IYOIN LC MEDAN: Peduli Medan, Mimpi untuk Anak-Anak Pesisir

Medan, Semarak.news – Indonesian Youth Opportunities and International Networking (IYOIN) Local Chapter Medan telah selesai melaksanakan Program Peduli Indonesia di wilayah Asahan pada 19 Nopember lalu. Program ini berlangsung selama satu hari di MIS MPI KLEP Dusun X Desa Silo Baru Kecamatan Silau Laut, Asahan, Sumatera Utara dengan membawa tema ‘Satu aksi menghidupkan banyak mimpi.’ Sekolah dasar tersebut merupakan salah satu sekolah terpencil di Sumatera Utara.

Kegiatan yang seharusnya dimulai pukul 07.30 WIB terpaksa diundur hingga pukul 08.00 WIB. Hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang mulai hujan sejak Subuh. Jarak tempuh perumahan warga ke sekolah sekitar mencapai 600 m. Hujan menyebabkan jalanan selebar 1 – 1,5 m tersebut rusak dan kandas di sana-sini, ditambah lagi beberapa bagian jalan yang dibanjiri luapan muara sungai daerah setempat.

Pukul 8 tepat anak-anak dan para relawan sudah masuk ke dalam kelas masing-masing. Hanya ada lima ruangan di sana. Dua ruangan rusak, tiga ruangan yang digunakan untuk enam tingkatan kelas. Terjadi penggabungan kelas dengan total 47 siswa. Setiap kelasnya diisi oleh dua relawan pengajar dan seorang pengawas dari panitia Peduli Medan.

Kegiatan diawali dengan perkenalan relawan pengajar dan para siswa dilanjutkan dengan pengenalan dasar tentang Indonesia. Antusiasme siswa dalam mengenal Indonesia terlihat dari keaktifan siswa saat mulai banyak bertanya hal-hal mengenai Indonesia seperti budaya, bahasa, daerah, kota, presiden, pemerintah, dan sebagainya.Wawasan setiap anak terus diasah oleh para relawan. Benua, negara-negara selain Indonesia, serta bahasa internasional juga manejadi materi yang menarik untuk disampaikan. Penggunaan alat peraga oleh relawan pengajar nyatanya dapat memudahkan penyamapaian materi bahasan secara masksimal dan efesien.

Ketika cuaca mulai membaik, para siswa diarahkan untuk berpindah tempat ke lapangan di depan sekolah. Masing-masing tingkatan kelas diarahkan untuk mempersiapkan yel-yel sebagai penyemangat dipandu oleh relawan pengajar tiap kelompok. Setelah suasana mulai cair kembali, kegiatan senam pagi yang sempat diunsur pun diselenggarakan saat itu juga, walaupun hanya senam Pinguin yang kiranya sempat dilakukan. Alhasil, anak-anak masih saja tertawa-tawa dan meminta untuk mengulang senam pinguin serta menawarkan dirinya menjadi instruktur senam tersebut.

Pukul 11.00. WIB, para siswa masuk kembali ke kelasnya masing-masing. Masih sama, satu ruangan untuk dua tingkatan kelas. Namun hal ini tidak mempengaruhi keaktifan, partisipasi, dan semangat siswa. Mulailah topik pembahasan tentang cita-cita dan mimpi mereka dibuka. Semua anak memiliki cita-cita yang beragam, mulai dari dokter, guru, polisi, tentara, jenderal, pemain bola, penyanyi, pelaut, dan lain sebagainya. Tidak lupa, mereka juga menyampaikan berbagai macam alasan memilih cita-cita yang mereka sebutkan. Setelah itu, mereka diberikan gambar profesi sesuai dengan cita-cita yang mereka impikan untuk diwarnai. Hal ini bertujuan untuk mengasah kemampuan motorik anak serta dapat menanamkan impian mereka dengan warna-warna yang mereka inginkan.

“Orang melaut, jelasah mukanya hitam, capek kena matahari seharian biar bisa makan,” ujar Fadli, siswa kelas 5, saat ditanyai ihwal alasan ia memberi warna hitam pada wajah pelaut yang sedang ia warnai. Berbeda dengan dengan Fadli, Nazrima, siswi kelas 1 yang ingin sekali menjadi dokter malah tidak menyukai seragam berwarna putih dengan alasan cepat kotor. “Dokter kan harus bersih, kak. Warna kuning saja ya?” Godanya pada salah seorang relawan pengajar.

Tepat pukul 1 siang, seluruh panitia, relawan, guru, dan siswa pun makan siang bersama yang telah disediakan oleh panitia. Keterbatasan tempat sama sekali tidak mengurangi selera makan. Bahkan, seluruh siswa kelas 1 dan 2 meminta tambahan makanan dengan iming-iming ingin cepat tumbuh tinggi agar cita-citanya cepat tercapai. Pun, mereka berjanji untuk tetap tidak berhenti sekolah sampai tahap sekolah dasar saja.

Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan pemberian sertifikat penghargaan kepada Kepala Desa serta pembagian hadiah dan donasi dari Tim Peduli Medan kepada MIS MPI KLEP Kec Silau Laut Asahan serta diterima langsung oleh pihak sekolah berupa inventaris sekolah. Donasi juga dibagikan kepada masing-masing siswa berupa perlengkapan sekolah dan botol minum per orangnya. Penutupan temu ramah ini dilengkapi dengan foto bersama Tim Peduli Medan dan pihak sekolah.

Walaupun begitu, kegiatan masih belum usai hanya di sekolah saja. Setelah Ashar, Tim Peduli Medan dipandu untuk berjalan-jalan mengelilingi desa tersebut hingga ke muara dan berbaur lebih dekat kepada masyarakat. Di malam harinya, acara perpisahan dilakukan di salah satu rumah warga serta pemberian donasi untuk masyarakat setempat.

TINGGALKAN BALASAN