Washington, Semarak.news—Presiden baru Amerika Serikat, Donald Trump paranoid. Ia panik dan menganggarkan $US 21,6 miliar untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan Amerika-Meksiko guna membendung tindak kriminal antarkedua negara dan diperkirakan selesai pada 2020.

Ketakukan ini  dibenarkan oleh  DPR fraksi Republik (Republican House of Representative), Paul Ryan di mana ia menyetujui untuk menganggarkan dana sebesar $US 15 miliar guna memoles proyek tembok sepanjang  2000 km itu. Sebetulnya, proyek ini bukanlah proyek baru melainkan proyek lama yang pembangunannya sudah rampung sepanjang 1047 km atau 52%. Terpilihnya Trump menjadi presiden ke-45 Amerika membuatnya berhayal, “Make America Great Again”. Namun hal tersebut tidak lepas dari ketakutannya terhadap teroris dan “kutukan” dari Meksiko yang selalu menghantui Amerika.

“Terrorphobia”

Amerika masih belum bisa melupakan mimpi buruk aksi 9/11. Atmosfer ketakutan mencekam seluruh warga Amerika tak terkecuali Trump hingga saat ini. Kebijakan pelarangan datangnya imigran dari beberapa negara mayoritas Islam adalah salat satu buntutnya. Mengingat kelicikan para teroris yang selalu berbuah petaka, presiden berambut putih ini meningkatkan pengamanan pasif di selatan Amerika untuk menekan ancaman teroris yang diharapkan  berimbas pada pulihnya psikologi rakyat Amerika, sehingga marwah “Make America Great Again” bisa hidup kembali.

Pada 2006, penekenan Secure Fence Act sudah dilaksanakan antara pimpinan kedua negara, namun hanya pada wilayah geografi tertentu. Ketakukan ini kembali terulang pada 26 Desmeber 2007 di mana Amerika memperbarui UU Dinding Perbatasan pada 2006 lalu. Ironisnya, pelaku 9/11, termasuk teroris asal Palestina Gazi Ibrahim Abu Mezer (1997) dan teroris asal Algeria Ahmed Ressam (1999) masuk ke Amerika tidak melalui jalur selatan, melainkan Kanada. Hal ini juga dipengaruhi karena hanya sedikit penduduk muslim di Meksiko.

Hal ini adalah sindrom yang lumrah dihadapi negara sekelas Amerika, mereka takut akan teror dan dilema di dalamnya. Bila dulu Amerika benci dengan Al-Qaeda, kini ISIS dan bentuk baru dari salafi jihadis lah perlu diwaspadai. Terutama ketika para “mujahid” ISIS dipukul mundur di Suriah dan muncullah fatwa “berjihadlah di negeri asal kalian” menjadi alasan digenjotnya pembangunan tembok tersebut.

Maka kebijakan imigran dan pembangunan tembok di Selatan merupakan kebijakan Trump yang saling berkaitan dan berkesinambungan untuk mencegah masuknya teroris ke Amerika.

“Kutukan” Meksiko

Hingga saat ini, Paman Sam hingga saat ini masih kebakaran jenggot dan kebobolan menghadapi arus narkoba dan imigran dari Selatan. Semenjak 1980 narkoba di Amerika mulai di suplai dari Meksiko terutama kokain. Pada waktu yang bersamaan, arus imigran gelap berbondong-bondong mengadu nasib di negeri federal ini. Mereka ibarat peribahasa “ada gula, ada semut”. Selain itu konsep ius soli dalam penentuan kewarganegaraan di Amerika menjadi magnet tersendiri. Anak yang lahir di Amerika meskipun berasal dari orang tua non-Amerika, termasuk imigran gelap secara otomatis menjadi warga negara Amerika. Tak ayal alasan ekonomi dan sosial-budaya membuat Amerika sebagai terminal mengadu nasib warga Meksiko.

Dari banyak studi yang dilakukan, alasan ancaman teror bukanlah hal yang tepat untuk membangun tembok tersebut. Imigran gelap dan narkoba lah yang seharusnya yang menjadi perhatian utama. Kendati demikian, Jonathan Gilliam (mantan Navy SEAL dan agen utama FBI) mengatakan ada beberapa catatan teror yang masuk dari selatan yang membonceng gembong narkoba lewat El Paso. (TheTru mpet.com , 2015), antara lain

  • 16 Juli 2015 telah terjadi serangan bom bunuh diri di Chattanooga, Tennessee, sedikitnya lima orang tewas;

  • 25 September, 2014, seorang teroris menggorok seorang wanita di Moore, Oklahoma;

  • 2014, empat muslim radikal melakukan sebuah penyerangan dan membunuh enam orang;

  • 2013, lebih dari lima muslim radikal, melakukan pengeboman saat Boston Marathon bombing, 8 orang tewas dan lebih dari 260 orang terluka.

Tercacat pada waktu itu, tercatat 75 kasus teroris yang berafiiasi dengan salafi jihadis telah membunuh 3.106 warga negara Amerika.

Kontra-Argumentasi

Ketakutan Trump akan teroris dibantah oleh salah satu badan intel Amerika—FBI. Menukil pendapat TheDailyBeast.com (2017), pada 1 s.d. 31 Agustus 2016 terdapat 538 kasus terduga teroris di perbatasan, termasuk insiden dalam negeri, terminal kedatangan bandara internasional, pos perbatasan, dan tempat administrasi visa dan asilum.

Pada perbatasan darat  terdapat 68 kasus, Michigan 26 kasus; New York 17; California 19 kasus; Arizona, Texas, Vermont, dan Washington 0 kasus; California 19 Kasus. Sebelumnya pada laporan bulanan FBI Terrorist Screening Center periode 2014-2015 melabel Michigan, New York, dan Washington memiliki indikasi kasus teror di perbatasan paling tinggi di Amerika.

Hal ini berbanding terbalik dengan argumen Trump di mana teroris memiliki tendensi masuk dari selatan. Masih sumber yang sama, pada April 2014 hanya terdapat 12 kasus indikasi teror di California dan Texas; lima kasus lebih banyak untuk Washington, New York, Michigan, dan Vermont pada periode yang sama.

Ancaman untuk Indonesia

Secara langsung tidak ada keterkaitan kebijakan Trump tersebut terhadap ketahanan Indonesia. Namun jika negara sebesar dan sekuat Amerika panik akan isu terorisme, tidak ada salahnya bagi Indonesia untuk waspada. Mengingat banyaknya alumni kombatan Suriah yang pulang ke Indonesia, termasuk 17 calon “mujahid” ISIS pribumi Indonesia yang dideportasi oleh pemerintah Turki pada Januari kemarin.

Ulah unik Trump ini juga menjadi sindiran bagi pemerintah Indonesi yang belum mampu menyelesaikan masalah perbatasan. Perbatasan adalah gerbang rumah, jika dijaga dengan baik, maka pelanggaran dapat diminimalkan. (DZR)

TINGGALKAN BALASAN