Pelatihan Lintas Agama “Ingage” Selesai

Penutupan INGAGE

Manado, Semarak.news – Kegiatan pelatihan lintas agama “Interfaith New Generation Initiative and Engagement” yang dilaksanakan di Kota Manado akhirnya telah selesai. 7 hari lamanya, 30 orang peserta pilihan dari seantero Provinsi Sulawesi Utara dilatih untuk menjadi agen-agen perubahan yang bergerak untuk meningkatkan kerukunan umat beragama di Sulut.

Koordinator kegiatan INGAGE, Leonard C. Eprafas mengungkapkan bahwa dirinya dan tim panitia hanya akan mengantarkan sampai akhir dari kegiatan pelatihan, karena untuk kedepannya, para peserta sendiri yang akan menentukan kegiatan mereka nantinya. “Tugas kami disini hanya sampai kegiatan ini selesai dan untuk kegiatan selanjutnya biar peserta sendiri yang akan menyusun kegiatan-kegiatan yang akan mereka lakukan” ungkap Leonard kepada tim SemarakNews pada acara penutupan kegiatan pelatihan.

SemarakNews mendapatkan kehormatan untuk menjadi observer dalam kegiatan tersebut, untuk itu inilah rangkaian kegiatan yang dijalani peserta dari hari pertama hingga hari terakhir:

823b8914-34c0-4bdc-b694-a48b8ce8bf3a

Foto Bersama Peserta, Panitia dengan Tokoh-Tokoh Agama Di Provinsi Sulawesi Utara

Pada kegiatan pembukaan para peserta mendapatkan dorongan motivasi dari tokoh-tokoh agama setempat. Dalam sambutannya para tokoh mengharapkan hasil yang positif dari adanya kegiatan tersebut.

 img_20160922_142115-1Para Peserta Berkenalan Satu Sama Lain

 Para peserta melaksanankan kegiatan perkenalan dengan cara yang unik. Mereka menyebutkan namanya masing-masing dan diikuti dengan kata yang memilik huruf awalan yang sama dengan nama aslinya, seperti “Fajar Fearless!”.

 

whatsapp-image-2016-09-29-at-7-15-29-pm

Selama kegiatan, peserta diberikan materi dari narasumber yang sangat menguasi bidangnya, seperti, Leonard C. Epafras, Alviana Permata dan Al-Makin. Adapun materi yang diperoleh oleh peserta antara lain tentang Hak Asasi Manusia, Dunia Digital dan Media Sosial, Agama-agama di Indonesia, Kemerdekaan dan Kesetaraan, Internet Sehat, Kovenan, Keberagaman dan Perbedaan, Sharing Blogger dan /atau Jurnalis, Membangun Komunitas Digital, serta tidak kalah pentingnya pada saat akhir peserta melakukan Live-in dan penulisan jurnal.

 

asfwq afwfwfwfwfw img_20160925_105503

Peserta mengunjungi rumah ibadah

Selama kegiatan para peserta juga mengunjungi rumah ibadah antara lain, Masjid Miftahul Jannah, Gereja GMIM Sola Gracia, Pura Danu Mnadara, Vihara Dhammadipa, dan Bukit Doa Mahawu.

 

img_20160926_133420 img_20160926_135244

Peserta Non-Muslim mengunjungi Kampus IAIN

Disela-sela waktu pelaksanaan live in para peserta yang beragama non-muslim mengunjungi kampus IAIN Manado untuk sharing pengetahuan terkait agama masing-masing dengan mahasiswa muslim, hal tersebut mendapatkan respon yang positif dari mahasiswa/i IAIN.

img_20160926_190437

Salah satu orang tua angkat peserta ketika Live in

Tim Semaraknews berkesempatan untuk menemui salah satu orang tua angkat peserta live in yang beragama nasrani di daerah Tuminting. Ketika ditemui, beliau mengatakan bahwa kegiatan semacam ini adalah kegiatan yang positif untuk generasi muda dapat belajar toleransi dari saling mengenali agama satu sama lain.

“Mereka yang menilai kegiatan ini sebagai kegiatan kristenisasi atau peleburan agama adalah salah paham akibat kekeliruan fanatis belaka” tandasnya.

“Suatu saat saya pernah meminta untuk Komandan Kodim untuk merubah salah satu slogan yang ada di Kodim dari “Indahnya Kebersamaan” menjadi “Indahnya Kebersamaan, Dalam Perbedaan”” tambah Ustad kedpada tim semaraknews.

Salah satu peserta INGAGE yang beragama Hindhu, Diah, mengungkapkan bahwa pengalaman tinggal di rumah dengan keluarga yang berbeda keyakinan dengannya merupakan hal yang menyenangkan.

“Saya merasa nyaman dengan keluarga baru yang saya dapatkan, karena walaupun mereka berbeda agama dengan saya, mereka tetap dapat menerima perbedaan antara saya dengan mereka” cerita Diah.

whatsapp-image-2016-09-29-at-11-23-08-am

Tim INGAGE ketika siaran di RRI Manado

Pada 28 September 2016, tim INGAGE mendapat kesempatan untuk siaran di RRI Manado dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Masyarakat memberikan respon positif terkait kegiatan ini, seperti yang disampaikan oleh salah satu penelpon dari Minahasa Selatan, Niko, yang memberi apresiasi tinggi pada kegiatan INGAGE.

“Anak muda yang mengikuti kegiatan INGAGE sangat luar biasa dan menjadi harapan di masa depan. Dengan melihat fenomena di Jakarta saat ini yang diperkirakan dapat menimbulkan isu SARA nasional.” Seperti yang dikutip dari siaran RRI Sulawesi Utara.

Akhirnya, pada tanggal 29 September 2016, acara INGAGE pun berakhir. Para peserta telah melewati segala rangkaian acara yang ditujukan menjadikan mereka sebagai agen perubahan, khususnya dalam toleransi antar umat beragama.

Semoga para peserta dapat memenuhi harapan dari penyelenggara dan masyarakat untuk membawa perubahan yang positif di Provinsi Sulawesi Utara. (AY)

 

TINGGALKAN BALASAN