Hukum Kejahatan Seksual di Indonesia Masih Lemah

Sudah banyak pasal-pasal yang menjerat pelaku kejahatan seksual, tetapi mereka tidak jera.

Jakarta, Semarak.news-Pengawasan media sosial perlu diperketat.  Hal ini berdasar atas laporan para orang tua yang selanjutnya di usut oleh Polda Metro Jaya pekan lalu. Temuan ini mengungkap jaringan pedofil online yang memuat konten kekerasan seksual terhadap anak pra pubertas. Salah satunya adalah akun Facebook Official Candy’s Group. Pada waktu yang berbeda (19/3), Plt Kabiro Humas Kementrian Komunikasi dan Informasi, Noor Iza menuturkan bahwa akun “seperti Official Candy’s Group tidak sedikit.”

Akun yang dibuat pada September 2014 ini sudah memiliki jaringan sedikitnya 7.000 anggota yang notabene adalah pelaku pedofilia. Saat ini, akun ini sedang dalam proses penghapusan oleh pihak berwenang. Namun ada beberapa akun dengan nama yang sama dengan orientasi menyetop pedofilia.

Kanit I Subdit Cybercrime Polda Metro Jaya, Kompol Joko Handono mengatakan bahwa anggota akun tersebut banyak yang menggunakan alamat IP palsu. Sehingga pencarian identitas pengikut akun tersebut tersendat. Sebelumnya polisi telah menetapkan lima admin grup tersebut sebagai tersangka, Aldi Atwinda Januar (24), Muhammad Bahrul Ulum alias Wawan alias Snorlax (25), Illnu Inaya alias Alicexandria (27), Siha Dwiti (16), dan T-Day (17).

Para pelaku pedofilia bisa terjerat pasal berlapis. Sedikitnya ada empat peraturan yang bisa dikenakan antara lain: UU perlindungan anak, UU No. 11 tahun 2008 tentang Transaksi Elektronika  di mana si pelaku dengan sengaja mempublikasikan foto atau video   dari korban ke umum, UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi.

Kendati demikian lemahnya hukum di Indonesia ditambah pengawasan yang lemah dari instansi terkait membuat praktik-praktik kekerasan pada anak maupun orang pada umumnya kian menjamur. Tidak peduli  berapa pun kasus yang pernah terungkap, tetap saja praktik kekerasan seksual akan berlanjut. (DZR)

 

TINGGALKAN BALASAN