Lembaga Intelijen dan Gerakan Radikalisme

Oleh: Arief Rifkiawan Hamzah

Gambar: matanews.com

Maraknya gerakan radikalisme di Indonesia merupakan ancaman yang sangat berbahaya bagi keamanan negara, pasalnya gerakan tersebut telah melahirkan para pelaku teror yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Mereka secara diam-diam dan terang-terangan menggerogoti dan menembus benteng pertahanan perdamaian serta keamanan Indonesia yang sudah dibangun sejak lama, mereka tidak segan-segan meledakkan bom yang ditaruh di gedung, di mobil, koper, pasar, sampai bom bunuh diri. Hal tersebut tentu menimbulkan kegelisahan dan kekhawatiran yang sangat mendalam bagi masyarakat Indonesia, sehingga keamanan negara Indonesia banyak dipertanyakan oleh pelbagai pihak.

Keadaan tersebut membuat pemerintah melakukan gerakan peningkatan lini pertahanan dan keamanan negara melalui pelbagai hal, salah satunya melalui penguatan integritas Badan Intelijen nasional. Digantikannya Sutiyoso dengan Budi Gunawan menjadi awal penguatan integritas dan profesionalitas BIN. Badan Intelijen Nasional (BIN) merupakan lembaga pemerintahan yang bertugas untuk mengamati dan mengumpulkan informasi terkait segala sesuatu, baik di bidang politik, budaya, ideologi, hukum, dan keamanan negara. Adapun peran BIN menurut UU RI Nomor 17 tahun 2011 adalah melakukan upaya pekerjaan, kegiatan, dan tindakan untuk deteksi dini dan peringatan dini dalam rangka pencegahan, penangkalan, dan penanggulangan terhadap setiap hakikat ancaman yang mungkin timbul dan mengancam kepentingan dan keamanan nasional.

Dengan pimpinan baru dalam tubuh BIN, Indonesia memiliki harapan baru terhadap kualitas keamanan negara Indonesia. Pasalnya Budi Gunawan yang pernah menjabat Wakapolri memiliki power yang kuat untuk melaksanakan tugasnya dalam meningkatkan keamanan negara, baik yang berkaitan dengan pendekteksian, peringatan, maupun penanggulangan terhadap gerakan-gerakan politik, agama, ideologi, serta hukum yang sangat membahayakan masyarakat Indonesia.

Prioritaskan Penanggulangan Gerakan Radikalisme

Kita sebagai warga negara Indonesia tentu sangat menginginkan negara yang tercinta ini menjadi negara yang aman dan tentram, terbebas dari gerakan radikalisme yang bisa membawa dampak buruk terhadap nama baik bangsa dan negara. Begitu juga dengan para personel Badan Intelijen Nasional, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Aparat Keamanan, dan Pemerintah pada umumnya. Maka penguatan pertahanan dan keamanan Negara Indonesia dari gerakan radikalisme harus diprioritaskan oleh BIN, yang saat ini menjadi pilar pendeteksian terhadap gerakan tersebut.

Pendeteksian atau pengumpulan informasi mengenai apa, bagaimana, dan kapan para pelaku radikalisme bergerak menggerogoti pertahanan dan keamanan Indonesia bisa dilakukan di beberapa titik dan pelbagai hal.

Pertama, meminimalisir adanya website atau blog-blog yang disinyalir bisa membuat masyarakat Indonesia terjerumus menjadi teroris. Hal ini harus dilakukan, pasalnya internet menjadi salah satu wahana para pelaku gerakan radikalisme, yang dengan sangat leluasa mendoktrin para generasi muda untuk berwawasan radikal dan tidak berperikamanusiaan.

Kedua, bekerjasama dengan para pemerintah daerah untuk mengadakan penyuluhan kepada masyarakat luas, baik di tingkat kabupaten, kecamatan, desa, RT, dan RW. Dengan harapan informasi yang telah dihimpun oleh BIN mengenai gerakan radilakisme, bisa diinformasikan kepada masyarakat luas. Dari situ mereka bisa mengetahui ciri-ciri gerakan radikalisme, bahayanya gerakan radikalisme, dan cara penanggulangannya, sehingga mereka tidak menggubris 1) ajakan-ajakan kegiatan yang mencurigakan; 2) tidak mudah untuk diajak siapapun tanpa mengetahui mengapa dan untuk apa; 3) iming-iming gaji yang tinggi.

Ketiga, membumikan jiwa nasionalisme and humanisme kepada para generasi muda Indonesia melalui pendidikan. Jiwa nasionalisme ini perlu diasah secara kontinyu oleh guru maupun dosen melalui hidden kurikulum. Penguatan jiwa nasionalisme dan humanisme secara formal memang minim, namun dengan mengaktifkan hidden kurikulum, para akademisi dan praktisi pendidikan bisa memiliki banyak ruang untuk meneguhkan jiwa nasionalisme dan humanisme para generasi muda.

Pada pucaknya, Badan Intelijen Nasional bisa mengajak masyarakat secara luas untuk lebih memprioritaskan peningkatan pertahanan dan kemanan diri, keluarga, dan masyarakat dari bahayanya gerakan radikalisme.

Penulis: Arief Rifkiawan Hamzah

Peneliti Muda dan Koordinator IKA PMII Universitas Islam Sultan Agung Wilayah Yogyakarta.

TINGGALKAN BALASAN