Berujung Luka…

Berujung Luka…

Gambar: lansadialoca

Kemarin malam, seperti biasa, aku berkumpul dengan beberapa teman. Gak jauh dari tempat kostku. Juga seperti biasa, kami mengobrol dari mulai hal-hal gak penting hingga curahan hati masing-masing. Wajarlah ya.

Waktu terasa begitu cepat saat berkumpul bersama teman, selalu seperti itu.

Namun, cerita salah satu teman perempuanku yang dia sebut “curhat” akhirnya membuatku  engurungkan niat untuk pulang…

Dia bercerita tentang pacarnya. Dia berkata bahwa pacarnya genit kepada  perempuan lain, dia berkata semua lelaki sama saja. Sama gak guys? Hehehe

Dan saat aku tanya “Masalah sebenarnya apa sih, Ca?”

Dia menjawab dengan nada sedikit tinggi, “Iya, kemarin itu aku lagi berdua sama dia. Kayak biasa sih awalnya, kita cuma duduk atau tiduran and doing nothing. Sebelum akhirnya gadget dia bunyi, “bip” gitu suaranya. Dia pura-pura cuek, anjing banget kan. Yaudah aku bawa tuh gadgetnya, aku liat ada pesan masuk dari siapa. Eh tau gak? Pesan itu dari mantannya dong, gak kesel gimana coba? Anehnya  tu pesan baru masuk di BBM pacarku dan gak ada chat sebelumnya sama cewek itu! Tapi si cewek tiba-tiba kirim pesan seolah ngejawab pertanyaan, ya otomatis pasti ada pertanyaan sebelumnya kan? Tapi gak ada chat sebelumnya. Pasti udah dia end-chat, kan?”

Hmm, awalnya aku pikir itu masalah biasa. Sudah umum dan bisa diselesaikan
dengan kepala dingin. Bukan dengan kompor gas ala Bang Indro Warkop…

Lalu, salah satu temanku yang lain ikut berkata; “wah? Boleh aja lu mikir negative kalau memang ada sebab yang jelas, tapi apa sih isi pesan dari cewek itu?”. Sambil sedikit bingung, aku menambahkan  pertanyaan temanku itu dengan, “Nah, bener tuh. Apa isi chatnya? Sama mantan, paling nanya kabar atau sekadar saling sapa. Selama itu gak berlebihan dan gak berlanjut ya gak masalah dong?”.

Teman perempuanku itu langsung menjawab dengan diawali gelengan kepala, “kalian gak ngerti sih posisi aku gimana! Isi chatnya itu si cewek kasih tau bahwa kabar dia baik-baik aja, dia nanya kabar pacarku, dia nanya sekarang pacarku suka diem dimana dan bla bla bla” ucapnya.

“Aku belum selesai ngomong. Dengerin dulu. Pas aku tanya apa maksud cewek itu kirim pesan kayak gitu, pacarku gak mau ngaku, dia malah bilang itu mungkin salah kirim. Anjing banget. Aku langsung banting gadgetnya, aku pukul dia, aku jambak, aku cakar mukanya. Gak terlalu pake tenaga sih, cuma luapan emosi karena aku gak suka banget sama cewek itu” tambahnya.

Aku dengan temanku yang lain langsung terkejut dengan perkataannya. Kok seolah jadi domestic violence, ya? Kalau dalam situasi seperti yang dikisahkan oleh temanku itu, siapa yang salah? Temanku yang menganggap dirinya telah dicurangi dalam hubungan mereka? Atau pacarnya yang mengelak
dan akhirnya mendapatkan kekerasan?

Okay, apa itu ‘Domestic Violence’? Mungkin banyak dari kalian sudah tahu apa artinya. Tapi mungkin untuk yang kurang mengerti, aku akan kasih sedikit penjelasan tentang itu–berdasarkan data dari berbagai sumber yang aku kumpulkan:

Domestic violence atau kekerasan domestik adalah ketika salah satu pasangan dalam sebuah hubungan dari dua pasangan melakukan ‘pelanggaran’ terhadap pasangannya, bisa juga kepada pasangan Suami-Istri dan terhadap anak-anak. ‘Pelanggaran’ yang dimaksud adalah bisa berupa kekerasan fisik (seperti cerita temanku itu), pelecehan seksual (dipaksa melakukan hubungan seks, dsb), hinaan/umpatan atau kombinasi hal-hal itu.

