Ketika “Falsafah Kebudayaan Pancasila” Menjadi Perbincangan

Bedah Buku "Filsafat Kebudayaan Pancasila" di IAIN Manado, Rabu (3/11). [Foto: Rifai, Semarak News]

Manado,Semarak.news – Rabu, 3 November 2016 lalu, Badan Lapelma dan IAIN Manado  menggelar sebuah even bedah buku di Gedung FTIK, Kawasan IAIN Manado. Buku tersebut berjudul “Falsafah Kebudayaan Pancasila: Nilai dan Kontradiksi Sosialnya” karya Syaiful Arif.  Dimulai pukul  08.00, acara ini dihadiri oleh Ketua PBNU Sulut, Drs.H.Syaba Mauludin dan Budayawan Sulut, Pitres Sambowadile. Narasumber yang hadir antara Direktur Eksekutif LAPELMA, Delmus Puneri Salim dan Syaiful Arif selaku penulis buku dengan dimoderatori oleh Dosen Sosiologi IAIN, Taufiq Bilfaqih, S.Sos, M.Si.

Kegiatan yang dimoderatori oleh Bapak Taufiq Bilfaqih, S.Sos, M.Si  ini dibuka oleh Dekan Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Manado, Dr. Hj. Salma, M.HI. Dalam sambutannya, Dr. Hj. Salma menekankan pentingnya mengkaji kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Oleh karenanya, gagasan-gagasan dalam buku karya Syaiful Arif ini relevan untuk melihat bagaimana makna Pancasila pada saat ini sehingga mahasiswa tidak salah mengartikan apa arti dari Pancasila tersebut.

Selanjutnya narasumber, yakni Syaiful Arif selaku penulis buku ini menyampaikan bahwa gagasan penerbitan buku ini terinspirasi dari pidato Bung Karno yang lebih menyorot ke kajian kebudayaan  tentang falsafah Pancasila. Yakni sebagai nilai normatis dan nilai demokratis. Misalnya dengan melihat permusyawaratan sebagai nilai-nilai yang luhur.

Dalam sesi diskusi, para peserta juga mengungkapkan apresiasi mereka  terhadap buku karya Syaiful Arif ini. Salah satu dari peserta berpendapat  bahwa Pancasila  memuat hakikat kebudayaan  yang bersumber dari nilai-nilai ketuhanan dan bersifat  humanistic. Namun untuk mewujudkannya diperlukan kerja kemanusiaan  dan perjuangan demi tegaknya keadilan dan keadaban manusiawi. Peserta lain berpendapat bahwa mengungkapkan  bahwa Pancasila bukan agama dan kehadirannya tidak bisa menggantikan agama  karena makna ‘ketuhanan’ dalam Pancasila  adalah nilai-nilai ketuhanan universal. ‘Ketuhanan’ dalam Pancasila tidak merujuk pada suatu agama, oleh karenanya tidak boleh ada agama tertentu yang mendikte Pancasila.

Diskusi yang berakhir pada 12. 30 siang ini diakhiri dengan rangkuman dan kesimpulan moderator Taufiq Bilfaqih, S.Sos, M.Si. Materi buku ini berat, oleh karenanya perlu ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami oleh masyarakat yang lebih luas. Dan yang paling penting  adalah bagaimana menggali nilai-nilai Pancasila dengan mengungkapkan contoh-contoh dari kearifan lokal.

[RIF]

 

TINGGALKAN BALASAN