Wedding Dress

Hari pertama bulan Mei di Santiago, cuitan burung di pohon beringin dekat jendela kamar membangunkan gadis berambut hitam panjang berumur 25 tahun, Niel. Seketika dia langsung terduduk dan tersenyum melihat undangan pernikahan di atas meja kecil samping tempat tidurnya. 1 Mei 2024, ah hari ini. Bukankah akan menjadi hari paling membahagiakan di hidup Niel? Saat dimana Niel melepas masa remajanya

Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi dan Niel terlihat sudah siap, Niel bersiap untuk pergi menuju salon yang sudah dia pesan

“Selamat datang Niel”

“Ah.. pagi Poy, bagaimana? sudah disiapkankah?”

“Yaa.. semua sudah disiapkan seperti perjanjian kemarin. Gaunnya juga sesuai pesanan si dia”

“Oh yaa, hm baguslah, tak salah aku mempunyai sahabat pemilik salon sepertimu”

Niel berjalan menuju tempat duduk yang telah ditunjukkan oleh Poy

“Dandani aku secantik mungkin ya Poy, kau tahukan ini hari penting bagiku” ucap Niel tersenyum

“Ah.. tak usah khawatir, serahkan saja padaku, kenapa aku jadi ikut deg – degan seperti ini” jawab Poy diiringi gelak tawa

Sambil memandangi wajahnya di cermin, membuat Niel mengingat seseorang, seseorang yang akan Niel temui hari ini.

 

-flashback-

“Dasar anak pindahan, culuunn, jelekk, item, rambut kribo, pergi sana, kau tidak pantas hidup di komplek ini !!! ” ucap beberapa anak berandalan komplek berumur sekitar 10 tahun dengan melempar sampah-sampah ke muka seseorang

“Yaa!! Tak bisa diam sebentar apa” Niel sedang membaca buku di bawah pohon manga, terganggu dengan keramaian tersebut dan merasa kasihan melihat anak yang dilempari wajahnya itu

“Kau cewek lemah tak usah ikut campur dengan urusan kami!” Lanjut anak berbadan paling gendut

“Cewek lemah katamu?!!” Sanggah Niel tak terima, sambil berdiri dan melempar buku Demian yang sedang dibaca.

“YAAA!! PERGI SANA KUMPULAN ORANG GEDUT DAN BAUU!!” Terikak Niel seraya melempari mereka dengan sarang lebah yang ada di atas pohon mangga

“HWAAA MAMAAA” akhirnya mereka pergi sambil menangis karena dikejar oleh sekumpulan lebah, meninggalkan Niel yang sibuk mencari buku Demian yang dilempar tadi.

“Mana bukunya?”

Anak cowok berambut kribo tadi tiba-tiba memberikan buku Demian kepada Niel

“Punyamu kan?” Katanya tersenyum

“Iyaa.. makasih ya” Ucap Niel dengan tatapan berbinar mengambil bukunya

“Ah, seharusnya aku yang berterimakasih, terimakasih ya sudah menyelematkanku dari sekumpulan anak berandalan komplek tadi, kalau boleh tahu, siapa namamu?” Ujar cowok berambut kribo sambil mengulurkan tangannya

“Sani Samuel, panggil saja Niel. 7 tahun. Kamu?”

“James Aba, panggil saja James. 7 tahun. Kita seumuran”

“James? Ah kurasa nama itu sudah pasaran. Bagaimana kalau aku memanggilmu Aba? cukup unik bukan? Seperti orangnya ^_^”

“Hmm.. agak aneh kedengarannya, tapi.. ok lah. Oh ya, kau suka membaca buku Demian? Menurutku bacaan itu cukup berat untuk anak 7 tahun seperti kita”

“Yah aku suka membaca buku klasik hehe. Sudah terbiasa jadi aku bisa mengerti maksud bukunya”

“Mungkin kau termasuk orang yang jenius?”

