Dua Belas Tahun Misteri Kematian Munir


Kepada YTH,
Sahabat-sahabat Munir
Di Seluruh Indonesia

Salam Keadilan,
Salam sejahtera untuk kita semua.

Perjuangan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Tidak terasa, 12 tahun sudah saya lewati, berjuang mendapatkan keadilan. Dalam rentang waktu 12 tahun ini, penuh sudah hati saya oleh janji-janji palsu serta kebohongan-kebohongan yang dibuat pemerintah. Bagaimana tidak, dalam rentang 12 tahun ini, dalang pembunuhan suami saya belum juga terungkap. Bahkan, laporan penyelidikan Tim Pencari Fakta Kasus Meninggalnya Munir pun belum kunjung diumumkan kepada publik.

………

Begitulah bunyi sepenggalan dari surat terakhir yang dituliskan oleh istri salah satu legenda yang sampai saat ini kematiannya masih dipenuhi oleh misteri.

Munir Said Thalib, atau lebih akrab kita dengan dengan Munir, nama yang hingga kini masih akrab di telinga kita karena misteri kematiannya pada 7 September 2004 silam. Meninggalnya salah satu tokoh HAM yang sangat berpengaruh ini memang menyisakan tanda tanya besar bagi publik dan para aktivis rekan sepaham Munir yang dengan sungguh menjunjung tinggi dan memperjuangan HAM agar tetap kokoh berdiri tegak di NKRI.

Jika kita telusuri sosok Munir sebelum ia meninggal dan meninggalkan misteri tenggelam bersama kenangan hidupnya, Munir adalah seorang aktivis muslim ekstrim yang kemudian beralih sebagai seseorang yang menjunjung yang tinggi toleransi, nilai-nilai kemanusiaan, anti kekerasan, dan berjuang melawan praktik-praktik otoritarian serta militeristik. Ia dibunuh saat dalam perjalanan pada 6 September 2004 (usia 39 tahun) dalam pesawat menuju Amsterdam untuk melanjutkan studi. Munir merupakan keturunan Arab-Indonesia yang lahir di Malang, 8 Desember 1964. Jabatan terakhir yang ia duduki sebelum meninggal dunia adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsil. Namanya mulai melambung sejak ia menjabat sebagai Dewan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Awal petaka yang dialami Munir tampak sejak sebelum ia berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta menuju Amsterdam menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan penerbangan kelas ekonomi bernomor GA-974 . Menjelang Munir melakukan check-in, 58 dari 60 kamera cctv tiba-tiba dalam keadaan mati. Beberapa waktu sebelum keberangkatan Munir, Pollycarpus berkali-kali menelpon ke rumah Munir untuk menyanyakan apakah Munir jadi berangkat ke Amsterdam menggunakan pesawat Garuda. Dan ketika Suciwati, istri Munir, menjawab bahwa suaminya jadi berangkat, Pollycarpus kemudian diam. Sesampainya di pesawat, Munir berpisah dari rombongan dan bertemu dengan seorang pilot yang berjabat tangan dan memperkenalkan diri.

Sesaat setelah pesawat take off menuju Singapura untuk kemudian transit, di tengah perjalanan, seorang pramugari menawarkan sajian kepada Munir dan ia pun memesan mie goreng dan jus jeruk. Tak lama kemudian, pesawat transit di Bandara Changi, Singapura. “Ketika itu, wajah Munir sangat pucat. Sesungguhnya, saya mau mendekat, tapi Munir sedang berbicara dengan dua orang penumpang yang mau ke Amsterdam”, begitulah kesaksian Ibu Drupadi, seorang penumpang, di pesawat yang sama dengan Munir.

Pasca transit, pesawat kembali mengudara, dan beberapa menit setelah pesawat take off, tubuh Munir mulai bereaksi. Ia mulai muntah-muntah dan beberapa kali keluar masuk toilet. Seorang pramugari melaporkan kejadian tersebut kepada kapten pesawat yang kemudian menanyakan kepada penumpang lain apakah ada yang bisa memberikan bantuan. Seorang penumpang yang mengaku dokter kemudian memeriksa munir dan menyuntikkan injeksi untuk menyembuhkannya. Namun naas, Munir tak terselamatkan dan menghembuskan nafas terakhirnya di ketinggian 40.000 kaki di atas tanah, 3 jam sebelum pesawat sampai di Amsterdam.

Kematian Munir terasa memilukan, terlebih bagi keluarga yang ditinggalkan dan rekan seperjuangannya membela HAM. Tim investigasi menduga bahwa Munir tewas karena keracunan makanan yang telah diberi zat arsenik logam berat yang berada di atas tingkat kewajaran dan mematikan di dalam tubuh Munir. Ditambah lagi, racun arsenik tersebut akan semakin parah jika diberikan injeksi dokter. Racun tersebut dituangkan oleh Pollycarpus Budihari Priyanto, seorang pilot Garuda yang saat itu sedang mengambil cuti.

Kejanggalan-kejanggalan yang ada seakan tersetting oleh pihak tertentu yang merasa bahwa Munir adalah sebuah ancaman. Begitu tertutupnya kasus kematian Munir menyisakan kesan bagi masyarakat awam yang semakin bertumbuh kritis, apakah yang sebenarnya terjadi? Dua belas tahun sudah bayang-bayang kasus kematian Munir belum mendapatkan penuntasan hukum. Sosok penegak nilai-nilai kemanusiaan, penjunjung tinggi HAM, dan pembela rakyat kecil yang tertindas ini justru dihabisi saat ia berjuang demi kepentingan banyak orang. Penuntasan kasus terbunuhnya Munir perlu segera diselesaikan agar memberikan haparan bagi tegaknya keadilan bagi siapapun pelakunya.

TINGGALKAN BALASAN