Falsafah Hidup Jawa

Judul Buku        : Falsafah Hidup Jawa

Penulis              : Suwardi Endraswara

Penerbit            : Cakrawala, Yogyakarta (Cetakan Kelima, 2012)

Budaya Jawa memiliki berbagai macam aspek kehidupan. Jangan hanya beranggapan bahwa orang-orang Jawa masih memiliki pemikiran yang kuno karena masih kuat kepercayaannya terhadap mitos dan semacamnya. Masih banyak keindahan Budaya Jawa yang beragam apabila dilihat dari sisi yang lain. Mungkin saat ini ada yang masih mempercayai mengenai cerita dan mitos nenek moyang orang Jawa yang sebenarnya. Sosok Semar dalam pewayangan pun sempat dipercaya memiliki kaitan dengan nenek moyang Orang Jawa, karena mereka merasa kagum terhadap sosok Semar yang berarti samar (misterius). Semar dipercaya sebagai salah satu Dewa yang menjelma menjadi rakyat kecil. Dari situ, orang Jawa menganggap Semar ada dalam jiwa mereka yang mengajarkan kehidupan prasaja (sederhana) sebagai orang kecil, tetapi memiliki jiwa yang besar.

Sebagian besar masyarakat Jawa golongan tua masih memiliki upaya untuk melestarikan Budaya Jawa karena mereka merasa enggan jika harus meninggalkan nilai-nilai Kejawen. Inilah sifat buruknya orang Jawa. Mereka yang tua selalu menganggap bahwa mereka lebih njawani dan Budaya Jawa lebih melekat dalam diri mereka dibandingkan yang masih muda. Orang Jawa dari golongan tua menganggap masuknya arus globalisasi dan perkembangan-perkembangan yang terjadi telah mempengaruhi sikap, cara hidup, serta pola pikir orang Jawa yang tergolong generasi muda.

Kehidupan orang Jawa diwarnai dengan pola berpikir mereka yang berkaitan dengan hal-hal yang mitologis. Hal tersebut dikarenakan orang Jawa masih sangat menganut paham Kejawen, sehingga mereka beranggapan bahwa mitos adalah hal yang suci dan sakral. Mitos di Jawa pun juga memiliki banyak keragaman. Pertama, mitos berupa gugon tuhon yaitu larangan-larangan terhadap hal tertentu yang apabila dilanggar, dipercaya akan terjadi sesuatu yang tidak baik. Contohnya adalah kepercayaan anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ketiga, atau pasangan yang menikah dengan weton kelahirannya Wage dan Pahing. Kedua, mitos yang berupa bayangan asosiatif yang muncul dalam mimpi. Orang Jawa merasa mengenal mimpi baik dan mimpi buruk. Contohnya, apabila seseorang bermimpi menjadi seorang pengantin, itu tandanya kematian sudah dekat dengannya. Untuk mencegah hal tersebut, maka harus dilakukan selamatan. Ketiga, mitos yang berupa dongeng, legenda, serta cerita-cerita dari nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun. Hal tersebut diyakini memiliki legitimasi yang kuat di alam pikiran orang Jawa. Contohnya, mitos dan kepercayaan terhadap adanya Kanjeng Ratu Kidul yang dianggap memiliki kekuatan supranatural sehingga perlu dihormati dengan cara tertentu. Keempat, mitos yang memiliki aspek ora ilok (tak baik) jika dilakukan, seperti orang Jawa yang memiliki hajat pernikahan tak akan berani jika akan menanggap wayang yang memiliki cerita Abimanyu Gugur, apalagi yang memiliki cerita berkaitan dengan Perang Baratayudha.

Orang Jawa memiliki falsafah hidup yang luhur dan kompleks. Orang Jawa yang tangguh tampak pada masyarakatnya yang berpegang teguh pada salah satu falsafah hidupnya, yakni falsafah hidup madya (tengah), yang membuat mereka menjadi sadar akan kebudayaan mereka dan bisa menjadi salah satu jati diri orang Jawa walaupun hanya berupa ujaran lisan yang turun-temurun dan jarang ada yang memperhatikan. Ada yang percaya bahwa falsafah hidup madya lahir dari etika moral orang Jawa yang pada dasarnya tidak ingin diwah (disanjung) karena mereka lebih suka hidup dalam ukuran cukup. Cukup dalam artian tidak kaya dan tidak miskin, tak berlebihan tetapi juga tak kurang.

Intinya, buku Falsafah Hidup Jawa ini berisi tentang butir-butir Budaya Jawa yang kaya filosofi dan ada pula sedikit pembahasan mengenai mitos dan mitos Budaya Jawa yang telah lama dikenal dan dilakukan, tetapi jarang sekali mengerti maknanya.

TINGGALKAN BALASAN