukan setelah mendapatkan sinyal adanya aktivitas terorisme di Indonesia yang didanai oleh jaringan teroris dari Australia.

PPATK menerapkan prinsip follow the money untuk mendeteksi pola aliran dana jaringan teroris itu. Menurut Agus, cara ini lebih mudah untuk mengungkap sebuah jaringan teroris karena seluruh aktivitas mereka dipastikan membutuhkan dana.

Namun, dia mengakui, pola deteksi tersebut sangat sulit dilakukan karena jaringan teroris di Australia memiliki pola pendanaan “many to one and one to many“. maksudya, jaringan teroris Austrlia mengumpulkan uang dari banyak pihak, kemudian dikumpulkan ke satu orang, lalu disebarkan lagi ke banyak pihak.

“Pendeteksian aliran dana yang kita lakukan ini sampai ke tiga bagian. Karena modus mereka adalah pencucian uang, ada yang kirim uang menggunakan bermcama cara, oleh sebab itu proses deteksi memakan waktu yang lama,” Ungkap Agus.

Setelah dilakukannya penelusuran panjang dan berbekal nama-nama terduga teroris yang masuk daftar polisi. PPATK telah menginventarisir pola pendanaan itu dalam Laporan Hasil Analisis (LHA). Yang sudah diserahkan ke penegak hukum pada akhitr tahun 2014 lalu.

Agus, tidak bisa menyebutkan secara detil siapa dari jaringan teroris Australia yang mengumpulkan dana dan memberikannya ke jaringan teroris Indonesia. Karena merupakan wewenang penegak hukum. Menurut Agus, sekarang ada karakter pola baru mengenai pengumpulan dana awal, yakni bersumber dari bisnis herbal dan kimia.

PPATK tidak akan berhenti mendeteksi pola pendanaan jaringan teroris pada 2014 saja. Badan ini juga masih menjalin kerja sama dengan Austrlia dan akan dilanjutkan terus. Bahkan, akan bekerja sama denga sejumlah pemerintah negara tetangga. Dengan tujuan ntuk mencegah perkembang pola pendanaan jaringan teroris di Indonesia.

“Kerja sama  yang kita lakukan dengan bea cukai dan negara tetangga terkait jika ada pembawaan uang lintas negara. Bertujuan untuk memperketat aliran dana cross border dapat dilaporkan ke PPATK. Sebenanrnya kebijakan ini sudah berjalan tapi kami mau lebih efektif lagi,” Ungkap Agus.

(ASP)

TINGGALKAN BALASAN