UNIKA Semarang Gelar Pemutaran Film dan Diskusi “Buka Hasil TPF Munir Sekarang Juga!”

Pemutaran Film dan Diskusi “Buka Hasil TPF Munir Sekarang Juga!” (11/11)

Semarang, Semarak.news – Universitas Katolik (UNIKA) Soegijapranata Semarang bekerjasama dengan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS) menggelar diskusi dan nonton film bersama Munir Korban Cuci Tangan Negara, His Story dan Garuda’s Deadly Upgrade di Ruang Theater lt 3 Gedung Thomas Aquinas Kampus UNIKA Soegijapranata Kota Semarang, Jumat (11/11). Diskusi bertajuk “Buka Hasil TPF Munir Sekarang Juga” ini dihadiri puluhan mahasiswa.

Hadir sebagai narasumber diskusi Nisrina N Rahman (KONTRAS), Zaenal Arifin (Lembaga Bantuan Hukum Semarang), serta Benny D Setianto (Dosen UNIKA Soegijapranata). Film-film yang ditampilkan ini bercerita tentang kehidupan Munir Said Thalib, aktifis HAM yang wafat 12 tahun lalu karena diracun saat perjalanan dari Jakarta ke Amsterdam. Komisi Informasi Pusat telah memutuskan pemerintah segera mengumumkan hasil temuan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus meninggalnya Munir Said Thalib, Namun hingga kini yang terjadi justru saling lempar tanggung jawab akan ketidakjelasan keberadaan dokumen tersebut.

Pemutaran Film dan Diskusi “Buka Hasil TPF Munir Sekarang Juga!” di Gedung Theater UNIKA Soegijapranata Semarang (11/11) semarak.news/ardi
Pemutaran Film dan Diskusi “Buka Hasil TPF Munir Sekarang Juga!” di Gedung Theater UNIKA Soegijapranata Semarang (11/11) semarak.news/ardi

Nisrina dalam diskusi menegaskan Pollycarpus bebas bersyarat pada 2014 sehingga seakan dokumen TPF tidak memiliki pengaruh yang berarti. Ketika Kontras meminta untuk mempublikasikan dokumen tersebut, pemerintah hanya berkata tidak tahu dimana dokumen tersebut disimpan dan tidak tau instansi mana yang memiliki dokumen tersebut.

“Dokumen telah dicopy sebanyak 7 buah dan diserahkan masing masing kepada Polisi, BIN, dan instansi lainnya. Alasan dokumen hilang dan sebagainya adalah suatu indikasi bahwa pemerintah memang tidak ingin membuka dokumen tersebut kepada publik” ungkap Nisrina selaku Biro Kampanye dan Jaringan KONTRAS.

Zaenal Arifin menambahkan banyak hal yang didapat oleh Tim Pencari Fakta dimana sebenarnya terdapat banyak dokumen soft file hasil pengumpulan fakta yang bersifat legal dan dapat digunakan sebagai dasar untuk mencari tahu pelaku pembunuhan Munir sebenarnya.

“Publikasi mengenai fakta kematian Munir merupakan bentuk integritas negara dalam menegakkan konstitusi” tambah Direktur LBH Semarang ini. (BIP)

 

TINGGALKAN BALASAN