Kekerasan fisik adalah yang paling sering terjadi di dalam sebuah hubungan. Juga melakukan kekerasaan demi memenuhi hasrat seksual salah satunya akibat OA SINDIRAN NAKAL yang salah satu kata mutiaranya adalah “Kalau sayang, temenin aku tidur”, taik! Dan jika salah satu pasangan menolak untuk
berhubungan intim (karena pertimbangannya sendiri dan biasanya terjadi terhadap perempuan) pasangan yang satunya bisa melakukan hal-hal yang cenderung memaksa, semisal bertindak seperti emegang erat kedua tangan pasangannya agar ia sulit bergerak, mendorong dan menampar.

Eh, jangan lupa emotional abuse. Salah satu pasangan terus bertindak seperti menyudutkan pasangannya. Senjata pelecehan emosional itu meliputi penghinaan verbal, ancaman, pengendalian aktivitas pasangan–misalnya;

“kamu jangan maen sama dia, aku gak suka”. Kayak, apa sih anjing? Situ pacar apa bodyguard? Juga menuduh berdasarkan dugaan perselingkuhan, bersikap mengontrol ekonomi pasangannya, dll.

Tergantung pada sebuah hubungan itu sendiri sih, kekerasan fisik atau emosional mungkin yang paling sering terjadi. Either way, setelah ‘cekcok’ dimulai, biasanya akan berlanjut dan makin kacau dari waktu ke waktu. Gak peduli berapa sering kekerasan tersebut terjadi, gak ada yang patut hidup dalam ketakutan dengan episode berikutnya yang masih berlanjut. Mending tinggalkan deh, kalau pasanganmu termasuk dalam kategori diatas dan dia gak mau berubah dengan senjata “Aku emang gini, mau syukur kalau gak juga gak apa”.

Menurut data, perempuan dan anak adalah yang paling sering menjadi korban, kekerasan dalam sebuah hubungan bisa terjadi kapan saja. Tapi bukan berarti lelaki gak pernah jadi korban, ya contohnya pacar dari temanku itu.

Kekerasan dalam sebuah hubungan adalah umum terjadi dalam masyarakat kita. Ini terjadi di semua kelas sosial, kelompok atau etnik, budaya dan agama. Kebanyakan orang gak menyadari bagaimana ini bisa seolah dianggap wajar karena sangat sering korban penganiayaan tetap bersikap tenang. Sekadar mengingatkan, aku akan sedikit memberikan kutipan dari Shahla Khan, lewat karyanya tentang sex education yang juga menyatukan manusia tanpa dibatasi jenis kelamin namun berbasis kekerasan. Shahla menulis kalimat seperti ini, “Make sure your fun is not mocking someone’s pain and your enjoyment is not another’s suffering. The melody of your ears must not be the cries of a powerless”. Dalam buku yang diberi judul, Friends With Benefits: Rethinking Friendship, Dating & Violence.

Ok, kita lupakan Shahla Khan dan kembali ke topik. Kekerasan terhadap pasangan lelaki gak selalu mudah di identifikasi, tetapi tetap dapat menjadi ancaman serius.

Karena aku pikir, pacar dari temanku itulah yang sebenarnya jadi korban–gak peduli alasan apa pun, kekerasan tetaplah kekerasan. Walau kekerasan terhadap lelaki dalam sebuah hubungan mungkin gak mudah dikenali. Kita tetap harus saling mengingatkan, juga jangan lupa berkaca pada diri sendiri agar kita bisa menahan emosi kita saat berada di situasi macam yang terjadi pada temanku itu.

Seperti biasa. Pada awal hubungan, kedua pasangan mungkin tampak penuh perhatian satu sama lain dan saling melindungi–namun di kemudian hari berubah menjadi mengendalikan dan menakutkan. Awalnya, pengendalian terhadap pasangannya mungkin diawali dari hal kecil yang dianggap biasa, sebelum akhirnya makin menjadi karena pasangannya terlihat gak keberatan (yang sebenarnya canggung atau takut untuk berkata tentang keluhannya). Pasangan kamu mungkin meminta maaf dan berjanji untuk gak melakukan kekerasan lagi. Tapi selanjutnya, hal itu terjadi lagi, permintaan maaf lagi, terjadi lagi. Siklus yang diabadikan oleh pasangan yang bersifat agresif dan menganggap pasangannya adalah objek kepemilikan “hanya untukku”.