“Kurasa”

Dari pertemuan itu dimulailah persahabatan kecil yang awalnya bertujuan untuk melindungi Aba dari gangguan sekumpulan anak berandal komplek. Tak disangka sejak saat itu mereka selalu bermain bersama, saling berkunjung ke rumah, orang tua mereka semakin dekat, selalu berada di sekolah yang sama dan selalu berangkat dan pulang sekolah bersama. Aba, yang dulu bukanlah yang sekarang, sekarang Aba sudah tumbuh menjadi cowok yang tampan, rambut kribonya sudah tak terlihat karena dia memotognya, tetapi rambutya tetap ikal seperti itu. Sampai pada suatu hari saat mereka duduk dibangku SMA

“Niel !”

“Ya, Rose, ada apa?” Niel yang tadi akan menuju kelas terhenti langkahnya

“Apakah rumor itu benar?”

“Rumor? Rumor apa?”

“Kau kenal si Rebecca bukan?”

“Iya, kenapa?”

“Dia hamil, katanya dia dihamili Aba, sekarang dia mau menggugurkan kandungannya, karena si Aba tidak mau bertanggung jawab”

“Hah kau serius?”

“Ya, nih kutunjukkan fotonya sudah menyebar di grup line. Liat tuh si Rebecca dengan perut buncitnya”

“Astaga” Niel yang shock langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya

“Aku harus berbicara kepada Aba, terimakasih infonya”

Niel mengelurkan air mata, dengan derasnya.

‘Apa yang salah denganku? Mengapa hatiku sakit? Apa… aku menyukai Aba?’

Niel langsung menuju ke rooftop sekolah tempat dimana biasanya menjadi basecamp mereka. Seperti yang diperkirakan sebelumnya, Aba sudah berdiri di sana, diikuti dengan hembusan angin yang kencang membuat seragamnya bergerak dengan indahnya

“Ba.. kita perlu bicara” Niel mendekatkan diri ke sosok Aba. Niel menjadi tak karuan hatinya karena baru menyadari perasaanya selama ini

“Aku sudah tahu apa yang ingin kau bicarakan Niel” Aba yang tadi memandangi langit langsung membalikkan tubuhnya dan menunduk, menatap mata Niel, Niel yang lebih pendek 25 cm darinya

“Apa? Apa rumor itu benar?” Niel berkata dengan mata berkaca, sambil memegangi kedua lengan Aba

“Sebenernya, apakah aku boleh berkata jujur sekarang?” Jawab Aba, lemas

“Yah. Tentu saja” Ucap Niel sambil mengganggukkan kepalanya

“Bukan. Tentu saja bukan aku yang melakukannya”

“Lalu.. itu anak siapa?”

“Aku tak tahu”

“Kau.. mencintainya bukan?”

“Entah”

“Jawablah”

“Mungkin”

“Iya”

“Iya, aku mencintainya. Kau tahu hatiku hancur sekarang mendengar berita ini”

“Apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

“Maksudmu?”

“Kau pasti tahu maksduku”

“Kenapa? Kenapa aku harus melakukan itu? Itu bukan anakku”

“Ikutiah kata hatimu Ba, daripada nanti Rebecca terluka, kau mau melihat dia sengsara selamanya? Atau yang lebih parah, kau mau tidak bisa melihat Rebecca lagi? Bisa saja dia nekat bunuh diri sekarang”

“ARGGGHHHHHHH” Aba teriak dengan lantang di rooftop sekolah

“Kau bisa hidup bahagia dengan Rebecca. Masalah masa depan? Kau bisa meneruskan bisnis furniture ayahmu yang sudah go internasional, dan ku yakin, dengan karakteristik Ayahmu yang seperti itu, dia pasti akan mendukungmu, karena Ayahmu tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti dengan mendiang ibumu”

Tiba-tiba saja, angin yang semula berhembus kencang berhenti, suasana menjadi hening, dan tiba-tiba saja Aba memeluk erat tubuh Niel, dan menenggelamkan kepalanya ke pundak Niel yang mungil

