Lestarikan Ulos, Uni Eropa Lebih Peduli

Miranda, Manager Eco Texile Hivos (kanan) bersama perwakilan Uni Eropa dan penenun kain Ulos

Medan, Semarak.news –  Sebagai salah satu produk tenun khas Sumatera Utara, kain ulos lebih dilestarikan oleh Uni Eropa dibandingkan pemda Sumut.

Secara turun temurun, ulos telah dikembangkan oleh masyarakat Sumatera Utara dalam bentuk yang beragam. Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, dan Ulos Sibolang

Produk tenun khas indonesia kurang diminati oleh masyarakat lokal termasuk kain ulos. Harganya yang mahal menjadi alasan utama tenun lokal kurang mendapat konsumen di dalam negeri. Mirisnya kenyataan ini ditambah dengan pembiayaan pengembangan tenun khas Indonesia sebagian besar dari luar negeri. Konsumen dari luar negeri lebih berminat untuk membelinya.

“Uni Eropa menyumbang 80 % dana untuk mempertahankan kerajinan khas Indonesia ini. Sedangkan 20% lainnya di danai oleh Hivos yang notabenenya NGO dari Belanda. Seharusnya pemerintah pusat dan daerah sadar akan pentingnya melestarikan kebudayaan kita” kata  Miranda, Manager eco textile Hivos (25/10/2016).

pihaknya bersama organisasi lain telah berupaya mengembangkan beberapa jenis tenun khas Indonesia namun kerap kali terkendala oleh kurangnya pasar dan dukungan dari warga indonesia serta pemerintah.

Mulai dari menggunakan bahan ramah lingkungan hingga keragaman motif telah diupayakan untuk menambah nilai produk. Namun pasar yang berkembang mayoritas dari warga negara asing yang peduli terhadap produk ramah lingkungan. Kalaupun ada konsumen dari dalam negeri, hanya berkisar pada kalangan menengah ke atas.

“Masyarakat Indonesia sering tidak memperhatikan bahan pakaian yang digunakan. Apa manfaat dan kerugiannya, hanya mencari harga murah. Ini produk asli Indonesia, harusnya Indonesia yang mengembangkan dan melestarikannya bukan dari luar” kata Miranda menambahkan

Harga yang tinggi disebabkan karena bahan yang sulit didapat. Jika minat konsumen dalam negeri meningkat, diharapkan biaya produksi semakin murah sehingga harga produk khas Indonesia semakin terjangkau untuk semua kalangan. Edukasi pentingnya produk tenun yang ramah lingkungan dan semangat melestarikannya.

“Kami sangat berharap adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap produk lokal baik melalui edukasi atau lainnya agar karya Indonesia dapat terus lestari hingga generasi penerus lainnya” tambah Marinda. (KUI)

TINGGALKAN BALASAN