Kamu mungkin mengalami kekerasan dalam sebuah hubungan jika pasangan kamu melakukan hal-hal dibawah ini:

  • -Menghinamu atau merendahkanmu karena merasa derajat dirinya lebih tinggi.
  • -Mencegah kamu untuk melakukan aktivitas penting demi waktu ‘berduaan’.
  • -Upaya untuk mengendalikan keuanganmu, juga selalu menentukan sesuatu atau memberitahu pakaian apa yang harus kamu kenakan.
  • -Cemburu berlebihan atau posesif dan terus menuduhmu.
  • -Sering mengancammu.
  • -Menampar, memukul, merusak barangmu, dsb.
  • -Memaksa berhubungan seks atas kehendaknya sendiri.
  • -Mencari kesalahanmu yang sudah terjadi jauh dibelakang saat dia melakukan kesalahan.

Domestic violence dapat meninggalkan rasa trauma. Kamu mungkin lebih cenderung untuk penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan atau melampiaskannya dengan berhubungan seks acak (gak safe sex) dengan orang lain.

Seperti pemikiran tradisional, lelaki dianggap lebih kuat daripada perempuan, seorang korban lelaki lebih mungkin mengurungkan niat untuk melaporkan kekerasan dalam sebuah hubungan karena malu. Untuk lelaki yang menjadi korban kekerasan oleh perempuan, kamu juga mungkin khawatir dan enggan untuk melaporkannya karena pemikiran tradisional masyarakat yang melekat yaitu; Lelaki harus kuat dan selalu sabar menghadapi Perempuan. Dan mungkin kamu takut akan ejekan teman-temanmu yang akan menganggap kamu cengeng jika kamu melaporkan kekerasan itu.

Mulailah bicarakan hal itu dengan orang terdekat–teman yang kamu percaya atau kerabat. Mungkin kamu sedikit canggung saat lelaki menceritakan keluh kesahnya terhadap sikap pasangannya yang menyakiti fisik juga mentalnya. Tapi gak perlu berpikiran seperti itu, kamu punya hak untuk itu. Lakukan.

Untuk perempuan, sikap seperti itu bukanlah yang kalian sebut sebagai emansipasi. Untuk lelaki, berhenti menganggap perempuan yang menjadi pasanganmu adalah hak milik bagimu seorang–dia punya urusannya sendiri, dia punya kepentingan lain selain mengurusi dirimu. Juga yang paling utama, jangan pertontonkan pertengkaran di depan anak. Apalagi hingga membuat anak itu turut menjadi korban, mohon laporkan jika ada kejadian seperti itu.

Hentikan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan mau pun lelaki yang dilakukan oleh pasangannya; Toxic Masculinity, Sexual Assault, Sexual Agression, Fatherhood, Mental Health, hingga yang paling sering terjadi, Domestic Violence. Mari sebarkan pengetahuan dan edukasi!

Sebelum malam semakin larut saat itu, aku berkata kepada teman perempuanku beberapa saat sebelum aku pulang… “Aku pernah baca buku karya LeeAnn Whitaker, yang judulnya “Never Another You”. Mungkin susah tahan emosi tapi kekerasan bukan jawaban, dan di buku itu ditulis… ‘Love don’t make you bruise’. Ok? Aku pulang duluan”.

Lalu perkumpulan malam itu berakhir…

1 KOMENTAR

  1. Indah sekali, bagaimana cerita ini menuangkan apa yang perlu diketahui pemuda-pemudi yang lagi senang menyesap candu cinta muda. Saya sudah jatuh cinta pada cerita ini sejak kali pertama saya membacanya. Sayangnya…

    penulis cerita ini bukan Anda. Pengunggah bolehlah, tapi yang menulis cerita ini dari nol bukan Anda. Saya kenal penulis cerita ini, namanya Randy. Ia pertama kali mempublikasikan cerita ini di linimasa media sosial LINE, saya termasuk likers paling awal.

    Sampai ceritanya selesai kok saya tidak menemukan credit bagi Randy ya? Apakah Randy sudah setuju Anda publikasikan ceritanya di sini atas nama Anda?

    🙂

TINGGALKAN BALASAN