1000 Lilin untuk Intan Olivia dari Rakyat Surabaya

Intan
Aksi 1000 Lilin di Taman Bungkul, Kota Surabaya, untuk memperingati Hari Toleransi Internasional dan bentuk simpati terhadap Bom Samarinda [Sumber: Arsip Semarak News]

Surabaya, Semarak.news – Pasca peledakan bom di HKBP Samarinda pada Minggu (13/11/2016) yang menewaskan Intan Olivia Marbun (2,5 tahun), berbagai tanggapan dan simpati bermunculan dari masyarakat. Kali ini giliran puluhan masyarakat Kota Surabaya dengan mengatasnamakan Gerakan Solidaritas Surabaya untuk Indonesia yang melaksanakan aksi simpatik bertajuk Aksi 1000 Lilin di Taman Bungkul, Kota Surabaya pada Rabu (16/11/2016), sebagai bentuk respon terhadap maraknya aksi intolerir antar golongan di Indonesia.

“Kebetulan ini hari toleransi internasional, dan kebetulan melihat suasana negeri kita yang kacau, kita mengadakan kegiatan seperti ini untuk mengingatkan kembali bahwa Indonesia bukan hanya milik satu golongan,” ujar Sultan Sihombing, perwakilan dari GMKI Surabaya.

Dirinya menambahkan bahwa kegiatan yang dipromotori oleh mahasiswa dari GMKI, GMNI, KMHDI, dan PMKRI ini selain bertujuan untuk memperingati hari toleransi internasional, juga untuk menunjukkan kepedulian terhadap keluarga korban bom Samarinda. Selain itu, Sultan berpendapat bahwa aksi teror bom tersebut menunjukkan kegagalan pemerintah, dan perlu dijadikan refleksi bagi pelaksanaan toleransi di Indonesia.

Sementara itu, Teodorikus Hanpalam, Perwakilan PMKRI Surabaya sekaligus orator dalam aksi tersebut, mengutarakan bahwa mahasiswa sangat tidak setuju dengan segala jenis aksi teror, terutama jika korbannya adalah anak kecil seperti Intan Olivia Marbun, korban Bom Samarinda (13/11/2016).

“Kita ini Indonesia, kita wajib bangga dengan kebhinnekaan kita. Segala tindakan-tindakan (kekerasan) yang mengatasnamakan apapun itu tidak dapat dibenarkan. Kita sebagai pemuda sangat dan sangat mendukung bagaimana pemerintah memperhatikan (isu intoleransi), karena ini bukan hanya isu daerah tetapi nasional,” tambah Teodorikus.

Sementara itu sebagai perwakilan mahasiswa Hindu, Putu Agung Martin (Ketua KMHDI Jatim) mengatakan bahwa masyarakat Indonesia telah cukup tersakiti oleh tindak kekerasan yang terjadi pada aksi 4 November 2016 di Jakarta, dan kemudian disusul dengan aksi teror bom di Samarinda yang mengakibatkan satu korban tewas. Agung memandang hal tersebut menjadi lebih menyakitkan lagi ketika masyarakat dan pemerintah telah menggembar-gemborkan toleransi antar umat, tetapi masih terdapat beberapa oknum yang melanggarnya.

“Hal ini (tumbuhnya radikalisme) merupakan PR tidak hanya pemerintah, tetapi kita juga generasi muda seharusnya yang dari bibit-bibitnya ini, radikal ini kita seharusnya kita sudah mencegah supaya ke depannya bhinneka tunggal ika benar-benar bisa kita jalankan,” ujar Agung.

Agung turut menambahkan bahwa sejatinya saat ini Indonesia masih dalam proses mencapai bhinneka tunggal ika. Namun demikian ia menyatakan bahwa saat ini telah banyak contoh bentuk toleransi, seperti pembentukan komplek rumah ibadah di Puja Mandala, Nusa Dua, Bali.

Kejadian teror dengan mengatasnamakan suatu kelompok agama atau golongan tertentu telah sering terjadi di Indonesia. Berbagai pandangan terhadap fenomena aksi teror ini muncul dari masyarakat, salah satunya yang memandang aksi teror sebagai bentuk politisasi SARA oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab. Namun bagaimanapun juga faktanya, masyarakat harus tetap memegang teguh empat pilar kebangsaan dan semangat kebhinnekaan untuk tetap menjaga persatuan bangsa Indonesia. (MI)

TINGGALKAN BALASAN