Warga Korban Penggusuran : Terima Kasih Indonesia

Medan, Semarak.news – Selama penggusuran, Ketua Forum Komunitas Masyarakat Pinggir Rel (FK-MPR), Joni M Nebaho yang mewakili warga korban penggusuran mengatakan terima kasih pada Indonesia yang jaya dan makmur saat masih ada orang kecil yang menderita karena digusur. Rumah warga pinggir rel yang berada di samping kanan dan kiri rel digusur sebagai upaya pembangunan rel ganda PT. Kereta Api Indonesia.

“ Saya ucapkan terima kasih pada Indonesia yang makmur dan jaya tapi masih ada orang yang menderita” kata Joni saat di temui di Jl, Bambu II, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan. (28/11/2016)

Pihaknya kecewa dengan perlakuan pemerintah daerah yang membiarkan masyarakat kecil yang tinggal di pinggir rel mengalami penggusuran. Akibatnya, masyarakat pinggir rel harus pindah. Namun Warga pinggir rel tetap tinggal di reruntuhan bangunan pasca penggusuran oleh aparat keamanan yang terdiri dari polisi dan satpol PP. pihaknya mengatakan bahwa mereka tidak memiliki pilihan lain

“ Pemerintah yang bilang akan menjamin kesejahteraan rakyatnya, membantu rakyat miskin hanya terdengar ramai dan terjadi di masa kampanye, setelahnya semua tidak tau dimana. Datang sih datang tapi cuma banyak omong saja. Sekarang kami tinggal dimana lagi kalau tidak di rel ini” tambah Joni.

Setiap hari warga pinggir rel harus merobohkan rumahnya sendiri bersama keluarganya agar tidak dirobohkan oleh aparat menggunakan alat berat. Pihaknya mengatakan jika menggunakan alat berat, material bangunan yang seharusnya bisa digunakan lagi akan hancur.

Selain itu pihaknya menyayangkan perobohan yang dilakukan oleh aparat dilakukan saat anak-anak sekolah pulang dari sekolahnya. Anak-anak tersebut melihat perobohan oleh pihak yang dianggap akan melindungi mereka. Jika anak-anak ini kecewa terhadap pemerintah, maka jangan salahkan orang tua mereka jika akhirnya mereka menjadi pihak yang membelot pada Negara.

“Setiap hari mereka belajar tentang Negara dan Pancasila tapi pemerintah mempertontonkan penggusuran pada anak-anak kami. Nanti kalo mereka sudah besar, jangan salahkan jika mereka membelot pada Negara bahkan menjadi teroris” tambah Joni yang juga bekerja sebagai pemulung botol.

Joni menambahkan bahwa relokasi yang seharusnya didapatkan masyarakat yang mengalami penggusuran tidak termanajemen dengan baik sehingga masih banyak warga yang enggan dan tidak bisa memeroleh tempat relokasi. Selain itu, kurang dari setengah dari jumlah warga yang tergusur, dapat memperoleh relokasi. (KUI)

TINGGALKAN BALASAN