Putusan MA Terabaikan, Petani Rembang Rela Long March 135 km

ratusan petani Kendeng yang akan melakukan long march

Semarang, Semarak.news – Pembangunan pabrik semen oleh PT. Semen Indonesia di Rembang sudah mendapatkan penolakan oleh petani Rembang. Bahkan sudah lebih dari dua tahun warga Rembang berjuang melalui proses hukum supaya izin lingkungan yang dikeluarkan atas nama PT. Semen Indonesia dicabut oleh Gubernur Jawa Tengah. Pembangunan  pabrik semen itu dirasa mengancam  ruang hidup petani dan mengancam ketersediaan air.

Perjuangan proses hukum warga rembang dimulai dari gugatan warga Rembang kepada PT. Semen Indonesia melalui PTUN Semarang dengan Nomor: 064/G/2014/PTUN.SMG tanggal 16 April 2015. Berlanjut dengan upaya banding dilakukan melalui PT TUN Surabaya dengan hasil putusan Nomor : 135/B/2015/PT.TUN.SBY tanggal 3 November 2015. Hingga kemenangan dirasakan warga Rembang dengan Putusan PK  Mahkamah Agung atas kasus PT. Semen Indonesia di Rembang, pada tanggal 5 Oktober 2016 dengan No. Register 99 PK/TUN/2016.

(baca: https://semarak.news/2016/12/06/11108-perjuangan-warga-rembang-menolak-pembangunan-pabrik-semen-rembang.html)

Sampai sekarang puutusan itu belum dieksekusi Gubernur Jateng dengan dicabutnya Surat Izin Lingkungan yang dikeluaran oleh Gubernur Jawa Tengah seperti tercantum dalam amar putusan di atas dan menghentikan semua kegiatan di obyek sengketa.

Tidak berhenti disitu saja Petani Rembang akan long march menempuh jarak ± 135 km dengan berjalan kaki penuh semangat dan sukacita, hendak menguatkan hati Bapak Ganjar Pranowo, selaku Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut Surat Izin Lingkungan PT. Semen Indonesia di Rembang.

Long march dimulai sejak kemarin senin 5 Desember hingga Jumat 9 Desember. Ratusan petani Kendeng yang ada di Kabupaten Rembang, Pati, Blora, Kudus akan melakukan long march dari Kota Rembang hingga Kantor Gubernur Jawa Tengah di Semarang, yang menempuh jarak ± 135 Km. Jarak tempuh yang panjang tidak menyurutkan semangat para petani Kendeng untuk terus memperjuangkan kelestarian Pegunungan Kendeng Utara dari berbagai upaya perusakan atas nama industri.

Berjalan kaki ratusan kilo yang dilakukan Petani Kendeng, sebagai bentuk simbol panjangnya perjuangan petani Kendeng hingga akhirnya memperoleh kemenangan, tetapi pihak pemerintah yang berwenang tidak segera menindaklanjuti putusan PK MA tersebut. Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional, seharusnya menjadi pedoman bagi pemerintah daerah untuk melakukan berbagai upaya peningkatan pertanian, bukan merubah lahan produktif pertanian menjadi kawasan industri pertambangan.

TINGGALKAN BALASAN