GMNI FISIP UNAIR Gelar Pemutaran dan Diskusi Film ‘Pulau Buru Tanah Air Mata Beta’

Kegiatan pemutaran dan diskusi film oleh GMNI

Surabaya, Semarak.news – GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) FISIP UNAIR kali berkesempatan menggelar pemutaran dan diskusi film berjudul ‘Pulau Buru Tanah Air Mata Beta’ yang berlangsung pada minggu malam (2/10) di kantin FISIP UNAIR, Jalan Dharmawangsa Dalam, Gubeng, Kota Surabaya.

Film yang berdurasi 48 menit ini menceritakan sebuah desa yang ditinggali para sisa tapol (tawanan politik) dari rejim orde baru dan tidak dapat kembali ke kampung halaman karena mendapat diskriminasi masyarakat dengan stigma bahwa PKI adalah tabu padahal ketakutan latensi tersebut kini dirasakan tidak mendasar, bagaimana wujud PKI dengan komunismenya tidak menjelma dalam bentuk nyata. Bermula dari tahun 1969-1976 banyak klaim simpatisan bahwa PKI perlu diadili melalui cara pengasingan ke pulau buru lewat pantai salenko. Pemaksaan terhadap tapol dengan cara mempekerjakan mereka dan menyiksa jika tidak sesuai ekspetasi. Sehingga muncul anggapan bahwa monumen gedung peninggalan tidak dapat dibuang karena sebagai bukti sejarah penindasan. Terlebih ketika legitimasi pancasila merupakan cara pembenaran dari segala perilaku pelanggar HAM sehingga esensial falsafah bangsa ini kurang dapat dirasakan secara implementasinya.

Selesai pemutaran, kegiatan diskusi berlangsung dipimpin oleh Rico Pahlawan selaku moderator yang menghasilkan kesepakatan bahwa para peserta diskusi memihak kepada bentuk kemanusiaan yang perlu dipertanggungjawabkan oleh pihak yang terlibat. Rekognisi kehidupan korban agar memiliki kebebasan hidup yang setara serta rekonsiliasi pemerintah menjadi sebuah titik balik ketika negara mampu hadir dan mengakomodir keresahan masyarakat.

“Melalui kegiatan diskusi ini, menjadikan kader-kader GMNI semakin kritis dan peka terhadap lingkungan sekitar, dan memang film pulau buru ini sedikit kontroversial, karena sudah sering pemutaran film buru yang dibatalkan oleh aparat dan preman” ujar Fajar Cahyadi selaku Ketua Penyelenggara kegiatan.

Saat kegiatan berlangsung terdapat aparat yang tidak berseragam mendatangi kegiatan tersebut sebagai bentuk pengaman kegiatan. (RAP)

TINGGALKAN BALASAN