Hasil Referendum Kolombia: Rakyat Tolak Perjanjian Damai dengan FARC

Presiden Juan Manuel Santos menggaungkan "ya" untuk perdamaian dengan Pemberontak FARC [washingtonpost.com]

Bogota, Semarak.news – Referendum yang digelar Minggu, (2/10/2016) kemarin, menuai hasil yang sangat mengejutkan.

Hasil tersebut membahayakan kesepakatan damai antara Pemerintah Kolombia dengan Pemberontak FARC yang sudah dicapai Rabu (26/9/16) lalu.

Seperti dilansir Al-jazeera, lebih dari 99 persen rakyat Kolombia yang menggunakan hak pilihnya, sebanyak 50,2% memilih menolak perjanjian perdamaian, sementara 49,8% pemilih setuju. Hasil tersebut terpaut selisih 60.000 suara.

Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos menyikapi hasil referendum yang mengejutkan dengan sikap optimis bahwa damai akan terjadi. “saya tidak akan menyerah. Saya akan berusaha mewujudkan perdamaian sampai dengan akhir jabatan saya sebagai presiden” ungkapnya.

“Gencatan senjata akan tetap berlaku dan harus terus berlaku,” tambahnya.

Presiden Santos juga mengungkapkan, “kita harus mengakhiri 52-tahun peperangan dan membuka jalan bagi perdamaian untuk masa depan kita dan masa depan generasi penerus Kolombia yang lebih baik”.

Selanjutnya, delegasi pemerintah Kolombia akan kembali bertandang ke Kuba, untuk berkonsultasi dengan pimpinan FARC.

Pimpinan FARC, Rodrigo Londono mengatakan “kami (FARC) akan mempertahankan situasi damai meskipun hasil referendum diluar dugaan”.

Sebalumnya, Mantan Presiden Kolombia, Alvaro Uribe memimpin kampanye “tidak” dalam referendum. Uribe menyatakan bahwa pemberontak harus membayar untuk kejahatan yang mereka lakukan dipenjara dan tidak untuk diberi kursi parlemen.

Rakyat Sipil Kolombia, Alejandro Jaramillo (35) mengatakan, “saya memilih tidak, karena saya tidak ingin mengajar anak-anak saya bahwa segala sesuatu dapat diampuni”.

“Saya sangat marah apabila para pemberontak tidak mendapatkan hukuman atas apa yang mereka lakukan” tambahnya.

Selama 52 tahun perang antara pasukan pemerintah dan pemberontak FARC, sekitar 220.000 orang tewas dan 8 juta lainnya terpaksa mengungsi. Selain FARC, faksi bersenjata yang ada di Kolombia lainnya yaitu Tentara Pembebasan Nasional (ELN) yang dibentuk pada 1964. (Wah).

TINGGALKAN BALASAN