Internet, Ancaman Nyata Indonesia

Oleh: Muhammad Irfan

Ilustrasi: indoesianhacker

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, intensitas penggunaan teknologi digital terutama internet semakin meningkat. Saat ini peran teknologi tidak hanya sebagai media hiburan namun juga dapat berperan lebih. Tidak jarang kebanyakan masyarakat Indonesia kini menggunakan teknologi untuk meringankan aktivitasnya. Mulai dari transaksi jual beli, transportasi, hiburan dan lain- lain. Namun banyak masyarakat Indonesia yang masih belum paham tentang ancaman siber dari teknologi yang berkembang saat ini. Kejahatan siber yang paling nyata saat ini melalui internet.

Apakah kejahatan siber itu?

Secara sederhana kejahatan siber atau cyber crime dapat diartikan sebagai segala jenis aktivitas kriminal yang menggunakan teknologi telematika sebagai medianya. Bentuk dari kejahatan siber ini berbagai macam, dari mulai yang ‘low tech’ seperti pencemaran nama baik melalui media sosial sampai yang ‘high tech’ seperti pencurian data kartu kredit dan data nasabah lainnya. Salah satu kejahatan siber yang saat ini merupakan ancaman nyata adalah internet.

Riset dari BMI Research bahkan memprediksi bahwa jumlah transaksi belanja online di Indonesia akan mencapai Rp 50 triliun (2015), meningkat dua kali lipat (Rp 21 triliun) dari tahun 2014. Meningkatnya data tersebut tidak diiringi dengan kewaspaan terhadap kejahatan siber. Dari kegiatan tersebut kita serring kali memasukkan identitas diri kita seperti nama, tempat tanggal lahir, alamat, pekerjaan, nomor telepon hingga nomor kartu kredit ke sembarang situs yang tidak dijamin keamanannya. Hal tersebut berpotensi disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang akan mencuri data-data pengguna internet. Selain itu oknum oknum tersebut dapat menyebarkan malware terhadap situs-situs instansi perbankan yang mampu mencuri nomor rekening dan melakukan transaksi secara ilegal tanpa diketahui sang pemilik.

Dampak dari kejahatan ini sanagat besar, dalam jangka panjang apabila terus dibiarkan, industri perdagangan akan dijadikan target mereka yang menyebabkan kerugian yang besar. Transaksi jual beli yang dapat dilakukan di internet juga seringkali disalahgunakan. Barang haram seperti narkotika pun tak luput jadi objek perdagangan. Bahkan menurut data transaksi narkotika di internet memiliki omset miliaran. Beberapa bandar narkotika yang telah ditangkap juga menuturkan, meraka mengimpor barang haram tersebut melalui transaksi online. Hal ini dikarenakan tidak adanya pengawas dalam transaksi tersebut yang menyebabkan mereka bebas melakukan aktivitas jual beli di internet.

Ancaman Deep Web

Dalam jaringan broadband, seluruh negara di dunia terhubung, hal itu seiring dengan meningkatnya transaksi online. Hanya dengan akses tersebut, pembayaran dapat melintasi antar negara tanpa harus melakukan pertemuan di suatu tempat. Hal tersebut merupakan suatu ancaman bagi Indonesia karena banyaknya transaksi online dapat memicu terjadinya transaksi gelap atau ilegal melalui jaringan DEEP WEB. DEEP WEB merupakan suatu jaringan yg tidak muncul dipermukaan. Selama ini yang kita gunakan di internet hanya sebagian kecil saja informasi yang dapat diakses. Namun sebenarnya masih banyak informasi yang tersimpan di internet namun memerlukan cara-cara tertentu untuk mengaksesnnya. Dalam DEEP WEB tersebut terdapat berbagai macam transaksi gelap, mulai dari perdagangan narkotika, satwa yang dilindungi, senjata ilegal hingga perdanganan orang. Hal ini menjadi ancaman disemua negara tidak terkecuali bagi Indoensia. Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas pendudukannya menghabiskan waktu luang untuk berselancar di internet. Apabila tidak menjadi perhatian khusus, kedepannya Indonesia akan mengalami kerugian terutama di sektor perdagangan. Hal tersebut dikarenakan adanya transaksi di internet yang ilegal dan tidak dikenai pajak bea cukai.

Ancaman Provokasi untuk Memecah Belah Persatuan

Selain beberapa contoh dari kejahatan siber diatas, yang selanjutnya adalah penyalahgunaan media massa. Pada hakikatnya media massa tidak terlalu berbahaya dan bahkan memiliki manfaat untuk mempermudah komunikasi antar pengguna. Namun apabila berlebihan menimbulkan efek negatif. Media sosial memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Semua kegiatan kita kebanyakan dihabiskan melalui media massa. Namun bebeapa efek negatif yang nyata sudah terjadi dan dialami oleh penggunanya.

Contohnya adalah penyalahgunaan media massa sebagai bahan provokasi untuk memecah belah persatuan.  Melalui media massa, oknum-oknum dapat dengan mudah menyebarkan isu-isu untuk dijadikan media penggalangan yang berdampak mempengaruhi pemikiran para pengguna. Media massa yang hakikatnya terhubung dengan internet memiliki tingkat keamanan yang lebih rendah daripada dunia nyata. Dalam dunia nyata seseorang melakukan provakasi berupa penggalangan dengan menyebarkan isu-isu, dalam waktu tertentu akan diamankan oleh pihak berwajib. Namun bagaimana dengan dunia maya? Dalam dunia maya kemanan dinilai masih rendah. Banyak cara yang dilakukan untuk ‘mengakali’ berbagai aktivitas di internet agar tidak tercium pihak yang berwajib. Didalam dunia maya, seseorang bebas menyebarkan atau memposting suatu objek yang dapat mempengaruhi seseorang dengan tujuan menggalang. Contohnya apabila ada seseorang yang membuat postingan berupa artikel atau berupa ajakan, namun hal itu merupakan hal yang sensitif di masyarakat, maka dapat diprediksi masyarakat akan membaca postingan tersebut hingga tidak menutup kemungkinan pengguna tersebut akan tergalang.

Bila dahulu Belanda memutuhkan 350 tahun untuk melakukan devide et empera, maka saat ini dalam hitungan menit hal tersebut sudah dapat terjadi melalui media massa. Para pengguna dengan mudahnya di provokasi terhadap isu-isu yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan.

Menyikapi hal tersebut pemerintah baru-baru ini membentuk tim khusus yang menangani kejahatan siber yang berpotensi mengancam stabilitas nasional. Namun hal tersebut dirasa belum cukup mengingat mayoritas pendudukan Indonesia saat ini kecanduan dunia maya. Selain itu mayoritas penduduk Indonesia lebih mudah diarahkan terhadap isu-isu yang sensitif atau negatif. Hal tersebut pada kenyataannya dapat dibuktikan dengan masih minimnya masyarakat Indonesia yang menggunakan dunia maya dengan bijak. Masih sedikit masyarakat Indonesia yang melakukan hal postif di dunia maya seperti membaca berita, menggali informasi, dan lain-lain. Pihak yang berwenang dalam hal ini Kementerian Kominfo seyogyannya ebih menekankan penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang menggunakan internet dengan bijak, agar tidak terjadi kejahatan yang berawal dari aktivitas di internet yang dapat mengancam stabilitas nasional.

Penulis: Muhammad Irfan

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Brawijaya

TINGGALKAN BALASAN