Fenomenologi Agama

Judul Buku        : Fenomenologi Agama

Penulis              : Mariasusai Dhavamon

Penerbit            : Gregorian University Press, Roma, 1973

Buku ini terdiri dari beberapa pokok persoalan yang dibagi menjadi lima bagian. Pertama, dibahas mengenai gejala umum agama primitif dan bentuk-bentuk agama primitif. Kedua, dijelaskan mengenai objek-objek agama, yakni yang kudus dan yang profan serta konsep ketuhanan. Ketiga, dijelaskan mengenai agama dalam berbagai macam bentuk dan penjelasan mengenai agama yang merupakan suatu hubungan antara manusia dengan Yang Transenden, maka ungkapan-ungkapan agama merupakan upaya ke arah realisasi hubungan itu dan bentuknya berupa mitos dan ritual. Keempat, menjelaskan mengenai pengalaman agama dalam doa, meditasi, dan mistik. Kelima, yakni penjelasan mengenai tujuan agama, yakni keselamatan.

Bagian I, mengenai agama primitif yang memiliki berbagai macam bentuk. Bentuk-bentuk yang dimaksud yang pertama adalah Animisme, dimana dipahami sebagai suatu sistem kepercayaan manusia religius khususnya orang primitif membubuhkan jiwa mereka pada manusia dan juga semua makhluk hidup serta benda mati. Kedua, Pra-Animisme atau Animatisme dapat dipahami sebagai kepercayaan dan teori untuk menjelaskan asal-usul historis dari agama dalam konteks pemikiran evolusionis. Ketiga, Totemisme yang dipahami sebagai fenomena yang merujuk kepada hubungan organisasional khusus antara suatu suku bangsa atau klan dan suatu spesies tertentu dalam wilayah binatang atau tumbuhan, Keempat, Monoteisme yang dibagi menjadi dua yakni eksplisit dan implisit. Monoteisme eksplisit adalah kepercayaan hanya pada satu Tuhan dengan mengecualikan semua Tuhan lain. Sedangkan Monoteisme implisit adalah kepercayaan akan satu Tuhan. Yang kelima, Pemujaan Terhadap Leluhur yang dapat dirumuskan sebagai suatu kumpulan sikap, kepercayaan dan praktik berhubungan dengan pendewaan orang-orang yang sudah meninggal dalam suatu komunitas, khususnya dalam hubungan kekeluargaan.

Bagian II, mengenai objek-objek agama. Ada beberapa konsep dan pemahaman mengenai “Yang Kudus”. Beberapa Agama yang ada di Indonesia pun memiliki pemahaman mengenai “Yang Kudus”. Seperti konsep tentang Yang Kudus dalam Agama Hindu. Bagi Orang Hindu, yang kudus sebagai yang berbeda dari yang profan ada dalam Veda (Pengetahuan Suci), Brahman (Formula dan Realitas Suci), Dharma (Hukum dan Kewajiban Suci), dan Moksha (pembebasan sebagai sarana dan tujuan pembebasan). Berbeda dengan Yang Kudus dalam Agama Islam yakni kepercayaan mengenai Tuhan Agama Islam, yakni Allah dalam pengalaman religius seorang Muslim dilukiskan sebagai Yang Paling Berkuasa di muka bumi ini. Allah dianggap Yang Maha Esa, dimana manusia menerima seluruh keberadaan dan kepada siapa manusia bergantung sepenuhnya.

Bagian III, penjelasan mengenai mitos yang berasal dari bahasa Yunani muthos, yang berarti cerita atau sesuatu hal berdasarkan pernyataan dari seseorang. Ada beberapa macam mitos, yang pertama adalah mitos penciptaan dunia lewat pemikiran dari seorang dewa pencipta yang menceritakan penciptaan alam semesta yang sebelumnya sama sekali tidak ada. Kedua, mitos kosmogonik yakni mitos yang mengisahkan penciptaan alam semesta menggunakan sarana yang sudah ada atau melalui perantara. Ketiga, mitos asal-usul yang mengisahkan asal mula atau awal dari segala sesuatu, seekor binatang, suatu jenis tumbuhan, sebuah lembaga, dan sebagainya. Mitos asal-usul mengakui keberadaan dunia, tetapi hanya berkisah tentang kemunculan baru dari benda-benda tertentu di dunia. Keempat, mitos mengenai para dewa dan para makhluk adikodrati lainnya. Kelima, mitos yang berkaitan dengan kisah terjadinya manusia (mitos antropogenetik).

Bagian IV, membahas mengenai doa yang merupakan bentuk pemujaan universal, dengan diam ataupun dengan bersuara, pribadi maupun umum, spontan maupun menurut aturan. Doa juga merupakan ungkapan religius yang khas dan satu-satunya tindakan religius yang berlaku untuk semua agama. Doa diartikan sebagai suatu hubungan yang asimetris. Doa memiliki bentuk dan keterkaitan yang berbeda, seperti seseorang yang dihubungkan dengan Tuhan sebagai Guru, Teman, atau Bapa, setelahnya akan selalu ada ketergantungan. Hal tersebut yang membedakan doa dengan rumus-rumus atau tindakan magis. Hubungan asimetris tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi. Karena, makna dan pandangan mengenai “Yang Kudus” dipandang sebagai yang transenden, suatu komunikasi masih dibuka dalam bentuk doa. Jurang antara yang Ilahi dengan yang profan justru dijembatani dengan tindakan doa. Inilah pertemuan antara yang Ilahi dengan yang manusiawi, suatu kehadiran Ilahi yang dirasakan oleh manusia dengan adanya gerak dari hubungan asimetris ke hubungan simetris.

Bagian V, membahas mengenai tujuan agama sebagai keselamatan bagi kehidupan manusia secara pribadi. Jenis keselamatan dalam setiap agama tentunya berbeda-beda, yakni keselamatan dari kondisi-kondisi manusia yang eksistensinya terbelenggu, situasi keterikatan pada kemalangan karena kelahiran kembali, keselamatan dari penderitaan dan hasrat atau nafsu darimana muncul semua kesengsaraan manusia dan ketidakbahagiaan, keselamatan dari pembangkangan terhadap kehendak Tuhan yaitu dosa, keselamatan dari penyelewengan atas ketaatan kepada hukum dan perintah Ilahi. Intinya, agama dan doa memiliki keyakinan pada diri masing-masing manusia untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan sarana rohani mereka untuk mengatasi dosa dengan upaya pengampunan dosa-dosa dan anugerah dari Tuhan.

TINGGALKAN BALASAN