Ormas Islam di Sulut Gelar Dialog Untuk Kemaslahatan Bangsa

Narasumber Dialog Stretegis. [Foto: Semarak.news / Dika]

Manado, Semarak.news – KAHMI Sulut beserta BKPMRI Sulut melakukan dialog strategis dengan tema kontribusi kepemudaan dalam menyikapi persoalan bangsa dan negara, Jumat (4/11), di Aula Hotel Sahid Kawanua Manado. Dialog ini bertujuan untuk membangun kembali jiwa kepemudaan Islam bagi para remaja. Bupati Bolsel, H. Herson Mayulu hadir dalam dialog tersebut sebagai keynote speakers.

Herson mengungkapkan, bahwa pemuda Islam harus berani merubah diri menjadi pemuda yang lebih baik dalam berperan dan bertindak, lebih mengutamakan berpikir daripada asal dalam bertindak. “Kondisi bangsa dan negara saat ini belum stabil, maka sebagai umat muslim harus bertransformasi diri,” ungkap Bupati Bolsel.

Selain itu, Herson juga menghimbau kepada seluruh umat muslim agar tetap menjaga kedamaian dan ketentraman di Bumi Nyiur Melambai ini. “Masalah yang terjadi di Jakarta jangan terjadi di Sulut, masyarakat muslim harus tetap menjaga kedamaian, hati boleh marah tetapi jangan melakukan kekerasan karena Islam tidak mengajarkan kekerasan, sudah ada Polisi dan Jaksa untuk mengadili. Umat muslim harus intropeksi diri, karena yang merusak islam itu bukan dari faktor ekstern tetapi dari intern,” ujar Herson.

Dalam kesempatan dialog tersebut, juga diundang Kapolda Sulut yang diwakili oleh Kabid Sarpras Polda Sulut, Kombes. Pol. Endang Syarifudin. Sementara itu, dalam pembicaraannya, menegaskan bahwa pemuda sebagai unsur kehidupan sosial yang sangat penting perannya. Remaja akan menjadi pengerak bagi kemajuan suatu bangsa dan negara. “Manusia memiliki 5 golongan, yaitu Pejabat, Pengusaha, Tokoh Agama/Tokoh Adat, Remaja, dan Wanita. Masing-masing golongan memiliki perannya, sehingga diharapkan semua golongan dapat merangkul satu sama lain, khususnya para tokoh agar merangkul remaja menjadi yang benar,” tangkasnya.

Menurutnya, sebagai warga negara yang baik, harus selalu menghargai sejarah kemerdekaan Indonesia, dimana kemerdekaan yang diraih berkat usaha dari berbagai elemen masyarakat.

“Manusia adalah makhluk sosial, di dalam agama Islam diajarkan bahwa agar menjaga hubungan dengan agama lain. Rakyat Indonesia harus ingat dalam membangun negara, banyak masyarakat dari Manado, Bali, Medan dan daerah lain yang ikut berjuang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, maka dari itu, harus menghargai sejarah kemerdekaan Indonesia,” tukas Syarifudin.

Acara dialog ini dihadiri sekitar 80 peserta yang berasal dari kalangan organisasi kepemudaan, mahasiswa, siswa, dan budayawan. [DK]

TINGGALKAN BALASAN