Washiangton DC-Semarak.news. Pertama kalinya dalam sejarah, Mahkamah Agung Amerika Serikat mengabulkan permintaan adanya toilet untuk transgender. Kasus ini terjadi di salah satu sekolah di negara bagian Virginia di mana dewan pimpinan sekolah berusaha untuk melarang siswa transgender untuk menggunakan toilet umum.

Mahkamah Agung telah memutuskan bahwa dewan pimpinan sekolah di Gloucester County terindikasi menyalahi peraturan federal  tentang kebebasan sipil di mana laki-laki yang lahir secara biologis dilarang memakai toilet laki-laki di lingkungan sekolah.

Kasus ini bermula ketika Gavin Grimm yang terlahir perempuan tetapi teridentifikasi sebagai laki-laki ingin menggunakan toilet laki-laki. “Saya tidak pernah mengira bahwa toilet yang pernah saya gunakan kini menjadi perdebatan nasional. Sebetulnya saya hanya menginginkan siperlakukan sama seperti lainnya,” tutur remaja berumur 17 tahun itu.

Kendati demikian, sekolah dari Grimm telah Membuat kebijakan baru di mana siswa berhak menggunakan toilet sesuai dengan jenis kelamin bawaan saat lahir. Hal ini berlaku satu seminggu semenjak sekolah dari Grimm dilaporkan ke pengadilan pada 2014 lalu.

Saat ini Grimm yang notabene seorang laki-laki secara biologis mendapat terapi hormon sebagai usaha untuk menjadi laki-laki normal. Operasi dada pun ia lakukan untuk menjadikannya laki-laki normal.

Hasil survei terkait hak transgender untuk menggunakan toilet sesuai keinginan mereka [Gambar: Pew Reaserach Center]
Hasil survei terkait hak transgender untuk menggunakan toilet sesuai keinginan mereka [Gambar: Pew Reaserach Center]

Kasus lain

Kasus ini pun tidak hanya terjadi di Virginia, yaitu di negara bagian Illinois, tepatnya di William Fremd High School, di Palantine, barat laut Chicago. Kasus ini bermula lima orang transgender dilarang oleh siswa lainnya untuk menggunakan ruang ganti (locker room) yang sama. Pihak sekolah dalam hal ini sudah memberikan alternatif untuk lima siswa tersebut menggunakan locker rim khusus yang terpisah dari siswa secara umum guna menghindari perselisihan.

Namun pada Mei lalu, kelima orang tua mereka membawa hal tersebut ke ranah hukum. Mereka beralasan bahwa sekolah telah melanggar hak privasi siswa transenden untuk memilih serta menggunakan locker room sesuai keinginan mereka.

Sebetulnya hal ini belum diatur secara mendetil dalam konstitusi Amerika. Namun beberapa instansi pendidikan seperti University of Pittsburgh, Arizona State University, dan University of Maine telah menetapkan kebijakan di mana siswa trangender bisa menggunakan toilet sesuai keinginan mereka.

Apabila hal semacam ini dilakukan di Indonesia, hal yang perlu dicermati adalah munculnya resistensi oleh kelompok agama dan budaya. Terlebih kasus LGBT pernah mencuat beberapa waktu lalu. Maka perlu adanya peraturan yang mengatur hal ini secara khusus sebelum kasus “toilet” ini masuk ke Indonesia.

TINGGALKAN BALASAN