Indonesia Kembalikan Wartawan Asing Dari Papua

Imigrasi kembalikan dua wartawan asing dari Papua yang tidak mempunyai visa jurnalis [Sumber : BBC.com]

Jakarta, Semarak.news – Pemerintah Indonesia mendeportasi dua wartawan asal Prancis yang hendak melakukan peliputan di Kabupaten Timika, Provinsi Papua, pada Jumat (17/03).

Langkah pendeportasian terhadap Franck Jean Pierre Escudie (FJPE) dan Basille Marie Longchamp (BML) itu dikemukakan Agung Sampurno, Kepala Bagian Humas Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM.

Ketika ditanya soal pernyataan lisan Luhut Pandjaitan yang mengizinkan semua jurnalis meliput di Papua, Agung menegaskan isi undang-undang imigrasi belum berubah. Agung menyatakan bahwa orang asing yang tinggal di Indonesia izin tinggalnya harus disesuaikan dengan motif, maksud, dan tujuan misalnya Tujuan bekerja, belajar, wisata, jurnalis, itu izin visanya beda-beda. Visa on arrival itu untuk kegiatan wisata. Jadi urusannya bukan Papua, nggak ada urusannya sama Papua.

Berdasarkan hasil wawancara kantor imigrasi Tembagapura terhadap FJPE dan BML, mereka diketahui sampai di Jakarta dari Prancis pada 9 Maret 2017.

Dua hari kemudian, petugas imigrasi menemukan mereka sedang berada di lapangan udara Mozes Kilangin, Timika, dan akan menggunakan helikopter untuk pengambilan gambar dari helikopter. Dalam pemeriksaan, mereka mengaku sebagai kru tim The Explorers Network untuk pembuatan film dengan judul Papous La Grande Aventure atau petualangan besar di Papua.

Hasil pemeriksaan kantor imigrasi Tembagapura mendapati bahwa kedua pria itu tidak memiliki izin keimigrasian untuk kegiatan jurnalistik. Maka dari itu mereka dideportasi ke Paris, Prancis, pada 17 Maret 2017.

Andreas Harsono dari Human Rights Watch mengatakan wartawan asing yang terakreditasi di Jakarta masih dibatasi untuk pergi ke Papua. Ia mengamini bahwa semua jurnalis harus menunujukan visa wartawan ketika meliput di sebuah negara. Berdasarkan wawancara kepada 107 wartawan, redaktur, dan lembaga swadaya masyarakat, HRW menemukan bahwa persoalan pembatasan peliputan jurnalis asing telah berlangsung selama 25 tahun. (GIS)

 

TINGGALKAN BALASAN