Larut dalam Koreografi Praembulum

Salah satu adegan dalam pementasan Praembulum oleh Ingun Bjørnsgaard [sumber: Komunitas Salihara]

Jakarta, Semarak.News – Salihara International Performing-Arts 2016 (SIPFest 2016) kini telah berjalan setengah jalan. Sabtu kemarin tampil penampil ketujuh dari total 14 penampil yang akan meramaikan gelaran SIPFest 2016. Adalah Ingun Bjørnsgaard Prosjekt, kelompok penari asal Norwegia ini mementaskan sebuah koreografi berjudul Praembulum.

Dimulai dengan alunan musik barok dan kontemporer, Praembulum membuat suasana Black Box Theater / Teater Salihara terkesan mistis dan khidmat. Para penari mengolah gerakan tubuhnya sebagai perwujudan bahwa mereka adalah bahan bangunan di sebuah rumah yang belum selesai. Set panggung memperlihatkan bagaimana bangunan rumah yang belum selesai sempurna, sebagaimana terdapat rangka pembatas ruangan, kursi-kursi dan berbagai plastik bening. Setiap gerakan penari memanfaatkan seluruh isi ruangan. Mereka mengisi ruang-ruang tersebut dengan gerakan tubuh yang cepat.

Para penari nampak memperlihatkan adegan-adegan yang sengaja namun terasa seperti tidak sengaja. Mereka duduk, tidur, melompat hingga bertengkar dalam berbagai perjumpaan dengan penari lain. Kostum yang mereka gunakan memancarkan keanggunan di wilayah androginisi antara laki-laki dan perempuan.

Nampak penonton yang memenuhi kursi Teater Salihara sangat khidmat dan larut dalam setiap adegan yang dibawakan. Penari yang begitu luwes dalam mengolah gerakan didukung dengan mimik yang pas membuat penonton fokus untuk mengikuti setiap adegan yang dilakukan.

Koreografi yang disusun secara ketat-cermat oleh kelompok ini memang bertujuan untuk menginvestigasi perbedaan gender dan isu-isu kekuasaan untuk menyingkapkan bagian-bagian paling rentan dalam diri manusia. Hal ini sangat sejalan dengan visi Komunitas Salihara yang ingin mengangkat isu kebebasan berekspresi manusia tanpa memedakan perbedaan gender yang sering menjadi batasan.

Ingun Bjørnsgaard selalu mengembangkan teknik tari kontemporer yang unik dan penuh makna, oleh karenanya mereka meraih berbagai penghargaan sebagai bentuk pengakuan internasional. Kelompok ini menjadi satu-satunya seniman yang dua kali menerima Hadiah Kritik Norwegia. Beberapa karya sebelumnya adalah Omega and the Deer (2011), Rotating Nora (2014) dan Golden Fleece (2016).

Dengan tampilnya kelompok tari ini sudah hampir lengkap jenis pementasan yang hadir di SIPFest 2016. Mulai dari teater, musik, perkusi, dan tari baik dari penampil dalam negeri maupun luar negeri telah bergiliran menghibur para penikmat seni. Terhitung masih ada tujuh penampil lagi hingga penutupan pada 06 November 2016. SIPFest dapat menjadi pilihan anda sebagai sarana rekreasi dan edukasi yang menarik dan berkualitas. [DDK]

TINGGALKAN BALASAN