Total Perkusi Membuka Sesi Percusound SIPFest 2016

Standing applause penonton terhadap penampilan Total Perkusi [sumber: dimasdk]

Jakarta, Semarak.News – Helatan Salihara International Performing-Arts 2016 minggu ini menjadi kesempatan kelompok-kelompok perkusi untuk tampil. Dengan tajuk Percusound, Total Perkusi menjadi kelompok perkusi pertama yang tampil di Teater Salihara. Menurut jadwal, pementasan kelompok perkusi pribumi akan secara bergantian menampilkan kualitas musikalnya pada hari Sabtu, Minggu  dan Selasa malam. Total Perkusi yang pada hari Jumat kemarin melakukan lokakarya, melakukan pementasan pada Sabtu malam kemarin.

Teater Salihara nampak penuh saat pementasan malam tadi. Beragam kalangan nampak antusias menyaksikan penampilan kelompok perkusi ini. Kelompok yang berdiri sejak 2013 ini beranggotakan seniman-seniman asal kota Yogyakarta. Namun sayang karena luas ruang Teater Salihara yang tidak mencukupi, Total Perkusi tidak membawakan full set sebagaimana pementasan mereka biasanya. Meskipun demikian terdapat lebih dari 17 instrumen yang mereka mainkan, baik yang konvensional seperti marimba, hingga instrumen-instrumen yang tidak biasa seperti bilah bambu, velg mobil, dan lain-lain.

Pada pementasannya kemarin, Total Perkusi membawakan 10 karya baik karya mereka sendiri maupun seniman kontemporer perkusi lainnya. Tidak hanya memainkan secara ansambel, namun setidaknya terdapat dua kali penampilan Total Perkusi yang menampilkan kemampuan mereka dalam bermain solo. Gaya dan format komposisi yang ditampilkan juga berbeda-beda. Mulai dari repertoar bergaya klasik, elektro akustik hingga gaya marching band; mulai dari teknik permainan yang sederhana hingga yang rumit dan kompleks. Penampilan kemarin memperlihatkan pertunjukan yang sarat akan kematangan ide, format, teknik dan cara permainan musik perkusi terkini.

Nampak jelas musikalitas musik perkusi dari kelompok ansambel ini berasala dari khazanah tradisi dan kehidupan sehari-hari, musikalitas dengan bentuk dan gaya yang lebih bebas. Terdapat permainan yang berpola ritme repetitif, ada pula yang hanya menggunakan bilah bambu sebagai elemen bunyi. Namun, pada dasarnya “warna Nusantara” sangat terasa pada permainan Total Perkusi yang sangat berkualitas.

Setelah membawakan sepuluh lagu dengan sangat memukau, penonton pun memberi standing applause terhadap penampilan Total Perkusi. Bahkan Total Perkusi pun kembali diminta untuk memberikan satu lagu lagi sebagai penutup pementasan malam itu. Dengan perasaan sumringah, mereka pun mengiyakan keinginan penonton untuk memainkan satu lagu tambahan. Nampak penonton pun lebih bersemangat lagi karena permintaannya dipenuhi. Antusiasme tersebut menandakan kesuksesan Total Perkusi dalam pementasannya kemarin. Hal itu membuat penonton penasaran akan penampilan-penampilan kelompok perkusi lainnya seperti Al. Suwardi dan Grup Planet Harmonik dan Iwan Gunawan & Ensemble Kyai Fatahillah. [DDK]

TINGGALKAN BALASAN