“Kau.. memang paling mengerti aku, Niel. Tapi tak bisakah kau saja yang menikah denganku?” ucap Aba tiba-tiba degan serius menatap mata Niel

-flashback end-

 

“Kau cantik sekali Niel, pasti calon suamimu akan menjadi orang yang paling bahagia memiliki dirimu yang secantik putri. Gaunnya juga terlihat cocok untukmu” Ucap Poy yang bangga dengan hasil karyanya

“Ya, pasti hahaha, terimakasih banyak Poy, aku akan pergi, aku tidak mau membuat dia menunggu” Kata Niel dengan berlari kecil sambil mengambil kunci mobilnya

“Ya.. hati-hati Niel, sampaikan salamku padanya”

“Tentuuu…” Balas Niel dari dalam mobil

Mobil Niel melaju menuju Gereja Compostela. Ketika sampai, dia langsung masuk melalui pintu belakang gereja dan bertemu dengan seseorang yang selalu ada di hatinya

“Aba, kau tampan sekali memakai jas itu”

“Kau juga Niel, cantik sekali seperti yang telah kuduga, gaunmu terutama haha, Poy memang tak pernah mengecewakan” Ucap Aba sambil memeluk lama tubuh mungil Niel

“Kapan bisa dimulai? Kau sudah menanti hari ini dari SMA kan?”

“Hahaha, ayo sekarang kita menuju altar”

“Oke”

Niel dengan senyum indahnya, masih sama seperti 14 tahun lalu saat pertama kali menolong Aba dari sekumpulan anak berandal komplek. Tatapan berbinar yang sama yang dia tunjukkan ketika Aba mengembalikan buku Demian miliknya. Niel dengan mantap berjalan menuju altar, menuju pendeta.

“Saudara James Aba, bersediakah anda, dihadapan Allah dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah maupun senang, wanita di sebelah kanan anda yang sekarang sedang anda pegang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama dari segala hal, menjadi suami yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?”

”Saya bersedia”

“Apakah anda bersedia untuk mengambil dia sebagai istri yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?”

“Saya bersedia”

“Saudari Rebecca Johanson, bersediakah anda, dihadapan Allah dan disaksikan oleh sidang jemaat ini, berjanji untuk mencintai dan menghargai, baik dalam keadaan sakit maupun sehat, di dalam susah dan senang, pria di sebelah kanan anda yang sedang anda pegang sekarang? Apakah anda berjanji untuk menempatkan dia sebagai yang utama, menjadi istri yang baik dan beriman, menjadi tempat bergantung bagi dia, dan hanya bagi dia, selama-lamanya hingga akhir hidup anda? Bersediakah anda?”

“Saya bersedia.”

“Apakah anda bersedia untuk menerima dia sebagai suami yang sah, selama masa hidup anda berdua? Bersediakah anda?”

“Saya bersedia.”

 

***

 

Akhirnya, begitulah cara Niel melepas masa remajanya, Aba. Yang selalu memenuhi hati dan pikiran Niel selama ini. Yang selalu didambakan Niel di hidupnya. Niel mencoba tegar menjadi pembawa cincin di pernikahan Aba dan setelah itu dengan tulus memeluk erat pengantin wanita.

 

-flashback-

“Kau.. memang paling mengerti aku, Niel. Tapi tak bisakah kau saja yang menikah denganku?” ucap Aba tiba-tiba degan serius menatap mata Niel

“A… a.. pa maksudmu Ba?” Hati Niel berdegup dengan kencang

“Y….” Niel sudah ingin menjawab

“Hahaha aku hanya bercanda, mungkin aku akan menikahi Rebeca, tapi tunggu sampai kelulusanku dan ketika aku sudah dewasa, tapi mulai sekarang aku akan mendampnginya, untuk anaknya mungkin bisa kita rawat bersama”

“Te..ntu, itu hal bagus” ucap Niel, tersenyum manis di rooftop sekolah

 

 

Inspired By : Highlight – It’s Still Beautifull

Penulis : Syarifa Widyandari

TINGGALKAN BALASAN