Perbedaan Adalah Rahmad, Menjaga Persatuan Adalah Kewajiban

Bendera Merah Putih sepanjang jalan Jedral Sudirman

Bangsa Indonesia sejak lahirnya adalah bangsa yang mempunyai perbedaan-perbedaan di dalamnya. Perbedaan wilayah, bahasa, agama, adat, budaya dan kebiasaan adalah sesuatu yang harus diterima dan disadari sehingga terbentuknya bangsa Indonesia itu karena semua pendiri bangsa ini sepakat untuk menyatukan perbedaan dan kebhinekaan tersebut. Perbedaan dan kebhinekaan tidak dianggap sebagai suatu halangan dan beban, kebhinekaan itu justru dianggap sebagai rahmad dan hadiah dari Allah Tuhan YME yang harus dirawat dan dipelihara sebagai kekayaan dan khasanah bangsa Indonesia. Sedang persatuan dalam perbedaaan adalah modal utama bangsa Indonesia untuk mewujudkan apa yang cita-citakan sebagai masyarakat yang adil dan makmur.

 

Peristiwa demo 4 Nopember di Jakarta yang baru saja berlalu beserta peristiwa yang menyertainya baik sebelum, saat dan pasca kejadian telah menimbulkan luka bagi rasa kerukunan, kekeluargaan, persatuan dan perdamaian yang telah kita nikmati bersama sebagai bangsa Indonesia. Curiga, sentimen dan kebencian yang diungkapkan dalam, perkataan, orasi, provokasi dan agitasi untuk menyerang teman dan saudara sebangsa dan setanah air baik langsung maupun melalui media sosial terimplementasikan secara riil dalam aksi demo damai 4 Nopember 2016 di Jakarta walaupun pada awalnya berlaku damai. Namun dalam setiap peristiwa hendaknya kita mampu mengambil pelajaran dan hikmah sebagai cerminan untuk menatap dan menjalani kehidupan mendatang terutama kehidupan sebagai individu, keluarga, komunitas, masyarakat dan bangsa. Peristiwa itu adalah Hikmah, ilmu dan pengalaman  sehingga lebih berhati-hati, antisipatif  dan responsif dalam menghadapi ancaman dan gangguan yang merusak kebhinekaan dan Persatuan Indonesia.

 

Dalam konteks Sulawesi Utara dengan adanya peristiwa tersebut kami sebagai warga negara dan warga Sulut berharap sebagai berikut : Pertama, semua komponen bangsa untuk menahan diri, jangan mudah terprovokasi. Kedua, mari kita membiasakan diri untuk menyelesaikan setiap permasalahan dengan jalan damai sesuai koridor konstitusi yang berlaku, kita ini negara hukum. Ketiga, percayakan kepada pemerintah, terutama kepada penegak hukum dan hilangkan rasa curiga atas proses hukum yang sekarang sedang berlangsung di Jakarta. Keempat, untuk teman-teman di wilayah Sulut mari kita tunjukkan bahwa Sulawesi Utara adalah daerah yang mempunyai rasa toleransi beragama yang baik, cinta damai, masyarakat Sulut cukup dewasa menghadapi setiap permasalahan karena sudah terbiasa sejak dulu kala.

 

Oleh : Drs Amin Lasena, MAP

( Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulut )                       

TINGGALKAN BALASAN