Diet Ekstrim Ala Bulimia, Sehat Atau Tidak ?

Semarak.news – Memiliki tubuh ideal adalah impian bagi banyak orang. Tidak hanya terbentuknya otot yang proporsional untuk pria, wanita juga ingin bentuk tubuh yang indah. Ada banyak cara memperoleh penampilan yang diharapkan. Terlebih apabila berbagai cara ekstrim dilakukan demi mempersingkat waktu, misalnya diet.Sebenarnya tidak ada salahnya untuk ber-diet terutama bila masih dalam batas wajar. Tetapi perlu diwaspadai jika terdapat kerabat dekat ataupun orang-orang sekitar yang dirasa sedang mengalaminya. Karena diet semacam ini tidak hanya kurang dalam segi kesehatan tetapi dapat merusak beberapa fungsi organ tubuh. Biasanya metode diet ekstrim dilakukan oleh para penderita Bulimia Nervosa.

Bulimia adalah kelainan pola makan yang terbentuk dari kebiasaan makan berlebihan (binge eating) yang terjadi secara terus menerus dan sering terjadi pada wanita. Pengidap bulimia menjaga ketat berat badannya dengan membuat dirinya muntah, disebut pembersihan atau purging. Dengan melakukan puasa (tidak makan sama sekali atau dalam jumlah kecil), serta penggunaan laksatif, enema, diuretik, dan olahraga yang berlebihan. Mengeluarkan makanan secara paksa dilakukan sebagai aksi mengurangi rasa bersalah setelah binge. Sehingga makanan belum sempat terserap oleh tubuh.

Perilaku bulimia hampir mirip dengan Anoreksia Nervosa, bedanya adalah anoreksia memiliki ketakutan terhadap berat badan. Anoreksia terlihat lebih kurus dibanding penderita bulimia yang hanya menginginkan berat badan ideal.

Dikutip dari Medical News Today, Senin (3/9), Bulimia berdampak buruk bagi kesehatan yang ditandai dengan bengkak di wajah (di bawah pipi, sialadenosis), pecah pembuluh darah di mata, erosi enamel dan kerusakan gigi, kerusakan esofagus, dan pendarahan internal. Perbedaan lainnya terlihat dari psikologis penderita. Anoreksia cenderung merasa tertekan saat makan sedangkan penderita bulimia akan makan dalam jumlah besar saat merasa tertekan.

Motivasi dari orang-orang sekitar bagi pengidap bulimia maupun anoreksia sangat dibutuhkan. Terlebih kepedulian semacam ini hanya perlu ditunjukkan dengan cara menghargai sesama dan memberikan ruang bagi seseorang untuk meluapkan ekspresinya agar tidak mudah terperangkap dalam beban mental dan depresi berlarut. (Ff)

TINGGALKAN BALASAN