Ada Potensi Makar dan Penghinaan Lambang Negara yang Dilakukan Habib Rizieq

Ketua FPI Habib Rizieq

Oleh: Tengku Vino

Sosok Habib Rizieq Shihab memang menjadi kontroversi belakangan ini. Apalagi saat berpartisipasi dalam aksi 4 November 2016 silam.

Pria 51 tahun itu memang menjadi tokoh yang vokal menyuarakan agar Gubernur Petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dipenjara atas kasus penistaan agama. Tak cukup dengan demo 411 yang ternyata berakhir ricuh, Rizieq berencana menggerakkan massa’nya untuk demo 2 Desember mendatang.

Aksi itu dinilai banyak pihak sebagai aksi makar. Sebuah aksi penggulingan pemerintahan, karena dilakukan di area sekitar istana. Bahkan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal M. Iriawan mengeluarkan maklumat terkait aksi tersebut. “Apabila tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar hukum, polisi akan menindak secara tegas sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ujar Iriawan.

Aksi 212

Sementara itu di tengah persiapan aksi 2 Desember mendatang, Habieb Rizieq ternyata juga tengah terbelit kasus penghinaan simbol negara. Kasus yang baru dilimpahkan oleh Bareskim ke Polda Jabar itu bermula saat Habieb Rizieq mengganti satu kata di sila pertama Pancasila dengan kata yang tidak pantas. Atas aksinya itu dia dilaporkan oleh Putri Sulung Soekarno, Sukmawati.

Menilik dua isu yang ada maka tidak bisa dipungkiri bahwa Habib Rizieq memang memegang trigger terhadap kasus penghinaan lambang negara serta upaya makar. Namun dengan potensi yang berbeda.

Ada makar dibalik 212

Potensi makar salah satunya, jelas pemerintah terlihat berlebihan menilai demo yang digelar 2 Desember nanti sebagai upaya makar. Sebab, potensi makar dinilai besar apabila memenuhi unsur politik, dan kesenjangan setiap elemen pemerintahan. Maja dari itu selama demo yang nanti digelar tidak menimbulkan kerusuhan maka semua akan baik-baik saja.

Namun apa yang dilakukan Rizieq ketika berorasibdapat membuatnya tersangkut kasus lain. Rizeq bahkan bisa terjerat Pasal 160 KUHP mengenai penghasutan, dengan hukuman penjara selama-lamanya enam tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 4.500,- (empat ribu lima ratus rupiah). Dalam beberapa pidatonya, Rizieq memang kerap menyerukan kata “bunuh Ahok”. Sehingga apa yang dia lakukan berpotensi terjerat pasal 160 KUHP.

Sedangkan potensi penghinaan agama adalah yang paling bisa menjerat Rizieq. Terlebih jika Sukmawati berhasil membuktikan perkataan Pria yang menjabat sebagai ketua Front Pembela Islam itu. Rizieq bisa saja dijerat dengan Pasal 57 jo Pasal 68 UU 24/2009 mengenai penghinaan teehadap lambang negara dengan hukuman empat tahun penjara. (RDN)

TINGGALKAN BALASAN