Ini Trik Menyelundupkan 279 Kg Sabu Dari Tanjung Priok

Pelabuhan Tanjung Priok yang menjadi sasaran penyelundupan narkoba [Sumber : Indonesiaport]

Jakarta, Semarak.news – E Wee Hock , WN Malaysia yang dihukum mati dalam kasus penyelundupan 279 kg sabu dan ribuan ekstasi dari Cina – Tanjung Priok, sekarang dipindahkan dari LP Cipinang ke Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Bagaimana cara barang haram itu bisa mudah masuk ke Indonesia?

Ternyata paket itu tertahan pihak pelabuhan karena penerima paket, PT MAG tidak bisa dihubungi. Atas hal itu, Hock lalu menghubungi rekannya, Beng Arso Loka alias Abeng untuk mencari perusahaan yang bisa mengeluarkan barangnya. Dari mulut Abeng, Hock dikenalkan dengan Kasman alias Atat. Caranya yaitu Atat membuat perusahaan importir penerima baru, yaitu PT Kraungdo yang beralamat di Condet, Jakarta Timur.

Atas kesepakan itu, Hock melaporkan ke atasannya, Mr Chang dan Hock meminta uang lelah USD 10 ribu. Mr Chang menyanggupi dan untuk uang lelah akan diberikan apabila paket narkoba sampai di Taman Palem, Cengkareng.

Pada Desember 2011, berkas perusahaan penerima sudah jadi. Berkas ditunjukan Atat ke Hock dan Hock menyanggupinya serta memberikan uang pengurusan kontainer 50 persen.

Namun sampai Januari 2012, kontainer belum bisa keluar. Hal ini menyebabkan Hock mulai kesal dan mengancam Atat akan memindahkan pengurusan kontainer ke orang lain. Atat menawar dengan alasan ada masalah dalam proses. Pada April 2012, berkas selesai dengan Nomor B/L No KMTCHUA 0417380. Atat meminta pelunasan sisanya yaitu Rp 40 juta untuk pembayaran Redress dan pajak impor barang.

Seminggu kemudian, Atat kembali memberi tahu Hock bila B/L terkena Notul dari pihak Bea dan Cukai dengan dikenakan biaya Rp 102 juta.

Akhirnya pada 1 Mei 2012, kontainer keluar dari pelabuhan. Atat meminta tambahan lagi uang sebesar USD 5.250 serta untuk biaya tambahan trucking-penumpukan kontainer sebesar Rp 28 juta yang dikirim ke Taman Palem, Cengkareng.

Dengan cepat, Hock memindahkan ke lantai 2 rumahnya yang di Mediterania Residence, Pluit. Keesokannya, tim dari Ditnarkoba Polda Metro Jaya menggerebek komplotan tersebut. Ternyata selain menyelundupkan sabu, ia juga menyelundupkan 210 ribu butir ekstasi. Atas kejahatannya itu, Hock dan komplotannya diproses secara hukum dan duduk di kursi pesakitan.

Pada 13 Februari 2013, Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) menjatuhkan hukuman mati kepada Hock. Duduk sebagai ketua majelis Richard Silalahi dengan anggota Harsono dan Zaeni. Vonis mati itu tidak berubah hingga Mahkamah Agung (MA).

Hock akhirnya dipindahkan dari LP Cipinang ke Pulau Nusakambangan, bersama 6 terpidana mati lainnya. Saat ini belum ada pernyataan dari Kejaksaan terkait pemindahan gembong narkoba kelas kakap itu. (GIS)

TINGGALKAN BALASAN