Indonesia mulai ketar-ketir dengan isu fanatisme agama. Terakhir kasus teror bom molotov di salah satu gereja di Samarinda. Perlu disadari dengan ditangkapnya para pengantin, maka perekrutan akan terus berkembang. Patah satu, tumbuh seribu sudah menjadi semboyan hidup. Adapun cara-cara perekrutan yang dilakukan adalah menggunakan internet. Mengapa? Metode baru ini lebih murah dan tidak terbatas pada waktu dan tempat, bahkan bisa diakses oleh siapa pun.

Padahal menurut Stroud internet diciptakan to satisfy demands emanating from the academic and research. Namun berkembangnya zaman juga berbanding lurus dengan kekompleksitasan tindak kriminal. Hingga saat ini telah diketahui sebanyak 11 jenis kejahatan dunia maya, diantaranya adalah cyber espionage, sabotage, dan extortion; carding; hacking and cracker. Meski 2014 lalu Indonesia pernah di spionase oleh Australia, namun kini Indonesia rentan terhadap cyberterrorism dan ini bersifat laten. Kelompok-kelompok radikal menggunakan media untuk menghasut dan memprovokasi masyarakat untuk membenarkan kekerasan atas nama agama.

Statistik

Menurut penelitian Gabriel Wienmann, pada 1998 terdapat 12 situs bernafaskan radikal. Lima tahun kemudian (2003), tercatat terdapat 2.650 situs radikal—naik 220 kali lipat. Kemudian pada 2014 website radikal sudah membiak pada kisaran 9.800 situs dan situs tersebut diakomodasi oleh jaringan teroris. Sedangkan berdasar pada riset Brooking Institution (Maret 2015), Twitter telah memblokir 46.000 akun yang terindikasi dikendalikan oleh ISIS dan masing-masing akun memiliki rata-rata 1.000 follower.

Para pelaku cyberterrorism  pun mempelajari kelemahan hingga psikologi dari target. Siapa yang dirasa potensial menjadi sasaran akan disikat, tidak pandang bulu terhadap individu ataupun pemerintah. Target utama mereka adalah siapa pun yang apatis terhadap keamanan IT. Khusus dalam cyberterrorism mayoritas target adalah manusia kelompok usia 15-35 tahun, termasuk remaja perempuan. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, sebanyak 88,1 juta jiwa warga negara Indonesia telah terekspos dengan internet—34,9% dari total populasi. Mahasiswa menjadi segmen utama (89,7%), disusul pelajar (69,8), dst. Usia-usia ini adalah tambang emas bagi propagandis kelompok radikal.

Secara khusus, cyberterrorism menggunakan media sosial, blog, Youtube, dsb. untuk propaganda dan menggunakan sistem “ternak website”. Istilah ini mendeskripsikan bahwa pembuatan website dilakukan secara masif, berbeda domain, tetapi memiliki konten yang sama. Contoh kasus adalah penyebaran majalah Dabiq—majalah propaganda online milik ISIS—baik dalam bahasa Arab, Inggris, dsb. di blog-blog yang berbeda, tetapi kontennya sama. Selain itu banyak akun-akun yang memuat cara-cara membuat bom. Sehingga apabila terdapat hal semacam ini perlu dicermati dan diwaspadai bahwa server dari akun-akun tersebut adalah kelompok-kelompok radikal.

Pola Prilaku

Pada buku yang dinamai The Use of the Internet for Terrorist Purposes  (2012) menjelaskan tujuh pokok alasan mengapa kelompok radikal agama menggunakan internet sebagai tempak “dakwah”. Hal utama adalah media propaganda yang murah dan mempu menjangkau jarak dalam waktu singkat—border less. Bahkan internet pun sudah menjadi kebutuhan primer semu, hampir setiap individu di dunia ini bisa mengakses internet. Apabila propaganda sudah menjangkar, maka proses rekrutmen bisa dilakukan atas dasar ekonomi (bagi si-miskin), dendam, ataupun karena kelemahan berpikir. Hal tersebut dikemas dalam hasutan dan ajakan untuk melakukan aksi teror, bisanya dikemas dalam file yang bisa diunduh secara gratis.

Selain itu, pendanaan dan pelatihan teror bisa dilakukan menggunakan jaringan internet secara mudah. Metode pendanaat bisa dikembangkan dari carding; permohonan bantuan langsung melalui chat room, social media, dsb.; e-commerce; hingga penipuan berbasis donasi. Hasil dan tersebut dikumpulkan untuk (1) pemuatan tutorial pelatihan bom, pengeksekusian sasaran, hingga kegiatan intelijen teroris, dsb.; (2) pembagian dana untuk penyusunan rencana aksi teror; (3) cyberattack hingga direct-attack terhadap target sasaean baik berupa orang ataupun instalasi.

Pencegahan

Meskipun pemerintah telah melakukan pemblokiran situs melalui Kementrian Komunikasi dan Informasi atas saran dari BNPT, tetap saja metode “ternak website” berhasil membiakkan puluhan bibit radikalisme di kalangan masyarakat. Oleh karena itu, perlu diberlakukan suatu metode untuk mengurangi cybercrime. Kata “mengurangi” di sini bukan menunjukkan pesimisme terhadap penindakan kejahatan dunia maya. Perlu diketahui bahwa tindak kriminalitas akan selalu berkembang dan selangkah “lebih maju” karena pelaku akan berusaha mencari celah dari setiap bentuk pencegahan kriminalitas.

Proses cegah dini bisa dilakukan dengan cara preventif dan represif. Pencegahan umum dapat dilakukan dengan peningkatan keamanan jaringan internet. Paling sering adalah metode “tambal-sulam”, bila kelompok radikal membuat 1000 situs, pemerintah pun membuat 1000 situs tandingan. Namun hal ini tak akan bertahan lama, pencegahan semesta melalui kerja sama dengan lembaga-lembaga khusus milik pemerintah baik LSM bisa menjadi pilihan alternatif. Tindakan represif pun perlu diberikan agar para pelaku jera dan kembali ke jalan yang lurus. Selain itu, pemerintah perlu melakukan proyeksi counter-cyberterrorim melalui kurikulum pendidikan dan pembuatan cyberlaw.

Sebagai manusia, kita harus mahir mengolah mengkroscek informasi—skeptis. Perkuat iman, jangan mudah terombang-ambing atas hal-hal yang kebenarannya belum jelas. Pemerintah pun wajib bertanggung jawab atas keamanan rakyatnya. Hukum fardlu ain berlakau bagi tiap-tiap lembaga pemerintah untuk mengawasi dan menanggulangi hal ini. Beban tidak hanya dipikul oleh BNPT atau Kominfo, tetapi berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing oleh setiap instansi pemerintahan di Indonesia. (DZR)

TINGGALKAN BALASAN