Gema Azan di Lautan Teduh, Negeri Yumi, Yumi, Yumi

Port Vila, Semarak.news-Gema azan mulai terdengar dari bibir Abdul Masjeed (32). Tanpa pengeras suara dan apa adanya. Namun suara ini masih asing di telinga kebanyakan orang. Maklum mayoritas penghuni daratan utama Vanuatu yang tak lebih dari 13 ribu  kilometer persegi adalah Protestan. Islam adalah agama minoritas, tak lebih dari 10% atas 277,554 jiwa. Islam di Vanuatu diwariskan secara turun-temurun dan beberapa masuk Islam dengan menjadi mualaf.

Agama sudah melebur dengan rutinitas, tidak memakan babi adalah salah satu komitmen keimanan mereka. Namun tidak sedikit pula yang menggunakan babi sebagai penyelesai masalah dalam permasalahan atau pun sengketa adat. Diluar waktu salat, rumbai-rumbai penuh warna dan anak panah pada gendewa menjadi andalan untuk hidup. Mereka masih bergantung pada alam dengan berburu dan bercocok tanam sederhana. Mereka menanam untuk hidup dan selebihnya akan dijual.

Muslim di Vanuatu mulanya menjalar dari satu orang, Hussein Nabanga. Mengkritisi namanya, kata Hussein mungkin didapatnya ketika is mencari kebenaran Tuhan di India pada 1978. Ia adalah orang pertama dari bangsa Mele yang menjadi mualaf dan orang muslim pertama di Vanuatu. Pada 1992, satu tahun sebelum Nabangan meninggal dunia, ia bersama masyarakat muslim Mele mendirikan masjid. Masjid tersebut kini menjadi wakaf dengan nama Mele Mosque. Masjid sederhana ini pun menjadi markas untuk Vanuatu Islamic Association.

Komunitas muslim juga bertebaran di Lautan Teduh. Diketahui bahwa penyebaran Islam di Papua New Guinea (PNG) berasal dari Indonesia dan masih mengakulturasikan syariat dengan kearifan lokal. Masjid “muslim” Ahmadiah pun berdiri kokoh pada 2012 di Majuro, ibu kota dari Kepulauan Marshall. Berkembangya budaya “Islam” Ahmadiah tersebut dipengatuhi oleh kelompok Ahmadiah Fiji pada dekade akhir abad ke-20. Hal ini logis mengingat Ahmadiah muncul di India pada kolonialiasai Inggris. Sedangkan Fiji pun bekas kolonialisasi Inggris. Meskipun berbeda kepercayaan, semua makhluk Tuhan tetap harmonis dalam ekosistem yang balans.

Menurut Biondo dan Hecht dalam Religion and Everyday Life and Culture (Volume 3) (2010) terdapat 100 orang Vanuatu yang tercatat telah mengucap syahadat. Namun angka ini cukup stagnan bila menggunakan rumus doubling time, yaitu 70 dibagi dengan r (tingkat pertumbuhan penduduk) . Pada 2013, tingkat pertumbuhan penduduk di Vanuatu adalah 2,2, sehingga 70/2,2 = 31. Seminimalnya 31 tahun adalah waktu yang dibutuhkan untuk embut angka 100 menjadi 200. Namun hal ini berbeda jika rumus barisan Fibonacci digunakan, pastinya variabel penghambat dianggap nol. Jika n = 100, maka F(100) = (100-1) + (100-2) = 197, artinya jumlah penduduk muslim akan meningkat pada angkat 197 pada waktu yang lebih singkat dari pada 31 tahun. Tetapi perhitungan ini belum bisa dikatakan akurat mengingat variabel yang digunakan dihilangkan.

Penyebaran Islam

Pengaderan dai negeri kepulauan ini bisa dikatakan berdikari. Saat ini terdapat 28 Muslim dari Vanuatu yang belajar di universitas Islam di luar negeri, seperti di Fiji, Malaysia, Selandia Baru, Arab Saudi, Iran, dan Pakistan (Republika, 2013). Secara tidak langsung Indonesia turut mengalirkan budaya Islam ke nadi-nadi bangsa Melanesia. Lewat KBRI untuk Fiji di Suva, Indonesia memberikan beasiswa pendidikan untuk pemuda-pemuda di Pasifik. Universitas-universitas di Jawa-lah yang dipilih untuk menjadi perwakilan Indonesia.

Kini, komunitas Islam di negeri yang merdeka pada 30 Juli 1980 ini mulai diperhatikan. Pemerintah Republik Vanuatu mulai mempromosikan keelokan negerinya di mata dunia. Mereka tidak puas dengan angkat 197.000 turis pada 2008 dan mereka tidak menutup mata pada turis Islam. Perbaikan fasilitas masjid dan  produk halal mulia dikembangkan di negara berlagu kebangsaan “Yumi, Yumi Yumi”—Kami, Kami, Kami. (DZR)

TINGGALKAN BALASAN