Memperkuat Ikatan Kekeluargaan Perisai Diri Lewat South Jakarta Fighting Champion

Pertandingan serang hindar dalam South Jakarta Fighting Champion [sumber: dimasdk]

Jakarta, Semarak.News – Perisai Diri merupakan salah satu bela diri pencak silat yang lahir dan berkembang di Indonesia. Didirikan oleh pendekar besar yang bernama Pak Dirdjo pada tanggal 2 Juli 1955 di Surabaya, kini Perisai Diri telah berkembang pesat di seluruh Indonesia. Dengan nama organisasi Keluarga Silat Nasional Perisai Diri atau biasa disebut dengan Kelatnas Perisai Diri ini merupakan organisasi dibawah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), dan berinduk langsung dengan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia).

Ciri khas dari salah satu aliran silat yang ada di Indonesia ini adalah rasa kekeluargaan yang sangat kental antar anggotanya. Seringkali diadakan acara-acara guna meningkatkan tali persaudaraan antar anggota Perisai Diri, baik acara sarasehan maupun turnamen-turnamen. Kemarin tanggal 08 dan 09 Oktober 2016, diselenggarakan South Jakarta Fighting Champion sebagai bentuk ajang silaturahmi padepokan-padepokan Perisai Diri yang ada di wilayah Jabodetabek.

Turnamen ini diikuti sekitar 200 orang peserta, berasal dari berbagai padepokan yang ada di Jabodetabek. Padepokan Perisai Diri Gandul menjadi tuan rumah dalam acara ini. Dari pagi hingga sore, nampak padepokan ini ramai akan pesilat-pesilat Perisai Diri yang mengikuti turnamen maupun pendukung dan official. Kabupaten Tangerang, UIN, Porsoeta, SMA 78 Jakarta dan berbagai padepokan lain yang ada di wilayah Jabodetabek menjadi peserta dalam ajang ini.

Lomba yang diadakan terdiri 4 jenis, yakni lomba tunggal dimana pesilat menampilkan ketrampilan bermain senjata, lomba beregu yaitu menampilkan kekompakan dalam melakukan gerakan secara bersama-sama baik menggunakan senjata maupun tidak, serang hindar dimana memberikan kesempatan pesilat untuk bergantian menghindar dan menyerang, dan fight yaitu pertarungan antar dua orang pesilat sesuai aturan yang disepakati. Lomba pun disesuaikan dengan kelas para peserta yang ditentukan dari umur dan berat badan.

Masing-masing peserta baik pesilat putra maupun putri nampak menampilkan kemampuan terbaiknya untuk meraih medali. Tidak sedikit pula yang memperoleh “kenang-kenangan”  berupa memar-memar, dan lain sebagainya. Namun, hal itu tidak menjadi suatu hambatan bagi para pesilat untuk tetap bertanding. Hal itu menjadi suatu hal yang biasa, dan bukan menjadikan suatu masalah karena acara ini bertujuan untuk mempererat rasa kekeluargaan antar anggota, “ya nggak masalah, disini kan kita keluarga, luka-luka itu udah biasa”, ujar Aqilla salah satu peserta turnamen.

Selama dua hari penuh pertandingan, akhirnya kontingen UIN berhasil memperoleh predikat Juara Umum dalam ajang tersebut. [DDK]

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN