Ahok Minta Maaf, KH. Ma’ruf Amin Memaafkan, Eh Sebelah Kejang-kejang!

Jakarta, Semarak.news – Pada persidangan Ahok yang di gelar hari selasa tanggal 31 Januari 2016, kejaksaan mengundang ketua MUI KH. Ma’ruf Amin sebagai saksi. Selama tujuh jam, KH. Ma’ruf Amin dicecar pertanyaan-pertanyaan oleh hakim dan kuasa hokum Ahok mengenai kasus penistaan agama. Tersiarlah berita bahwa Ahok akan melaporkan KH. Ma’ruf Amin karena membantah bahwa dirinya pernah dihubungi oleh SBY untuk menerima Agus di gedung PBNU.

Jamaah NU marah, Ahok dinilai telah melakukan tindakan tidak sopan dan kasar terharap Rais ‘Aam NU yaitu KH. Ma’ruf Amin. Banyak gambar di media sosial mengajak warga NU untuk berjihad bela Ulama karena KH. Ma’ruf Amin dilecehkan bahkan ingin dilaporkan. Tapi sayang seribu kali sayang, Ahok dengan sigap membuat video untuk mengklarifikasi kesalahpahaman dalam persidangan. Ahok mengatakan bahwa dia tidak akan melaporkan KH. Ma’ruf Amin, yang dia laporkan adalah Habib Novel dan Gusjoey. Ahok tidak mungkin melaporkan KH. Ma’ruf Amin karena beliau adalah Rais ‘Aam PBNU, Ahok mengaku bahwa dirinya banyak dibela oleh Kyai NU, tidak mungkin Ahok melaporkan KH. Ma’ruf Amin.

Meskipun Ahok sudah minta maaf, masih banyak kalangan yang mengambil momen ini untuk membenturkan NU dan Ahok. Tapi bagaikan tersambar petir di siang bolong, jleb. KH. Ma’ruf Amin memaafkan Ahok. Beliau tidak terkena hasutan kelompok yang mengatasnamakan NU menarik NU ke Pilkada DKI. Harga NU terlalu murah untuk itu, karena NU fokus untuk menjaga NKRI dan budaya Indonesia, bukan hal sepele seperti itu. Bahkan Alissa Wahid anak Gus Dur, ikut bercuit di Twitter,

Postingan Alissa Wahid di Twitter (sumber: twitter.com)

Dari cuitan ini  Alissa langsung to the point, bahwa suasana seperti ini diharapkan agar orang NU marah-marah, tapi ternyata NU tetap menahan diri.

Orang yang dahulu membenci NU, bahkan membidahkan amaliyah NU, dengan adanya momen ini sok-sokan peduli NU. Berteriak bela Ulama, tapi diam ketika KH. Said Agil Siradj, Gus Dur, Gus Mus, Cak Nun, dan Buya Maarif dihina. Bahkan orang yang berteriak bela KH. Maruf Amin adalah orang yang sering memplesetkan tema mukhmatar NU “Islam Nusantara” dengan sebutan “Anus” “Sesat” bahkan “Liberal.” Itulah hipokrit kelas kakap, menutupi akal bulusnya demi ambisi pribadi.’

Dalam percaturan politik DKI, memang NU selalu dikait-kaitkan. Kelompok sebelah itu sakit hati sebenarnya sama NU. Bagaimana tidak sakit hati, NU sebagai ormas terbesar di Indonesia menolak bergabung untuk demo menolak Ahok, bahkan KH. Said Agil Siradj menghimbau agar ketika demo tidak ikut-ikutan, jika ingin demo silahkan tapi jangan membawa atribut NU. Di tambah NU sendiri banyak membela Ahok bahwa dirinya tidak menistakan agama, meskipun dikalangan NU sendiri ada juga yang mencekal NU.

Sebenarnya usaha mengadu domba NU sudah lama ada, mulai dibenturkan KH. Said Agil Siradj dengan KH. Hasyim Muzadi dan Gus Solah pasca mukhmatar, berharap NU akan terpecah belah. Tetapi nyatanya, tidak. NU tetap eksis, NU tetap selalu menjadi garda terdepan NKRI. Kemudian adu domba dilakukan lagi antara KH. Said Agil Siradj dan KH. Ma’ruf Amin, tetapi ternyata gagal juga. KH. Said Agil Siradj membuktikan bahwa dirinya dan KH. Ma’ruf Amin baik-baik saja, bahkan beliau buktikan dengan tersebarnya foto, KH. Said Agil Siradj mencium tangan KH. Ma’ruf Amin. NU itu gudangnya perbedaan pendapat. Kadang beda kadang sama, karena mayoritas warga NU itu berpikir dan belajar, tidak apa kata ketuanya harus sama. Jika ketuanya beda dengan jamaah biasa, NU tetap akan ta’dzim begitupun juga dengan jamaah lainnya. Ini yang khas dari NU, perbedaan banyak tetapi akhlak tadzim itu harus ada.

Ulama NU juga mempunyai akhlak yang tinggi, jika ada masalah di masyarakat, mereka akan menenangkan dan mengademkan, tidak memprovokasi apalagi sampai membawa masa. NU bukanlah organisasi yang berisik di jalan, tapi organisasi yang berisik di perpustakaan. Maksudnya, orang NU banyak yang menulis buku, mulai dari politik dan agama, sehingga perpustakaan penuh dengan karya ilmiah yang ditulis oleh orang-orang NU. (AY)

TINGGALKAN BALASAN