Mesir, Semarak.news. Berdebatan tes keperawanan menyulut semua lapisan masyarakat Mesir. Seakan mengeruk duka lama. Lima tahun lalu, tepatnya pada Maret 2011, dimana tentara menahan 19 wanita atas demonstrasi di Alun-alun Tahrir, Kairo. Kemudian secara paksa dilakukan tes keperawanan. Mesri pun menggunakan praktik sunat perempuan pun untuk menyeimbangkan angka kemandulan laki-

Baru-baru ini, Jumat (30/9) terdapat wacana baru di mana “setiap perempuan yang kuliah harus menyertakan dokumen resmi yang menyatakan bahwa dirinya masih perawan.” Tutur  anggota parlemen Mesir, Ilhami Agena kepada koran Al-Masry Al-Youm.

[Foto: Lona Tarek/AP]
Anggota parlemen Mesir Ilhami Agena (kiri) saat menyampaikan program tes keperawanan bagi setiap perempuan yang akan masuk kulaih. [Foto: Lona Tarek/AP]

Alibinya tes ini adalah untuk mengurangi “zawaj urfi” (nikah siri dalam budaya Indonesia) yang kian lama angkanya semakin menanjak. Adapaun zawaj urfi tidak memerlukan persetujuan dan restu dari kedua mempelai dan hanya memerlukan dua orang sebagai saksi. Pernikahan ini pun tidak tercatat ke dalam akta nikah.

Mayoritas pelaku zawaj urfi adalah pasangan muda-mudi yang tidak memiliki cukup modal untuk melangsungkan acara pernikahan. “Tidak akan ada yang meragukan keputusan ini. Jika Anda ragu, mungkin Anda tahu bahwa anak Anda adalah pelaku dari ‘zawaj urfi’.” Tambah Agena.

Di satu sisi, pemberitaan tersebut menyulut komentar netizen di sejumlah media massa dan dimotori oleh feminis Mesir, Mona Elthawy dan seorang wartawan, Jacky Habib.

aasasasasa
Tokoh feminis Mesir Mona Elthawy (kiri) dan jurnalis Jacky Habib yang menentang tes keperawanan bagi perempuan Mesir yang akan masuk ke universitas.

Beranjak dari tekanan, para politisi terkesan melemah. “Saya tidak membuat suatu keharusan, saya hanya menawarkan saran.” Bahkan Agena pun dikecam dan diserang karena pernyataan yang yang diberikan.

Baru-baru ini, Agena pun memberikan pernyataan yang kontroversial. Ia menyarankan pada perempuan Mesin untuk melakukan sunat sebagai tameng pelecehan seksual dari laki-laki Mesir yang beriman lemah. “Jika mereka tidak disunat, maka berahi meraka tak terkendali, dan memicu pada perceraian.”

Zawaj Urfi

Merujuk pada The Marriage Contract Ni Islamic Law in the Sharia’ah and Personal Status Laws of Egypt and Morocco, Zawaj urfimemiliki makna yang tidak jauh dengan pernikahan adat. Namun budaya nikah urfi di Mesir kontra dengan budaya Islam. Suatu pernikahan bisa dianggap sah apabila lima rukun dari pernikahan dicukupi. Lima rukun tersebut adalah mahar yang disepakati, dua orang saksi yang adil, wali (terutama wali dari pihak perempuan), hadirnya mempelai laki-laki dan perempuan.

Fakta zawaj urfi dilapangan terjadi karena desakan suka-sama-suka. Hanya dengan menghadirkan calon mempelai dan dua orang saksi, ijab qabul sudah dianggap sah. Parahnya pernikahan tersebut tidak tidak didaftarkan dalam departemen agama setempat. Padahal kedepannya akan merugikan pihak perempuan.

Apabila dilihat dari sudut pandang Islam mengingat Islam di Mesir adalah agama mayoritas, maka zawaj urfi merupakan perbuatan dosa dan dilarang. Pada tataran sosio-kultural, hal ini menjadi suatu tren karena bisa dibilang rahasia, singkat, dan menguntungkan, meskipun ini adalah tindakan zina atau kumpul kebo. Hal ini juga sama seperti nikah siri di Indonesia yang tidak tercatat secara sah, hanya saja, nikah siri sah menurut agama, tetapi tidak secara hukum. Nikah urfi tidak sah secara agama karena absennya wali (restu orang tua) dan tidak tercatat.

Tes Keperawanan

Secara umum definisi keperawanan/keperjakaan bisa diartikan di mana secara fisik tidak pernah melakukan hubungan seksual. Namun hal ini bervariasi tergantung dari sudut mana hal tersebut dipandang. Diberbagai budaya di dunia, khususnya negara timur, terbilang tabu apabila seorang perempuan belum menikah, tetapi sudah tidak perawan.

Pelaksanaan tes keperawanan pun beragam, tetapi bertujuan satu, untuk mengetahui apakah perempuan tersebut masih perawan atau tidak. Secara umum, tes ini berfokus pada hymen (selaput darah) wanita. Pengecekan bisa dilakukan oleh dokter, wanita dewa, atau siapa pun yang dipercaya (dituakan). Pengecekan meliputi keadaan selaput darah, memasukkan dua jari ke dalam vagina untuk mengetahui kelenturan otot vagina yang dijadikan asumsi bagaimana kebiasaan seks dari perempuan yang diperiksa, dsb.

Berikut adalah beberapa cara untuk mengetes keperawanan di berbagai dunia

  1. India, tes yang dilakukan adalah kukari ki asam (menggunakan benang untuk mengetahui adanya hymen), paani Ii deej (perempuan menahan nafas dalam air hingga seseorang berjalan 100 langkah, dan agnipariksha (pengecekan keperawanan dengan melewati bara api).

  2. Afrika Selatan, melihat keperawan/keperjakaan bisa ditentukan dari kepolosan mata, kekencangan otot di belakang lutut, dan menegangnya payudara.

  3. Indonesia dan mayoritas negara di dunia menggunakan cara memasukkan dua jari ke vagina untuk melihat selaput darah.

Adanya tes keperawanan pastinya dilandasi oleh suatu alasan. Berbagai institusi pemerintahan di Indonesia mewajibkan untuk melakukan tes keperawanan tanpa alasan yang jelas. Banyak yang menganggap tes keperawanan hanyalah suatu trik untuk “melecehkan” perempuan secara “halus”. India dan Turki dalam kaitannya, memiliki latar belakang budaya di mana keperawanan pada perempuan masih dijunjung tinggi sebagai simbol derajat perempuan dan keluarga.

Selain budaya ada alasan lain hadirnya pengecekan keperawanan, yakni kesehatan. Pemerintah Provinsi Zulu, Afrika Selatan, melegalkan pengecekan keperawanan di lingkup pendidikan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Kemudian di Mesir yang notabene masih menjadi negara bergejolak, memang menjadi suatu kontroversi. Padahal salah satu tujuan dari adanya pemeriksaan tersebut adalah untuk mengurangi angka pernikahan ilegal.

TINGGALKAN BALASAN